Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
48. Takut Kecewa


__ADS_3

Di atas tempat tidur, Yujerian terbangun. Memaksakan diri untuk duduk walaupun Hestia berkata ia harus berbaring.


"Yokaro," jawabnya. [Baiklah.]


Membuat Yuveria langsung berbalik, berusaha memanjat ranjang untuk bisa memeluknya. Dibantu oleh Hestia, Yuveria duduk di pangkuannya. Memeluk Yujerian sambil menangis keras penuh ketakutan.


Yujerian tersenyum tipis. Tubuhnya lemah sekali, tapi ia mengusap-usap kepala adiknya dengan tangan yang terpasangi infus.


"Hanya satu, Jiji." Anak itu melanjutkan.


Yujerian menatap ibunya. Tetap merasa harus memastikan meski Hestia pasti akan selalu tersenyum mengisyaratkan 'lakukan apa yang kalian suka'.


"Bujuk Haha-ue dan kami memaafkanmu."


Syarat Hestia menerima Eros adalah persetujuan dua anak ini, dan syarat Yujerian adalah membujuk Hestia baru mereka.


Hal mustahil itu, bagaimana dia melewatinya?


...*...


"Gomen ne, Yuuki." Hestia mengusap-usap kepala anaknya setelah semua problematika tadi reda. Sekarang Yuveria tidur di sisi kanan Yujerian karena tidak mau berpisah dari kakaknya. "Mama sepertinya hanya menyusahkan Yuuki saja."


Yujerian menggeleng. "Akulah yang menyusahkan Haha-ue."


"Mama berharap sesekali Yuuki menyusahkan. Lihat sekarang. Kamu lelah karena Mama tidak becus."


"Haha-ue sudah melakukan banyak hal. Haha-ue tidak apa berbuat salah. Akulah yang tidak boleh karena Haha-ue menjagaku dengan tulus."

__ADS_1


"Yuuki memang pintar bicara." Hestia tersenyum. Mengecup kening anak itu sebelum beranjak. "Mama harus bicara dengan Paman dan Bibi di luar. Mereka mengkhawatirkan kamu juga. Istirahatlah agar cepat pulih. Mengerti?"


"Hai, Haha-ue."


Hestia mengacungkan kedua jempol hingga anaknya tertawa dengan wajah 'Haha-ue sangat konyol'.


Tapi ketika ia keluar dari ruangan itu dan memastikan pintu tertutup, Hestia luruh. Menekan jantungnya yang berdenyut-denyut sakit.


Ketakutan itu menyerangnya tanpa ampun. Ia benar-benar takut Yujerian terluka dan meninggalkannya.


Hanya mereka. Demi Tuhan, hanya mereka saja yang tidak bisa ia relakan di dunia ini.


"Hestia."


Wanita itu menutup wajahnya. Tak bergerak ketika Eros datang.


Hestia adalah anak yang tumbuh dalam kebencian pada ayahnya. Ia juga benci ibunya yang meninggalkan Hestia dalam neraka bernama keluarga itu.


Jadi mungkin saja ia tak pernah dapat mengerti bagaimana perasaan dua anak itu pada Eros.


"Aku tidak bisa kehilangan mereka." Hestia mencengkram pakaian Eros saat pria itu tiba-tiba datang memeluknya. "Aku tidak bisa melihat mereka menangis seperti itu lagi, Eros."


Eros membelai kepalanya. "Mereka terluka. Karenaku dan kamu. Ayo berdamai dengan itu, sembuhkan mereka pelan-pelan."


"Mereka tidak akan pergi, kan? Akan kuberikan apa pun jadi jaga mereka. Jaga mereka baik-baik."


Eros ... tidak butuh sogokan untuk menjaga anak-anaknya.

__ADS_1


...*...


"Aku minta maaf."


Yujerian mengerjap sewaktu Shin tiba-tiba mengatakannya. "Untuk apa?"


Pemuda itu menggaruk kepalanya canggung. "Tidak kukira kamu tidak menyukai pria itu. Kupikir kamu—"


"Aku juga berpikir akan senang." Yujerian menarik napas lemah. Hari ini oksigennya sudah dilepas hingga ia bebas menghirup udara langsung. "Ternyata tidak. Aku tidak senang."


"Yuuki."


"Heiki, Aniki. Daijoubudakara." [Aku baik-baik saja, Kak. Tidak apa-apa, sudah kubilang.]


Benar. Itu baik-baik saja. Karena setelah setahun melewati hari dan musim dingin lagi-lagi datang, Yujerian memandangi laut sambil menyadari bahwa takdir sedang bergerak mengikat mereka.


Pria itu selalu datang dan pergi tiba-tiba. Tidak terlalu banyak bicara, membawa sejumlah makanan dan mainan yang tidak mereka sentuh kecuali dia sudah pergi.


Segalanya masih terasa sama. Masih terasa asing. Yujerian masih membencinya.


Namun ... ada rindu ketika pria itu pergi. Dan ada detakan ketika berpikir sebentar lagi ia akan pergi ke tempat pria itu berada.


Yujerian mengulurkan tangan ke udara. Membayangkan tangannya menerima uluran tangan pria itu.


Ia ketakutan.


Yujerian takut jika ia kecewa. Ia tak punya alasan mempercayai pria itu, dan itu menyebalkan ketika ia juga mulai tak punya alasan membenci pria itu.

__ADS_1


*


__ADS_2