
Sepanjang hari Eros memutuskan diam saja di menenangkan diri, hadir dalam makan malam yang justru tidak dihadiri Hestia, Yujerian dan Yuveria juga Melia.
Rasanya tetap seperti tidak ada yang terjadi.
Eros naik ke kamar di mana Hestia berada, menemukan dia tertidur di samping kedua anaknya yang juga sudah sama-sama terlelap.
Aku mulai bingung haruskah aku menyesal mengemis padamu atau menyesal membuatmu menangis.
Eros hanya bergumam dalam dirinya ketika mendekat. Menyentuh wajah Hestia untuk sadar bahwa wanita ini ... masih sepenuhnya mengontrol perasaan Eros sesuka dia.
Aku bahagia bersamamu. Dengan cara apa pun. Eros mencium pelipisnya sekilas.
Yang tidak Eros tahu, Hestia terbangun sejak pintu kamar dibuka. Ia terkejut dan berpikir Eros akan tidur di kamar lain. Terlebih terakhir mereka bertengkar, Eros juga tampak sangat emosional.
Tapi Hestia memutuskan terus berpura-pura tidur. Menggeliat memeluk Yuveria di lengannya, berharap ia sungguhan bisa tidur meski tangan Eros mengusap-usap kepalanya.
...*...
“Kapan rencana kalian memiliki anak?”
Hestia tertarik dari lamunannya oleh pertanyaan Darius baru saja.
Mereka sedang sarapan bersama, tentu bersama Eros juga kedua anaknya. Tapi karena Darius berpikir kedua anak itu bukan anak Hestia, nampaknya dia berharap Hestia segera punya anak.
Tapi ....
Pandangan Hestia langsung tertuju pada Eros. Matanya lemah memandang. Entah kenapa tiba-tiba merasa sedih.
“Berhenti memusingkan masa lalu yang sudah lapuk!” Itu yang dia katakan kemarin, kan?
Lapuk. Satu kata yang cukup membuat seluruh kekuatan Hestia runtuh dari ujung langit ke dasar bumi.
Tidak ada yang lapuk. Jika itu lapuk, Hestia tidak akan pernah memikirkannya lagi.
Aku merasa sangat menyedihkan. Hestia menatap kedua anaknya yang juga menatap Hestia. Semakin sesak karena mereka.
Bibirnya mau tersenyum, mau berkata ia sangat menyayangi mereka. Tapi tak bisa karena iangatan lapuk yang Eros katakan masih membekas di jiwa Hestia.
“Hestia? Ada apa? Wajahmu merah.”
Hestia menahan napas. Beranjak dengan tubuh nyaris limbung.
“Hestia?"
“Aku baik-baik saja, Pa. Aku baik-baik saja.” Hestia yang paling tahu ia tak baik-baik saja, karena itulah Hestia ingin lari. “Maafkan aku, tolong. Ada sesuatu yang lupa kulakukan. Wija pasti menunggu. Permisi.”
Jantung Yujerian serasa diremas melihat ibunya berjalan pergi. Hampir saja Yuveria melompat mengejar Hestia, tapi Yujerian menahannya.
Mereka bukan anak Hestia di rumah ini. Hestia sudah mengatakannya berulang kali.
__ADS_1
Jangan sampai rencana ibunya kacau.
“Oyaji.” Yujerian berusaha menahannya. “Kami sudah kenyang. Bisakah kami pergi bermain sekarang?”
Eros sempat diam, tapi kemudian mengangguk.
Sementara itu, Hestia terus berjalan menjauh. Ke mana pun kakinya melangkah, berhenti di tempat yang diyakini sepi untuk menjatuhkan dirinya.
“Aku harus bagaimana?” Hestia menatap ujung jemarinya yang bergetar. “Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Tidak bisa. Aku tidak bisa.”
Kalimat Eros bergema di kepalanya. Memaksa Hestia sesak bukan main.
Lapuk, lapuk, lapuk. Semuanya lapuk. Dia bilang lapuk.
Tangisan Hestia bocor. Isakannya bak anak kecil yang tak tahu cara mengendalikan diri.
“Aku lega.”
Hestia yang berada di posisi berlutut, mendongak pada Melia di hadapannya. Perempuan itu membuat ekspresi sangat bahagia.
Tersenyum dengan tawa kecil terselip, pipi memerah tersipu seolah dia tengah menonton adegan romantis.
“Aku lega, Kakak.” Melia menatapnya sangat lembut. “Begitulah seharusnya. Pura-pura kuat? Pura-pura sudah sembuh? Munafik. Begitulah seharusnya. Menangis dan rasakan sesak menjengkelkan itu.”
Melia berlutut, menyambar wajah Hestia kasar.
“Akan kubantu. Beginilah caranya agar waras.”
Tapi Hestia tak melawan. Hanya berusaha bernapas di antara sesak itu.
Ketika Melia menyeret tubuhnya menuju tembok, Hestia pun tak melawan. Membiarkan kepalanya dibenturkan ke tembok berulang kali diwarnai tawa bahagia Melia.
