Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
75. Baut Yang Berserakan


__ADS_3

Jelas saja keduanya terkejut. Apalagi setelah itu Shin mengatakan bahwa Eros selalu bertanya pada Shin mainan apa saja yang sedang digandrungi oleh anak-anak sekitaran mereka, agar setiap bulan bisa membawa mainan baru dari Tokyo.


Shin juga menanyakan kenapa Eros tidak menemui Yujerian dan Yuveria sejak dulu jika memang dia mencintai mereka. Tapi Eros tidak membela diri dengan mengatakan dia tidak tahu. Dia hanya bilang dia memang bersalah membiarkan Hestia pergi padahal dulu punya kesempatan mengetahuinya.


Kedua anak itu saling berpandangan. Diam sejenak sampai Shin menghela napas dari sana.


"Tentu saja, aku tahu kalian juga merasa sangat berat memaafkan. Bukannya aku berkata maafkan saja. Karena aku juga tahu kalian sangat tersiksa. Maksudku, pria itu tulus pada kalian. Juga ...."


"...."


"Tidak, lupakan saja."


Shin tidak bisa bilang bahwa sebaiknya Hestia menjauh dari keluarganya karena dia dipukuli oleh ayah dia sendiri.


...*...


Usulan Hestia ternyata diterima oleh Darius. Karena pihak Eros yang meminta, mau tak mau mereka harus mengikuti persyaratan.


Untuk alasan sakit, Hestia izin, dan Darius menemaninya hingga Hestia pikir ia akan dipukul.


Diluar dugaan, Darius malah berkata, "Apa kamu dan anak Panji punya hubungan?"


Pertanyaan itu tidak terdengar punya maksud negatif. Meski Hestia menjawab hati-hati. "Tidak, Pa. Kami hanya beberapa kali terlibat karena ... yah, Papa tahu."


"Lalu kenapa putranya terlihat bersikeras menikahimu?"


Hestia lebih penasaran kenapa Darius belum marah. "Papa merasa mereka punya maksud tersembunyi?"


"Maksud tersembunyi apa menurutmu yang membuat Panji rela menundukkan kepalanya?"


Itu terkesan seperti dia percaya.


Ia akan percaya Darius telah berubah jika saja dia tidak memukuli Melia. Tapi kenyataannya Melia rusak dan ibu tirinya mulai membenci Hestia.


Darius masih Darius. Kenapa dia sekarang bersikap baik?


"Maafkan aku." Hestia berhenti. Menatap lurus mata Darius sebelum mengubur diri dalam pelukannya. "Maafkan aku meninggalkan Papa dulu."


Tangan Darius membelai punggungnya. Mengusap-usap lembut Hestia seolah dia sayang dan mencintainya. Tapi kenapa?


Mana balasan permintaan maafnya? Sekali saja, bisakah dia minta maaf?


Hestia tahu mungkin ia yang terlalu egois. Mungkin Hestia terlalu memburu maaf seakan-akan dirinya pantas. Mungkin ia memang bersalah jadi tidak usah minta maaf.


Tapi Hestia mau mendengarnya.


Maaf, begitu. Maaf karena Papa menyakitimu, sesuatu semacam itu.


Apa tidak ada? Apa dia lupa?


"Kamu sudah dewasa." Darius malah mengatakan hal lain. "Pilih siapa pun yang menurutmu memberi keuntungan jangka panjang pada kehidupanmu, kebahagiaannu."

__ADS_1


Mungkin aku akan bahagia jika Papa minta maaf.


Hestia tersenyum, mengangguk dalam diam. Terlalu murung untuk menyadari Melia melihat mereka dari kejauhan.


Perempuan dua puluh lima tahun itu menatap kosong pemandangan Hestia dan Darius berpelukan. Tubuhnya terasa gatal menyaksikan omong kosong mereka.


Bahagia? Masa depan?


"Hestia tidak melakukan kesalahan seperti kamu!" Bayangan itu kembali muncul.


Melia menangis sambil menggigit lidahnya saat pukulan demi pukulan dilayangkan. Saat itu masih sangat awal dirinya dipukuli, jadi Melia sering menangis dan menganggap ia dianiya.


Kepalanya terasa rusak dari dalam. Ia merasa seperti satu per satu baut kepalanya jatuh dan berserakan.


Tapi Darius terus memukulinya karena Melia berbuat salah.


Hestia tidak melakukan ini, Hestia tidak melakukan itu, Hestia begini, Hestia begitu. Darius terus mengatakan seakan hanya Hestia yang benar.


Hanya Hestia yang sempurna.


Padahal jika Hestia ada, dia memukuli Hestia karena Darius tidak melakukan kesalahan Hestia.


Tidak boleh, Pa.


Melia mencubit lengannya sendiri dan tak sedikitpun berekspresi meski terasa sakit.


Jangan tiba-tiba berubah jadi orang tua malaikat. Papa adalah monster. Pukuli dia dan aku sepuas hati. Lakukan terus sampai Papa mati. Dia juga merindukannya. Aku tahu Kakak merindukannya.


