Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
119. Kesuraman Masa Muda


__ADS_3

Setelah semua hal yang terjadi, Eros hanya bersyukur bisa memeluk Hestia malam harinya.


Meskipun ia tak bisa melakukan hal lebih karena Rion, Astria dan Melia juga Tamara tidur di ruangan yang sama—karena rumah Hestia di sini kecil—Eros sudah cukup senang wanita itu bernapas teratur di pelukannya.


Tanpa penolakan, keterpaksaan, atau kebencian.


Namun sayangnya, esok hari, Hestia bangun dalam kondisi flu parah. Batuk dan demam tinggi hingga tak bisa bangun.


"Haha-ue." Yujerian dan Yuveria berdiri di pintu, tidak masuk karena larangan.


"Daijoubu." Hestia bergumam serak, batuk-batuk, nampak tidak baik-baik saja seperi ucapannya. "Pergilah bermain. Kita hanya punya waktu tiga hari di sini. Kalian sudah menghabiskan waktu sehari dengan marah kemarin, jadi pergilah ke laut bersama Shinichi dan yang lain. Sahna pasti akan senang."


"Demo, Haha-ue wa?"


"Baik-baik saja. Mama akan minum obat, istirahat, dan berdoa agar besok segera sembuh."


Keduanya murung, mungkin berharap bisa pergi ke laut dengan Hestia. Tapi apa mau dikata, jadi mereka pun cepat mengerti.


"Jiji." Yujerian memanggilnya, masih dengan panggilan penuh dendam itu. "Aku menitipkan Haha-ue."


Eros menahan senyum. Setidaknya dia memang sudah tidak marah.


"Aa." Eros mengangguk. "Nikmati waktu kalian."


Keduanya menutup pintu, pergi sesuai jadwal hari ini. Samar-samar terdengar suara Rion memanggil Yujerian, lalu Astria berteriak karena udara panas. Lalu, Laura pun tak ketinggalan menyerukan omelan agar Rion cepat bergerak, bukan malah mengajak Yujerian berbuat usil.


Ditinggal berdua begitu, Eros sebenarnya sangat senang.


"Aku tidak bisa bernapas."


Eros meletakkan telapak tangannya di kening Hestia. "Kamu mungkin terlalu lelah. Istirahat yang banyak agar cepat pulih. Tidurlah."


Bukannya menurut, Hestia malah menarik lengan Eros. Ia menunduk berpikir dia mau berbisik saat tiba-tiba bibir panas Hestia menciumnya.


"Apa itu?" tanya Eros geli.

__ADS_1


"Aku tiba-tiba mengingat hal yang kulalui di desa ini." Hestia tersenyum kecil di antara kegelisahan demamnya. "Ane-san pernah berkata padaku, aku terlalu sibuk bekerja sampai tidak menikmati apa-apa saat masih muda. Kupikir lagi, dia benar."


"Ane-san?"


"Ibunya Shin."


"Hmmm." Eros membaringkan diri di sebelah Hestia, menarik dia dalam pelukannya.


Dia benar-benar panas sampai rasanya duduk di dekat bara api, tapi kalau dia mau bicara, Eros akan mendengarnya.


"Apa hal yang tidak sempat kamu nikmati saat masih muda?"


"Bercinta di sekolah."


Eros tertawa. "Itu hanya perbuatan orang gila dan orang mesum."


"Hei, tapi itu menarik." Hestia nampak nyaman saat Eros mengusap rambutnya. "Lalu, kurasa pacaran? Aku tidak tahu rasanya."


"Aku senang dengan kesuraman masa mudamu."


"Artinya aku yang pertama dan satu-satunya." Eros tidak menghindari cubitannya. "Memang kenapa? Aku pun tidak pernah punya pacar."


"Benarkah?"


"Itu hanya mengganggu. Aku sudah punya dua pacar yang sulit diputuskan."


"Siapa? Aku dan Yuve?"


"Ibu dan Astria." Eros membenamkan bibirnya di puncak kepala Hestia tak peduli itu panas. "Jika Ibu tidak menggangguku soal 'ayo pergi jalan-jalan ke kantor Ayah' maka Astria akan menggangguku dengan 'aku mau belanja'. Itu sudah cukup menyebalkan. Menambah satu lagi merepotkan."


Hestia hanya tertawa, lalu terbatuk-batuk. Dia kesulitan bernapas karena flunya, tapi terlihat menikmati suara Eros.


Pada saat itu, Eros tiba-tiba mengingat hal yang tak pernah dikatakan oleh semua orang pada Hestia.


Terutama anaknya dan mungkin Melia yang sudah tahu.

__ADS_1


"Apa ada sesuatu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri?"


"Hm?"


"Sesuatu yang menyebalkan dan menyesakkan." Sesuatu yang membuat dia berjalan saat tertidur, berhenti untuk melamun saat dia mungkin sedang bermimpi. "Sesuatu yang mungkin ... ingin kamu hilangkan?"


Pelukan Hestia mengerat. "Ada."


"Bisakah aku tahu?"


Dengan lemah dia mendongak, mengerjap beberapa kali. Dia terlihat coba menyusun kata untuk mengatakannya.


"Sulit bicara?"


Hestia membenamkan wajah di dada Eros lagi. "Kadang-kadang, aku ketakutan melihat tanganmu."


"Tangan?" Eros tak menyangka dia akan mengatakan itu. "Karena apa?"


"Hanya pemikiran spontan 'bagaimana jika kamu memukulku'."


"Aku tidak—"


"Aku tidak mau mendengar sesuatu seperti itu." Hestia mendesak semakin dekat. "Cukup puaskan aku lewat tindakan. Aku tidak suka ucapan."


.... Baiklah.


"Pelukan?"


"Semacam itu."


Eros mendorong dia lembut. "Bercinta?"


Istrinya tertawa. "Dan semacam itu."


*

__ADS_1


__ADS_2