Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
109. Lelah Menyimpan Dendam


__ADS_3

Tidak, terima kasih. Hestia bahkan tidak mau mengingat bagaimana ia dengan konyol berteriak.


Sudahlah. Berhubung ia sudah meneriaki Darius, Hestia bisa pulang ke rumahnya yang damai di Jepang.


"Mama?"


"Tidur setelah minum obat." Melia mengedik ke sebelah, menyadarkan Hestia bahwa di sana ada ranjang pasien ibu tirinya. "Lupakan itu. Eros dan ibu mertuamu ada di luar. Aku tidak menguruh mereka masuk, tapi ini sudah hampir tiga hari mereka menunggu."


Hestia jelas tidak punya pilihan. Bergegas meminta Melia memanggil mereka.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Laura dengan nada halus. "Kamu tertidur sangat lama. Kepalamu terluka?"


Hestia menggeleng. "Maaf merepotkan, Ibu."


"Sayalah yang minta maaf tidak bisa membantu." Untuk sesaat, Laura meremas tangannya yang tidak terluka dan tidak dipasangi selang. "Cepatlah sembuh."


Kali ini Hestia mengangguk. "Bisakah aku minta tolong? Yujerian dan Yuveria pasti mencariku. Tolong alihkan perhatian mereka beberapa hari, Ibu. Bawa mereka berlibur ke mana saja."


"Baiklah, akan saya coba."


Nampaknya Laura cuma datang untuk memastikan keadaan. Setelah mengatakan itu, beliau pamit, berjalan pergi dengan Rion yang juga sedikit menyapa Hestia.


Tersisa Eros. Dan Melia menarik tirai, seolah menegaskan kalau dia tidak akan ikut campur pada apa pun yang terjadi di balik penbatas antara dia dan Tamara dengan Hestia dan Eros.


Meski dia pasti dengar.


"Ada sesuatu yang sakit?" Eros duduk, mulai memegang tangannya. "Kamu pusing?"


"Baik-baik saja."


"Maka itu yang utama." Eros membawa tangan Hestia ke bibirnya. Diam sangat lama di sana, hanya bernapas teratur. "Jangan terluka lagi."

__ADS_1


Hestia menatap Eros sayu. Sebenarnya ia tak mengerti kenapa pria ini begitu bersikeras tak peduli apa yang Hestia lakukan.


"Kamu tidak lelah denganku?"


Pria itu terus mencium tangannya. "Lelah."


"Lalu kenapa kau tidak berhenti dan berbalik saja?"


"Aku ingin bersamamu," jawab dia singkat.


"Kamu lelah dan masih ingin bersama?"


"Aku bahagia bersamamu." Eros tiba-tiba meninggalkan tangan Hestia, beralih mencium keningnya. "Hanya bersamamu, aku memiliki dua anak nakal itu."


Hestia tertawa. Jauh di hatinya ia sadar, kalau Eros adalah pria dengan stok kesabaran melimpah.


Diterjang anaknya ke tanah penuh salju, dikatai penjahat kelamin, diusir oleh Hestia, diperlakukan seperti apa pun—dia tetap kembali.


Padahal dia pewaris dari sebuah keluarga konglomerat.


Memang pria aneh.


Tapi yang paling aneh, Hestia tidak lagi merasa terganggu.


Ia tak tahu. Beban di hatinya serasa lepas, padahal kemarin-kemarin masih bercokol di sana seolah tak mau pergi.


Hari itu Hestia berpikir ia dan Eros sudah tidak ada harapan. Hestia bersungguh-sungguh memeluk Tamara, menyadari gejolak di tubuhnya yang membuat Hestia berpikir 'semua pria hanya tahu menyakiti wanita'.


Tapi sekarang Hestia justru berpikir, manusia mungkin memang saling menyakiti. Bedanya hanya ada yang datang meminta maaf, ada yang tidak meminta maaf.


"Ya." Hestia memutuskan tidak mundur. "Anak laki-laki."

__ADS_1


"Bukan perempuan?"


"Aku ingin punya anak laki-laki dulu." Hestia menggesek keningnya ke kening Eros. "Agar anak perempuanku punya kakak yang memanjakan dia habis-habisan."


Eros tersenyum. "Berapa anak?"


"Lima." Hestia berpikir lagi. "Enam?"


"Kamu yakin? Aku sih senang."


"Aku muak bekerja." Hestia mengerang. "Aku sudah malas melakukannya. Aku akan di rumah, melahirkan banyak anak, bersenang-senang dengan mereka sampai aku tua dan mati. Ah, juga punya cucu."


Eros tertawa kecil. "Baiklah. Libur panjang seumur hidupmu."


Tidak buruk juga. Hestia menyukai sensasi hangat dari perhatian Eros ini.


"Berjanji satu hal padaku."


Eros kembali mencium tangannya. "Apa pun."


Namun Hestia menarik dia mendekat, agar bibirnya bisa menjangkau bibir Eros. "Jangan katakan itu lagi."


Tubuh dia menegang sesaat.


"Jangan remehkan ketakutanku lagi. Berjanji padaku."


Hanya itu rasanya yang tak bisa Hestia lupakan mungkin sampai mati. Tapi jika Eros berjanji tidak akan mengatakannya, Hestia tidak akan terluka lagi.


Asal dia berjanji dan menepati janjinya.


"Aku bukan pria jika melanggarnya." Eros mengecup bibir Hestia. "Aku berjanji mulutku tidak akan menyakitimu lagi."

__ADS_1


Maka itu cukup. Hestia sudah lelah menyimpan dendam.


...*...


__ADS_2