Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
108. Batas Yujerian


__ADS_3

Berusaha terus fokus meski lelah, Yujerian menuju lapangan di mana banyak siswa berseragam khas SMP dan SMA mereka.


Perbedaan dari mereka hanya rok siswa SMP berwarna merah marun kotak-kotak sementara siswa SMA berwarna hitam garis-garis.


Tidak ada anak sebaya mereka. Seluruhnya kakak kelas yang jauh.


"Ano." Yuveria yang mendekat, karena Yujerian terlihat lemas. "Apa ada perlu dengan kami?"


Samar-samar Yujerian mendengar bahwa mereka dipanggil untuk bergabung dalam klub musik sekolah.


Rupanya video Yujerian menyanyi lagu Spanyol kemarin sangat berpengaruh. Meski bakat Yuveria sudah cukup membuat orang tergoda, namun kembar yang keduanya sama-sama bisa menyanyi dan kedua-duanya viral untuk hal berbeda, jelas seperti bongkahan berlian.


Akan tetapi Yujerian terlalu lelah. Suara-suara di sekitarnya justru memaksa kepala Yujerian berkunang-kunang.


Tahu-tahu, Yujerian jatuh terduduk.


"Yuje-nii!"


Yujerian mencengkram jantungnya. Berusaha bernapas namun malah semakin sulit. Dadanya seperti diremas dari dalam. Sakit luar biasa.


Untungnya lapangan berkumpul dekat dengan gedung SMA. Di gedung SMA Asgard, murid-murid berkapasitas sangat mudah ditemukan. Segera salah satu mendekat, menangani Yujerian.


"Dia kelelahan. Detak jantungnya melonjak. Bawa ke tempat berteduh dulu."


Sahna mengikuti mereka sambil mengerjap cemas. Apalagi Yuveria terlihat sangat ketakutan seolah Yujerian dalam bahaya besar.


Meski setelah itu kakak kelas dari SMA menenangkannya tanpa masalah, Yujerian harus diberi obat dan diminta beristirahat.

__ADS_1


"Hei, semua baik-baik saja. Jangan menangis, Adik Manis." Para kakak kelas coba menenangkan tangisan Yuveria, tapi gadis itu tetap menangis di dekat kakaknya.


Sahna pun turut di sana. Diam-diam memegang ujung jemari Yujerian.


Mata Yujerian ... selalu terlihat sedih dan kesepian.


*


Norman mengacak-acak rambutnya frustasi. "Mungkin ini yang disebut, orang tua tidak bahagia, anak otomatis tidak bahagia."


Saat Hestia sedang di rumah sakit alias tidak bisa pura-pura waras menemui anaknya, Norman malah mendengar Yujerian kejang-kejang.


Ia menerima diagnosa dokter. Nyaris tak percaya membaca bahwa anak itu stres berat.


Anak enam tahun stres berat. Norman rasa dirinya sudah gila juga.


...Paman, Yuuki merindukan Bibi Hestia dan Paman Eros. ...


Norman baru tahu tulisan polos bisa sebegitu menohok.


Apalagi, Sahna menulis lagi.


...Jika Paman dan Bibi bertengkar, tolong beritahu ...


...mereka agar berdamai. Aku tidak mau Yuuki dan Yuui ...


...mendengar suara mereka bertengkar. ...

__ADS_1


Sebenarnya Yujerian dan Yuveria tidak mendengar suara, tapi Norman tahu Sahna bermaksud apa.


Anak ini menghabiskan masa kecilnya mendengar sepasang orang tua bertengkar. Bagi dia, itu neraka. Dan dia mengira Yujerian dan Yuveria akan mengalaminya jika Eros dan Hestia bertengkar.


"Ya." Norman mengusap kepala Sahna. "Mereka tidak bertengkar. Semua baik-baik saja."


*


Hestia rindu bermain ski dengan anaknya.


Di saat seperti ini, ia rasa tidak ada yang mau ia lakukan selain melihat mereka tertawa bersama.


Yuveria pasti akan berseluncur cepat, lalu Yujerian akan mengejarnya untuk marah-marah karena berbahaya.


Kadang-kadang Yuveria benar-benar jatuh, tapi anak itu tertawa kencang diselingi tawa Hinatsuru dan Gamabunta.


Ah, Hestia juga rindu musim panas. Yuveria pasti akan menarik kakaknya ke laut bermain air, sampai tenggorokan Teruhashi kering meneriaki anak-anak agar tidak berenang terlalu jauh.


Sementara Hestia akan ikut bersantai-santai di atas perahu karet, berjemur dengan ibunya Shinichi.


"Aku ibu yang buruk."


Sebuah buku tiba-tiba diletakkan di wajahnya. "Di buku ini tertulis jangan mengatakan 'aku ibu yang buruk' pada diri sendiri."


Hestia mengerjap. Menyingkirkan buku dari wajahnya untuk menemukan Melia. "Kamu di sini?"


"Lalu? Kamu berharap Papa yang di sini?"

__ADS_1


*


__ADS_2