
Mata pria itu cuma melotot. Jelas dia mendengar mereka, tapi mulutnya ditutup hingga tak bisa mengatakan apa-apa. Mungkin dia berpikir datang dari mana dua bocah psikopat tidak waras ini?
Ketika adiknya sudah masuk, Yujerian segera berjongkok. Menatap lurus mata pria itu.
"Jawab aku dengan anggukan dan gelengan saja. Apa Eros Prajapati yang mengirimmu?"
Sejenak dia terdiam, tapi kemudian mengangguk.
Jadi benar. Pria itu mencari mereka.
"Aku tidak akan melukaimu, Paman. Aku juga akan melepaskanmu. Aku tidak akan menyiksamu sama sekali. Tapi dengan syarat diam dan menurutlah. Jika tidak, akan kubiarkan adikku melampiaskan kemarahan padamu. Dia sangat pemarah jika sudah kesal."
Kali ini dia mengangguk agak cepat.
"Aku akan melepaskan Paman ketika ayahku sudah datang. Jika dia tidak datang dalam waktu sebulan, akan kulepaskan Paman juga. Tapi saat kembali, beritahu dia bahwa dia tidak diterima di sini."
Dia tidak mengangguk atau menggeleng. Diam saja hingga Yujerian terdorong membuka penutup mulutnya sekilas.
"Ayahmu akan datang. Dia tidak tahu apa pun tentang kalian, sayangnya. Tapi dia mencari ibumu."
Apa?
"Yuje-nii! Aku membawa banyak obat!"
Segera Yujerian menutup mulut pria itu, bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa.
Ia sengaja tidak mengatakannya pada Yuveria, karena berbeda darinya, dia itu emosional dan sangat pendendam. Dia bisa menjadi sangat manis dan penurut, tapi jika sudah merasa terusik, Yuveria benar-benar bisa jadi monster.
Sebelum pasti pria itu peduli pada mereka, menyukai mereka atau justru membuang mereka, lebih baik dia tidak tahu.
__ADS_1
Meski setelah itu pikiran Yujerian dipenuhi banyak hal.
...*...
Norman mengamati kondisi kamar tempat ia terbangun setelahnya.
Gila juga anak-anak itu. Sudah tidak berbelas kasih memukul, mereka mencecoki Norman obat, lalu sekarang mengurungnya dalam lemari yang sempit.
Kenapa pula dirinya mengajukan diri secara langsung datang?
Sungguh, tidak ada yang tahu tentang dua bocah itu. Sejauh ini memang tidak ada sedikitpun jejak mengenai Hestia, hingga jangankan tahu dia punya anak, meyakini dia tinggal di sini saja sulit.
Tapi ... tidak salah lagi mereka anak Eros. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Eros. Apalagi waktu dia melotot penuh ancaman, rasanya melihat Eros dalam usia dan gender yang berbeda.
Hah.
Norman berusaha sabar siang dan malam. Ia makan dalam diam diawasi oleh kedua bocah itu. Tentu saja, ia makan disuapi oleh mereka.
Norman sadar bahwa si laki-laki menolak membiarkan adiknya tahu banyak. Dia banyak mengancam jika Norman bicara sesuatu yang aneh maka dia yang akan memukulnya.
Diancam anak kecil agak melukai harga diri, tapi Norman pasrah.
Sudahlah. Ikatan mereka sangat kuat dan berlapis-lapis. Bahkan dirinya sulit melepaskan diri.
"Tadaima!"
Norman menguping ketika terdengar suara seorang wanita, dan kedua anak itu keluar dari kamar meninggalkan kekosongan.
"Haha-ue!"
__ADS_1
Suara tawa perempuan terdengar samar. "Kalian sangat semangat belakangan ini. Ada apa? Musim semi masih lama."
"Haha-ue, pergilah mandi dulu. Yuve, kemari dan bantu aku membereskan meja."
Si laki-laki sangat dewasa dalam menangani keluarganya.
"Bicara soal itu, Yuuki-san, Yuui-san."
"Hai?"
"Mama dengar kalian tidak pergi bermain lagi belakangan ini. Apa ada sesuatu? Kalian bertengkar dengan seseorang?"
Soalnya mereka mengawasi Norman.
"Tidak, Haha-ue. Yuve dan Yuje-nii hanya sibuk berlatih."
"Ara-ara, sou nano? Nara yokatta. Oh, satu lagi. Ibu tadi tidak sengaja bertemu ibunya Hina. Dia bilang seseorang mencari Mama beberapa hari lalu. Kalian melihatnya?" [Hmmm, jadi begitu? Kalau begitu syukurlah.]
"Tidak, Ibu. Kami mungkin tidak di rumah saat itu."
"Begitukah? Mama jadi penasaran."
"Kalau dia tidak mencari Haha-ue lagi, bukankah tidak terlalu penting?"
"Benar juga. Baiklah."
Cueknya.
Perempuan macam ini bersanding dengan bosnya yang juga super duper cuek bebek, tidak heran jadinya malah dua bocah psikopat.
__ADS_1
...*...