
Tamara tidak ingin melihat Hestia bahagia.
Tidak pernah ingin setelah ia melihat Melia kehilangan kebahagiaannya.
Jadi meskipun Melia berkata dia berdamai dengan Hestia, Tamara tidak akan pernah membiarkan kedamaian itu ada untuk Hestia.
Entah bagaimana caranya, Tamara tidak akan membiarkan Hestia tersenyum lebar.
"Ma."
Hestia memberontak dari ikatan tangan dan kakinya, terengah-engah menatap pisau cutter di tangan Tamara.
"Ma, tenangkan diri Mama. Tolong. Aku mohon." Hestia memberontak. Bukan karena dia ketakutan terbunuh atau mati, namun takut jika Tamara benar-benar melakukannya.
Dia kehilangan akal sehatnya. Wanita yang tidak mau melihat Hestia bahagia setelah dia hancur melihat anaknya hancur.
Hestia memahami dia. Hestia sangat memahami cintanya pada Melia itu.
Tamara mugkin bukan ibu yang sempurna, tapi dia ibunya Melia. Wanita yang melahirkan Melia. Dia mencintai Melia jauh melampui diri sendiri.
"Ma, dengarkan aku." Hestia terus memberontak. "Dengarkan aku, tolong. Tolong, Ma. Mama tidak harus melakukan ini."
"Lalu apa?" Tamara mengarahkan cutter itu dengan tangan gemetaran. Dia menangis, tapi dia sangat membenci Hestia dari matanya. "Lalu apa?! Kamu pikir saya tidak tahu?! Eros datang membujuk ayahmu! Eros mau dia minta maaf padamu! Menurutmu itu selesai?! Setelah itu kalian hidup bahagia?! Tidak akan pernah!"
__ADS_1
Hestia tidak mendengar perkataan itu, karena panik melihat jarak mereka semakin dekat.
"Ma, Mama." Hestia terus berusaha memberontak. Jantungnya berdebar kencang dan mulai takut.
Ibu tirinya tidak lagi berpikir ini rumah mereka. Jika dia melukai Hestia, dia jelas akan langsung masuk penjara. Itu hanya akan membuat Melia tersiksa.
Hestia tidak mau lagi jadi alasan adiknya tersiksa.
"Ma, dengar. Dengarkan aku dulu." Hestia juga gemetar, sejujurnya bingung harus mengatakan apa karena panik. "Aku akan pergi. Oke? Aku akan pergi sangat jauh. Aku juga akan bercerai dengan Eros. Akan kulakukan apa pun. Apa pun, jadi tolong hentikan."
"Saya tidak butuh!" Tamara berteriak. "Kamu hanya perlu menderita. Hanya itu. Saya tidak butuh yang lain. Jadi diam saja!"
Bagaimana ini, bagaimana ini, bagaimana ini!
Hestia berusaha melirik sekitaran untuk menemukan sesuatu. Apa pun. Bagaimanapun caranya ia harus bebas dulu.
"Ma, aku berbuat salah." Hestia harus mengulur waktu. "Aku berbuat salah meninggalkan Melia. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan minta Papa memukuliku lagi. Aku bersumpah."
Pandangan Tamara justru semakin benci. "Sikapmu yang memandang remeh segala sesuatu adalah alasan Melia terluka!"
Aku harus berteriak. Pikiran itu mau tak mau datang saat Tamara yang ragu semakin meyakinkan diri.
Dia jelas takut, tapi dia juga marah dan benci.
__ADS_1
Jika aku berteriak, masalah akan semakin besar.
Masalahnya jika Hestia diam, Tamara mungkin selesai meyakinkan diri dan menjerumuskan diri dalam masalah lebih besar karena melukai Hestia.
"Matilah, Hestia." Tamara tiba di depannya. "Dengan begitu saya bisa tenang."
Tidak ada pilihan!
"MELIA, TOLONG AKU!"
Teriakan Hestia mengejutkan Tamara. Dia spontan menoleh pada pintu, memberi celah untuk Hestia menyenggol tubuhnya hingga terjatuh. Meski Hestia harus jatuh dalam posisi terikat di kursi, ia tak punya waktu merintih sakit.
"MELIA! MELIAAAA!"
Pintu terbuka keras. Pelayan datang mendengar teriakan Hestia langsung histeris.
Keributan itu memancing seluruh orang datang, baik Melia, juga Eros dan Darius.
Tamara yang sudah kehilangan akal tidak lagi peduli, memberontak dari kungkungan pengawal Melia dan pelayan.
"LEPASKAN! LEPASKAN SAYA! HESTIA, PERGI DAN SUSUL IBUMU KE NERAKA! DASAR WANITA SIALAN! KAMU SEHARUSNYA TIDAK LAHIR!"
"Mama!" Melia membentak ibunya keras. "Berhenti membuatku malu!"
__ADS_1
"Kamu yang berhenti mengatur Mama!" Tamara terus memberontak. "Berpura-pura memaafkan Hestia padahal bertahun-tahun membenci dia! Hentikan tingkahmu yang menjijikan, Melia! Kamu yang berkata akan membalasnya! Balas dia! Bukan berdamai!"
...*...