Napas Melia memburu. Melepaskan cubitan dari tangannya yang memerah, lecet nyaris berdarah.


Hestia pasti merindukan rasa sakit ini.


Melia sangat mengenal kakaknya.


Mereka berdua gila.


...*...


"Hestia."


Ekspresi Hestia langsung melembut ketika Yohannes menghampirinya. Dia agak pucat, jelas syok mendengar situasi ini.


Untungnya yang bicara di atas hanya para orang tua, jadi Hestia bisa beristirahat.


"Duduklah, Yohannes."


Pria itu duduk. Mengerjap cemas mengamatinya. "Maafkan aku, tapi ini ...."


"Tidak." Hestia menggeleng. "Bukan aku yang menyuruh Eros. Aku dan dia tidak terlibat hubungan."


"Aku tidak mengerti. Kupikir dia punya wanita simpanan. Kamu tahu, anak-anaknya."

__ADS_1


Senyum Hestia masih alami. "Itu wajar memiliki anak haram satu dua, bagi orang seperti Eros. Walaupun kudengar dia tidak terlalu suka bermain wanita, tetap saja dia sudah dewasa. Satu dua wanita yang dia tiduri bisa saja hamil."


"...."


"Maaf. Aku tidak bisa menolak dia secara langsung. Panji Prajapati menawarkan perdamaian, dan kurasa permusuhan keluarga kami sudah berlangsung terlalu lama, tanpa alasan yang bisa dibilang harus dipertahankan. Jadi aku hanya ingin mengambil jalan terbaik. Maaf melibatkanmu dan keluargamu."


Yohannes langsung tersenyum. Sesuai harapan Hestia. "Aku mengerti."


Meski Hestia tidak tahu di hati Yohannes terbersit rasa aneh.


Dipikir lagi, kemunculan Hestia nyaris bersamaan dengan kemunculan anak Eros. Lalu tiba-tiba dia datang melamar seolah mencegah Yohannes menikahi Hestia.


Terlalu kebetulan, pikir Yohannes. Namun lelaki itu tak mau menyusahkan Hestia dengan terlalu banyak dugaan.


Mungkin memang cuma kebetulan.


Lagipula Eros belum mengumumkan siapa ibu dari anaknya.


Mungkin seseorang dari Narendra? Katanya anak Eros tinggal di kediaman Narendra. Tidak mungkin Narendra meminjamkan rumah begitu saja kecuali punya hubungan dengan semua itu, kan?


"Hestia." Yohannes merogoh sesuatu dari saku tuksedonya. "Aku ingin menyerahkan ini nanti, tapi aku merasa agak khawatir."


"Hm?"


"Kamu wanita hebat." Yohannes memasangkan cincin itu ke jemarinya. "Banyak yang menginginkanmu. Sejujurnya, tidak aneh bahkan Eros Prajapati menginginkanmu. Jadi bisakah kamu memakainya sampai pertunangan kita resmi?"


Hestia hanya tersenyum.


Ia tak menatap cincin itu kecuali hanya sekilas. Tidak perlu juga ia memberitahu Yohannes bahwa simbol semacam ini menyebalkan.


Mirip seperti kekangan sapi. Ditandai agar orang bisa membedakan hewan ternaknya.


...*...


Sementara mereka berdua, terutama Hestia bersandiwara, di lantai atas keributan mulai terdengar.


"Aku akan memberi kompensasi besar atas kerugianmu, Albert. Biarkan anak-anak memilih pasangan mereka sesuai keinginan mereka."


"Ini bukan soal kompensasi kerugian!" Patricia menggebrak meja murka. "Bisa-bisanya kalian berpikir merebut tunangan Yohan! Apa wajahku ini candaan bagi kalian? Hah? Hestia adalah anak menantu kami dan itu diputuskan sebelum anakmu itu jatuh hati padanya!"


Mulut Laura rasanya gatal mau berkata Hestia sudah jadi menantunya sejak sebelum Yohannes mimpi basah, tapi ia ingat kedua cucunya akan mendapat masalah jika hal itu terungkap.


Jadi dengan penuh ketidaksabaran ia menarik napas, menenangkan diri.


Eros menyentuh tangan ibunya. Merasa bersalah sudah melibatkan mereka dalam hal memalukan ini, sekaligus berterima kasih mereka memahami bahwa Hestia jauh lebih penting daripada harga diri, untuk sekarang.


"Darius, katakan sesuatu!"


Pria itu menghela napas lelah. "Aku akan diam sampai kalian selesai memutuskan."


"Apa maksudmu?!" Patricia sudah terlalu berang. "Tentu saja kamu harus menolak mereka karena kita sudah merencanakan pernikahan!"

__ADS_1


"Karena itulah aku mengundangmu agar bertemu langsung. Jika aku atau putriku memutuskan, pada akhirnya kami yang akan jadi sasaran benci. Aku ingin menikahkan putriku, bukan mencari masalah tidak perlu. Jadi bicarakan saja satu sama lain sebelum menyuruh Hestia memilih."


...*...


__ADS_2