“Begini seharusnya! Begini seharusnya! Kakak merindukan ini, kan?! Berapa kali rekor terlama, hah?! Berapa kali harus kulakukan?!”
Sayangnya, mereka berdua tak tahu bahwa Yuveria dan Yujerian berdiri menyaksikan semua itu dengan mata terbuka lebar.
Tubuh keduanya sama-sama membeku, menangis terbelalak tapi mulut mereka dibekap oleh Mandala, mencegah keduanya berlari.
“Tuan Muda, Nona Muda, tenanglah. Tolong tenang.”
Napas Yuveria memburu tak normal. Mandala melepaskan bekapan mulut mereka, dan Yujerian terpaksa harus berbalik pada adiknya.
“Yuve!”
Anak itu memegangi dadanya dan terus berusaha bernapas tapi kesulitan. Mandala mengistruksikannya mengatur napas, berulang kali menuntun Yuveria agar dia tenang.
“Yuve, semua baik-baik saja. Semua baik-baik saja.” Yujerian mendekap tubuh adiknya ketakutan. “Semua baik-baik saja. Kumohon.”
Meski matanya terlihat sangat terguncang, Yuveria perlahan mengangguk. Dia menangis hingga wajahnya dipenuhi air mata, mendekap tubuh Yujerian penuh takut.
__ADS_1
“Haha-ue,” isaknya. “Dia memukuli Haha-ue.”
Mata Yujerian langsung berpaling pada Mandala. “Kenapa kamu menghentikan kami? Kamu membiarkan Haha-ue terluka.”
Tapi Mandala tidak sedikitpun merasa bersalah. Dia justru berkata, “Saya hanya mengambil keputusan yang paling cepat membantu Nona Hestia.”
“Apa maksudmu?” Bibir Yujerian bergetar. Dadanya sakit melihat sang ibu dipukuli. Tubuhnya ikut sakit seolah-olah itu tubuh Hestia di sana.
“Bukankah Anda berdua menyadari kesedihan Nona Hestia hari ini?”
Mandala mengusap air mata di wajah Yuveria.
“Tuan Muda, saya tidak tahu apakah Anda mengerti ataukah tidak. Tapi Nona Hestia menganggap perilaku Melia adalah bantuan. Sedikitpun bukan kekerasan.”
Keduanya tercenung.
“Nona Hestia tidak mencari seseorang saat bersedih. Beliau tidak bicara, tidak menyerapah, tidak marah, tidak bertengkar. Apa Anda bisa membayangkan apa yang beliau lakukan?”
Yujerian membeku saat terlintas di kepalanya, Hestia hanya bisa bangun di malam hari, termenung dalam mimpinya.
“Saya tidak mengatakan keputusan saya adalah yang paling benar bagi jiwa Nona Hestia, tapi saya percaya diri mengatakan keputusan itu membuat hatinya lega, untuk sebentar.”
Mandala agak termenung.
“Beliau tidak bisa berdamai dengan bekas kekerasan di jiwanya. Karena itulah Nona Hestia tidak bisa berhenti menyakiti diri sendiri. Maka dari itu, tolong jangan memaksa beliau."
...*...
Baru saja Eros keluar dari kamar mandi, tiba-tiba saja Yujerian melompat menendangnya.
Tubuh Eros terlempar, syok akan kekuatan bocah yang bahkan tidak setengah dari tinggi tubuhnya itu kini menyambar kerah kimono mandi Eros, lalu melayangkan tinjuan telak.
"Aku memberimu kesempat, Kussoyaro!" Anak itu berteriak keras. "Aku memberimu kesempatan! Percaya padamu! Membiarkanmu menikahi Haha-ue agar Haha-ue bahagia! Tapi kamu membuatnya menangis!"
Tatapan Eros langsung layu. Tentu saja ia ingat bagaimana punggung istrinya menjauh, tampak sangat terluka oleh sesuatu.
Masalahnya, Eros harus bagaimana?
Ia juga lelah. Ia sudah muak harus berjauhan dari Hestia dan anak-anaknya. Eros hanya ingin melindunginya, apa yang salah?
"Jika bukan karena Haha-ue, aku sudah menyuruh Mandala mencekikmu." Yujerian menggeram tertahan. "Jangan pernah mengatakan sesuatu lagi di depan kami! Aku tidak percaya padamu lagi! Menjauh dari kami!"
Eros membiarkan tubuhnya terdorong sekali lagi, dan hanya bisa diam saat Yujerian pergi.
Pria itu bangkit ketika pintu tertutup sangat kencang. Pergi menatap pantulan dirinya di cermin, yang ternyata memantulkan jejak merah akibat tinjuan Yujerian.
Ketika Eros hanya terdiam merenung setidaknya agar tenang, ponselnya di atas meja tiba-tiba berdering.
Sebuah panggilan dari Wija.
__ADS_1
"Hei, aku harus bicara padamu. Mengenai Hestia."
...*...