Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
50. Pelukan Ayah


__ADS_3

Di bawah, Eros melihat kedua anaknya turun dengan santai. Ia yakin bahwa mereka tidak nyaman, tapi melihat mereka diam adalah bukti ketidakpercayaan terhadap lingkungan.


Seperti ibunya, hanya berpura-pura terbiasa sampai benar-benar terbiasa.


Eros sebenarnya mau menjaga mereka secara langsung. Meski begitu Hestia sepertinya lebih percaya pada hubungan kontrak dilandasi keuntungan daripada hubungan dengannya yang laki-laki tanpa pamrih.


Dia hanya minta melindungi mereka diluar lindungan Narendra.


"Mandala, angkat aku ke kursi," ucap Yuveria polos.


Mata Eros memandangi tajam anak muda yang menyentuh putrinya. Tak bisa dipungkiri itu semua terasa sangat menjengkelkan.


Dan karena Yuveria tahu, makanya dia sengaja berkata, "Mandala, Haha-ue tidak ada jadi bisakan kamu menyuapiku? Yuje-nii sedang lelah jadi Yuve tidak ingin menyusahkan."


"Tentu, Nona Muda."


"Yuveria—"


Anaknya menatap dingin. "Hah?"


Eros mengatupkan bibir sebelum menghela napas. Katanya seorang ayah akan selalu kalah dari anak perempuan.


Ternyata bukan mitos.


Yujerian hanya makan dengan tenang. Ia sedikit jarang menggunakan sendok dan lebih terbiasa memakai sumpit, jadi sangat kaku rasanya saat menyuapkan makanan itu ke mulut.


"Nii, mangkoknya terlalu besar! Yuve tidak bisa minum air supnya."


Yujerian mengangkat alis menyadari Yuveria benar. Sulit meminum air sup dari mangkuknya jika mangkuknya sebesar itu dan bermodel lebar.

__ADS_1


Asing sekali.


Peralatan makan mereka rasanya tidak sama. Gelas mereka tidak sama, meja mereka ini, yang sangat tinggi juga tidak sama.


Mereka terbiasa makan sambil melipat kaki di meja hangat, jelas tidak terbiasa makan menggunakan kursi terlalu tinggi.


"Mungkin Hestia tidak akan pulang hari ini." Eros tiba-tiba bersuara. "Dia mengizinkan kalian pergi berjalan-jalan jika ingin. Kalian mau?"


Yuveria menatap Mandala. "Apa kami boleh berjalan-jalan, Mandala?"


"Tentu, Nona. Tolong jangan pikirkan apa pun dan nikmati waktu Anda." Mandala menyuapi Yuveria dengan telaten. "Anda ingin pergi ke suatu tempat? Ada banyak tempat untuk dikunjungi."


"Ja umi!" [Kalau begitu laut!]


Sepertinya bukan ide buruk. Mereka berdua anak laut jadi tentu saja rindu laut.


Apalagi tadi Yujerian lihat matahari bersinar terik seperti sedang musim panas saja, jadi tentu datang ke laut adalah pilihan tepat.


"Kalian boleh pergi." Eros memotong ucapan Mandala.


Tapi Yujerian dan Yuveria menoleh pada pemuda itu dan abai pada Eros.


"Pilihan apa, Mandala?"


"Laut di sini berbeda dari laut yang Anda miliki di pulau, Nona, Tuan Muda. Ada terlalu banyak orang yang mungkin membuat Anda berdua risi. Tapi jika Anda tidak keberatan, saya akan membawa Anda."


"Ja ia." Yuveria tersenyum patuh. "Kami akan jalan-jalan saja dan melihat ke mana bagusnya kami pergi." [Kalau begitu tidak.]


Eros cuma bisa menghela napas. Sakit kepala pada bagaimana mereka terus menolaknya dengan dingin.

__ADS_1


...*...


Jujur adalah hal yang sulit terhadap diri sendiri.


Hestia menarik napas dan mengembuskan dengan lagak tenang. Berdiri di depan kediaman Darius yang dulu merupakan kediamannya juga.


Mungkin jika dilihat sekilas, Hestia tidak terlihat memiliki masalah apa-apa dan cuma mau bertamu. Tapi jika diperhatikan, kakinya gemetar sampai ia sedikit menyesal memakai heels hari ini.


Padahal sebenarnya merasa sakit, kendati demikian malah menekan bel pagar.


"Siapa, yah?"


Orang baru. Wajahnya asing jadi Hestia yakin dia bekerja setelah Hestia pergi.


"Bapak Darius ada?"


Orang itu memicing curiga, tapi menanyakan siapa namanya dan apa keperluannya. Hestia cuma mengucapkan dengan tenang. Lalu dia pergi, hanya untuk kembali tergopoh-gopoh.


Hestia entah kenapa tidak terkejut ketika ia masuk, semua orang berkumpul, termasuk Darius.


Mereka membatu melihat Hestia datang, menyisakan sebuah kecanggungan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


"Hestia?" Darius berdiri. Masih memandangnya seolah tak bisa percaya sedikitpun akan apa yang dia pandang. "Kamu Hestia? Hestia anak saya?"


Hestia sebenarnya juga sulit bicara. Ia berpikir Darius akan langsung murka. Tapi ternyata tidak. Dia terlihat ... terlihat sudah sangat lama menunggunya.


"Pa—"


Kini Hestia membeku. Tubuhnya terkubur dalam pelukan Darius yang bergumam 'kamu dari mana saja' seolah akan menangis.

__ADS_1


Untuk sesaat, sulit bagi Hestia percaya. Tapi sejurus kemudian ia balas mendekap ayahnya, meminta maaf sudah membuat dia khawatir.


...*...


__ADS_2