Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
36. Sebaiknya Tidak Datang


__ADS_3

"Bocah, kamu ingin ke mana?!"


Yujerian menyambar sarung tangannya dan bergegas lari. "Menyusul Yuui. Aniki, tolong urus sisanya!"


Anak itu tidak tahu cara menahan diri, jadi Yujerian harus mengawasinya atau dia berbuat hal menakutkan pada orang asing.


Tidak lucu kalau adiknya bertengkar dengan orang dewasa gara-gara dia menggigit putus tangan orang.


"Yuve!"


Gamabunta datang tergopoh-gopoh. "Yuuki, kocchi!" [Yuuki, di sini.]


Yujerian langsung mengikutinya, menemukan Yuveria tengah menenteng senter bersama Hinatsuru sambil terus bergumam 'Paman' dengan wajah menakutkan.


Kumat lagi dia.


"Yuve!"


Adiknya menoleh. "Yuje-nii! Pria itu kabur lagi! Bantu Yuve mencarinya!"


Bukannya berkata iya, Yujerian datang, memukul pelan puncak kepala adiknya dan Hinatsuru.


"Mattaku. Kalian hanya membuat khawatir. Bahkan kalau dia pria jahat, bukankah seharusnya kalian tidak berlarian langsung mengejarnya? Bagaimana kalau kalian dibawa pergi? Kalian ingin dijual ke pria mesum di kota?"


Wajah keduanya pucat.


"I-itu salah Yuui!" Hinatsuru menunjuk Yuveria. "Yuui langsung mengejarnya begitu saja!"


"Kamu juga mengejarnya!"

__ADS_1


"Karena kamu mengejarnya!"


"Aku dan pria itu pernah bicara!"


"Aku juga!"


Yujerian menghela napas frustrasi. Kenapa pula malah mereka bertengkar?


"Sudahlah, ayo kembali. Akan kubelikan yakisoba jadi kalian jangan bertengkar."


Ketiganya bersorak.


Yujerian menyuruh mereka berjalan bergandengan agar tidak saling lepas. Kembali masuk ke kerumunan untuk membeli yakisoba panas bersama.


Diam-diam Yujerian menoleh ke sekitar.


"Hina, di mana kita bisa menemui orang penting yang katamu akan datang?"


Hinatsuru menunjuk ke sebuah arah dengan tangan kecilnya, di mana Kitamura berdiri dengan sejumlah orang-orang berwajah asing.


Maksud Yujerian asing, adalah karena wajah mereka tidak menggambarkan mereka orang Jepang.


"Yuve, aku akan menanyakan Haha-ue pada Oji-ue dulu. Duduk di sini."


"Baik."


Dia tidak protes karena masih bisa melihatnya.


Segera Yujerian mendatangi kepala desa, sebenarnya berniat melihat apakah ada ayahnya di sana. Namun tidak ada yang ia lihat. Hanya ada dua pria tampan yang bukan ayahnya dan tidak ia kenali.

__ADS_1


"Oji-ue."


Kitamura menoleh. "O, Yuuki. Paman melihat permainanmu tadi. Sangat mengagumkan."


"Terima kasih, Oji-ue. Daripada itu, Oji-ue melihat Haha-ue?"


"Hestia, kah?" Pria besar yang menjawab, sambil tersenyum ramah padanya. "Kozo, kamu bisa bahasa Indonesia?"


Kenapa pria ini bertanya? "Tidak, Paman."


"Hmmm, kupikir bisa. Omong-omong, Hestia pergi ke sana. Dia menemani istriku mengambil kembang api. Katanya untuk anak-anaknya. Namamu ...."


"Yuuki."


"Yuuki. Ore wa Al. Yoroshiku ne?" [Aku Al. Salam kenal, yah?]


"Kochirakoso, yoroshiku onegaishimasu. Ato, arigatou gozaimasu." [Saya juga, salam kenal dan terima kasih banyak.]


Yujerian kembali ke adiknya dan mengajak dia pamit untuk menyusul Hestia. Diam-diam ia penasaran kenapa pria itu bertanya ia bisa bahasa Indonesia atau tidak.


Pertanyaannya menyiratkan bahwa dia tahu Hestia berasal dari sana. Namun siapa? Apa dirinya salah menduga?


Yujerian pikir ayahnya yang membuat festival ini dan orang penting yang Kitamura katakan. Ternyata bukan. Lalu ayahnya di mana?


Apa justru aku terlalu berharap? Yujerian menggigit lidahnya saat terus berlari di bawah kedinginan musim Desember. Ia merasa ingin menangis dan marah di saat bersamaan.


Pria itu, sebaiknya dia tidak datang.


...*...

__ADS_1


__ADS_2