
Tapi satu lagi belum, jadi Hestia melanjutkan nyanyiannya dengan satu tangan terulur.
Anak kembar saat masih kecil akan selalu melakukan hal sama.
Yujerian turun dari kursi piano, menenggelamkan diri ke pelukan Hestia dan ikut menangis.
Kedua kening mereka panas. Hestia bernyanyi sambil terus mengusap kepala mereka. Hanya butuh waktu kurang dari tujuh menit, keduanya tertidur lelap memeluk erat Hestia.
"Ingin pindah ke kamar?"
Hestia menggeleng pada Eros. "Jangan ganggu mereka dulu. Cukup beri selimut."
Yakin bahwa keduanya tidur lelap, Astria mendekati Hestia. Dari matanya dia lega sekarang Yujerian dan Yuveria sudah bisa tidur nyenyak dengan ibu mereka.
"Aku jadi ingin punya anak," celetuk perempuan itu. "Tidak peduli berapa kali aku menarik perhatian mereka, yang mereka mau cuma Haha-ue. Aku kan jadi iri."
Hestia tertawa kecil.
"Kamu sudah baik-baik saja, Hestia?" Ayah mertuanya, Panji, bertanya setelah sekian lama hanya menyaksikan. "Kondisimu?"
"Baik, Ayah."
"Kalau begitu langsung saja. Ayo pergi bersama ke desa kelahiran mereka berdua."
"Eh? Tiba-tiba?"
Rion mengangkat bahu pasrah. "Kedua anakmu terus meracau ingin pulang ke desa. Jadi Ibu mau membawa mereka ke sana secepat mungkin."
__ADS_1
"Aku juga penasaran melihatnya." Astria menyambut gembira. "Kak Hestia, ayo pergi."
"Kurasa tidak masalah?" Hestia mendongak pada Eros, karena pria itu masih berdiri di belakangnya.
Eros juga mengangguk, mana saja asal kedua anaknya senang.
Ketika semua orang setuju, Laura langsung menutup kipas kesayangannya. "Baiklah, karena Ibu sudah berjanji, maka besok kita pergi."
"Ah, Ibu. Aku ingin mengajak beberapa orang juga."
"Siapa?"
...*...
Eros itu laki-laki, dan usianya jauh berlipat-lipat dari sang anak, Yujerian.
Bukan Eros tidak mengerti bahwa anak laki-laki memang paling mudah memusuhi ayah daripada ibunya. Setelah dia bangun dari tidur penuh kerinduannya, Yujerian bersikap sangat dingin pada Eros.
Wajahnya memperlihatkan ketidaksenangan hanya karena Eros duduk di meja yang sama dengannya.
Waktu mendengar dia akan liburan, Yujerian bahkan tidak berkedip tertarik. Karena Eros ikut.
"Ayah, tidak bisakah Ayah membantu orang menyedihkan ini berbaikan dengan anaknya?"
Rion bertanya begitu setelah diputuskan para pria dewasa menepi saja, agar suasana hati Yujerian tidak terganggu.
"Ini sedikit menarik," ucap Panji datar, menatap teh di cangkirnya. "Yah, nikmatilah rasanya punya anak."
__ADS_1
Rion dan Eros sama-sama mendengkus. Dalam hati mereka yakin, kalau yang harus diperbanyak itu anak perempuan. Satu anak laki-laki sudah cukup.
Yang tertawa atas hal itu hanya Norman. Dia bergabung sebab memang dianggap seperti bagian dari keluarga Eros sendiri.
"Aku mengerti kenapa anak itu melakukannya," katanya.
"Kenapa?" Rion penasaran.
"Dia mau mempermalukan ayahnya, tentu saja." Norman terkekeh. "Kamu tidak melihat bagaimana dia tumbuh terlalu cerdas? Anak seusia dia seharusnya sibuk bermain gadget dan malas-malasan, tapi Yujerian bahkan bahkan melipat bajunya sendiri."
"Apa hubungannya?"
Norman menghela napas seolah berkata Eros dan Rion itu bodoh.
"Otak anak laki-laki dan anak perempuan itu berbeda, demi Tuhan. Alasan kenapa wanita yang punya anak laki-laki cenderung lebih stres daripada anak perempuan adalah—karena anak laki-laki sulit diatur. Otak mereka kesulitan jika harus mematuhi sesuatu yang terlalu berstruktur seperti: cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur, lipat baju agar rapi, dan lain sebagainya. Semua manusia, siapa pun itu, selama dia laki-laki, otaknya baru akan sempurna di usia dua puluh tahun. Artinya, mereka baru waras setelah usianya mencapai angka dua puluh. Tapi anak itu?"
Eros tertohok.
"Semakin dia cerdas, semakin kentara dia tertekan." Norman menghela napas. "Paman, jika orang ini tidak bisa menenangkan anaknya, bagaimana jika Paman saja, kakeknya yang membujuk dia?"
"Saya?" Panji membalas bingung. "Menurutmu itu berhasil?"
"Entahlah. Aku hanya merasa anak itu merasa sangat kesepian. Maksudku, dia memiliki ibunya juga adiknya, tapi dia tidak memiliki sandaran. Dia tidak percaya pada orang ini," jelas Norman menunjuk Eros, "dan tidak percaya pada siapa pun lagi. Kurasa setidaknya dia tidak melihat Paman adalah musuhnya."
"Hei, kalau konsepnya begitu, aku pun bukan musuhnya, kan?" Rion protes.
Tapi Norman mengibaskan tangan. "Secara kepribadian, dia melihatmu tidak bisa diandalkan."
__ADS_1
Eros dan Rion sama-sama setuju kalau makhluk satu ini seharusnya dipecat saja dari dulu.
*