
"Mengapa Yuuki mengatakan itu?"
Yujerian mengerjap polos seolah tidak mengerti kenapa ibunya bertanya. "Mengatakan apa, Haha-ue?"
"Mengapa Yuuki berkata seakan-akan dia lawan Yuuki? Nani? Yuuki sedang bermain-main?"
Melihat kakaknya ditanya seperti itu, Yuveria jelas tidak diam. "Haha-ue, bukankah Haha-ue berkata seseorang tidak boleh bersikap gentar di depan orang yang mengancamnya? Bibi itu memusuhi Haha-ue. Jadi kami memberinya peringatan."
Tentu saja bagi Hestia dan para orang tua, kelakuan mereka hanya keberanian sesaat anak-anak.
Tapi karena Yujerian serius, ia membuka suara lebih jauh. "Aku ...."
Semua mata melihatnya.
".... Aku merasa Haha-ue menjadi sangat ketakutan sejak sampai di tempat ini."
Hestia tertegun.
"Jika Yuve dan Haha-ue ketakutan, apa aku tidak boleh membantu dengan cara yang kubisa?"
Lalu matanya menatap dingin Eros.
"Lagipula, kita hanya memiliki diri kita masing-masing. Bertiga. Sejak dulu."
__ADS_1
...*...
Eros duduk termenung di kasur setelah mandi dan makan malam bersama kedua anaknya. Karena Hestia sementara akan berada di sekitar Darius memastikan keadaan, Eros harus di sini menemani mereka berdua—meski keduanya lebih terlihat butuh Mandala daripada Eros.
Katanya kemarahan anak bisa reda jika diberi mainan dan makanan. Permen atau es krim. Tapi rasanya meski Eros membelikan permen juga es krim di seluruh dunia untuk mereka, keduanya masih akan memberi tatapam dingin.
Apa keduanya benar-benar berharap Eros tidak ada di hidup mereka?
Rasanya Eros jadi lemah. Sejak tahu ada mereka, ia yang awalnya berniat mengikat Hestia justru jadi terseret-seret seperti ini.
Beranjak dari kasurnya, Eros keluar menuju satu-satunya kamar lain di lantai dua selain kamar Eros, kamar kedua anaknya tidur.
Jam masih menunjuk ke pukul sembilan jadi Mandala masih berdiri di depan pintu, menjaga mereka berdua.
"Sudah tidur?"
Eros jadi bisa membuka pintu, pergi menghampiri kasur raksasa yang terlihat makin besar lantaran mereka tampak sangat kecil.
Ia duduk di tepi kasur, rasanya ingin menyentuh mereka tapi takut keduanya terbangun lalu menatap dingin lagi.
Tangan Eros hanya bisa tertahan di udara, dengan menyedihkan berharap agar datang hari di mana ia punya kesempatan mendekap mereka sebelum mereka dewasa.
"Kalian pantas membenci saya."
__ADS_1
Eros menatap wajah putrinya dan ingat bagaimana dia menangis ketika pertama kali bertemu.
Lalu menatap wajah putranya dan ingat bagaimana dia sesak napas, kelelahan menanggung beban yang seharusnya Eros tanggung sebagai ayah mereka.
"Kamu benar. Itu salah saya jika tidak bisa membuat Hestia percaya."
Yuveria menggeliat. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sementara Yujerian tidur sangat tenang.
Kepribadian mereka sangat berbeda.
Eros menatap punggung tangannya yang ditimpa oleh tangan Yuveria. Tahu dia ternyata tidak sesensitif itu, maka tanpa ragu Eros menyentuhnya.
Ingin menangis diam-diam saat tahu begini rasanya menyentuh tangan anak sendiri.
Kecil.
Mungil.
Tangan ini sudah menanggung banyak beban karena Eros tak ada bersama mereka.
"Jangan terluka." Eros menunduk. Mencium tangan kecil itu saat air matanya jatuh tanpa siapa pun tahu. "Jangan menangis dan terluka lagi. Benci saya selama yang kamu bisa. Tapi lakukan itu sambil tersenyum dan jangan menangis."
Mereka ... sudah melakukannya dengan baik.
__ADS_1
Jadi sekarang giliran Eros dan Hestia.
*