
Laura bukanlah manusia bebal macam anak pertamanya. Jadi setelah geram berhari-hari tidak menemui sang cucu dan Eros entah apa kabar mengurusi keluarganya, Laura memutuskan bergerak.
Kunci dari gerakan ini adalah Rion, adiknya Eros.
"Melia? Kenapa Ibu tiba-tiba ingin tahu mengenai Melia?"
"Jika Ibu bertanya, tugasmu hanya menjawab!" Tak lupa, Laura menggetok kepala Rion.
Pria muda itu langsung meringis sebal, tapi tahu memang ibunya tipe wanita otoriter yang tidak bisa dibantah atau kalian dibantai.
Rion pun mulai menceritakan hal yang dia tahu mengenai Melia.
Apa pun yang ia tahu dan teringat, Rion mengutarakan. Ketertarikan Rion pada Melia memang terbilang tinggi, apalagi setelah melihat Melia di pesta pernikahan Eros dan Hestia.
Waktu Rion coba mengajaknya bicara, Melia bahkan tidak melirik, tapi bagi Rion malah dia tampak seksi.
"Kudengar dia berubah dingin karena mengalami kekerasan. Ibu mengerti? Dia dipukuli agar mendapat nilai sempurna dan sejenisnya. Begitulah. Apa hubungannya dengan Hestia?"
Sebelum ibunya menjawab, Rion tersadar kalau Hestia juga sama.
"Aku jadi ingat." Rion menopang dagu. "Mantan pacarku pernah bilang bahwa alasan kenapa Melia itu sulit didekati adalah karena persoalan emosionalnya yang belum selesai."
"...."
"Sesuatu seperti, Darius melukainya lalu tidak minta maaf hingga perasaan Melia menumpuk. Pada akhirnya itu jadi sebuah tembok, mencegah orang-orang baru hadir di hidupnya karena orang lama belum menyelesaikan apa yang Melia ingin itu selesai."
"...."
"Sejujurnya aku tidak mengerti apa maksud semua itu."
"Itu hanya sesederhana dia terluka dan mau sembuh tapi tidak diberi obat, bodoh." Laura berdecak. "Ibu sudah melihatnya. Hestia dan adiknya memiliki kesamaan karakter."
"Ibu mau mencampuri mereka lagi? Ayolah, Bu. Mereka sudah menikah."
"Justru karena itu!"
Justru karena mereka sudah menikah, sudah menjadi bagian dari keluarga Laura, ia muak melihat Eros dan Hestia tidak bisa saling bersama.
Terutama Hestia. Anak itu butuh pertolongan.
"Apa yang mau Ibu lakukan?"
"Hal yang tidak dilakukan siapa pun." Laura melebarkan kipasnya, mengipasi diri sendiri dengan raut kesal. "Meminta Darius minta maaf."
"Caranya?"
*
Selama ini Eros selalu diam. Selalu saja.
Demi Hestia, ia diam. Demi anaknya, ia diam. Demi keluarganya, Eros diam.
__ADS_1
Eros tak menyesal. Tak juga merasa keterdiaman itu salah. Tapi sekarang, di situasi ini, Eros rasa keputusan berdiam diri adalah salah.
Tidak ada yang bisa selesai dengan berdiam diri di situasi ini. Karena itu Eros putuskan ... ia akan bicara pada Darius.
Jika Hestia terluka karana Darius, bukan Eros yang bisa menyembuhkannya, tapi Darius.
"Kamu yakin ingin bicara pada pria itu?" Norman bertanya saat Eros tengah memasang kancing kemejanya.
Malam ini Eros menginap di hotel, karena ia yakin Yujerian tidak mau melihat Eros pulang ke rumah Narendra, ia dan Hestia juga bukannya sudah berdamai, plus Eros yakin Ibu hanya akan memiting kepalanya karena pulang tanpa dua cucu kesayangannya.
"Bos, jujur saja, aku tidak yakin."
"Maksudmu?"
"Kamu berkata Darius sudah berubah dan menyayangi Hestia, setidaknya begitu yang terlihat." Norman melipat tangan. "Pertanyaanku, apa pernah Darius menatap Hestia dengan mata penuh penyesalan?"
"...."
"Aku tidak tahu dugaanku benar atau salah, tapi jika benar, Darius sudah melupakan apa yang dia lakukan. Karena dia menganggap dia tidak menyakiti putrinya namun mendidik."
Eros juga tahu itu.
"Justru jika sekarang kamu berkata 'Ayah Mertua, minta maaflah pada Putri Anda yang terluka akibat Anda', menurutmu dia akan tersadar? Tidak. Dia hanya akan berpikir kamu gila."
Meski ucapan Norman membuat gerakan tangan Eros berhenti sejenak, Eros kembali memasang pakaiannya.
Yang berarti akan tetap melakukan sesuai rencana.
"Bos, jangan lupakan Hestia bersembunyi darimu enam tahun. Jika bukan karena anakmu memberi petunjuk, kita tidak akan bisa menemukan dia. Kapan saja dia bisa lari."
Eros memasang jas ke tubuhnya secara kasar. "Aku tetap harus melindungi mereka."
"Bos—"
"Aku sudah lelah!" Tak sadar Eros meninggikan suaranya. "Aku lelah, mengerti?! Lalu aku harus diam saja, terus diam dan diam melihat anakku memalingkan wajah, ibu mereka hanya tahu pura-pura waras, dan aku hanya pria tidak berguna bagi mereka!"
Norman mengatup mulut.
Sebenarnya bukan dia mau menghentikan niat Eros melakukan sesuatu. Norman hanya ingin Eros mempersiapkan diri, karena menghadapi pria tua seperti Darius butuh kesabaran.
Eros tidak boleh memakai harga diri, tidak boleh berlagak paling tahu, apalagi berlagak paling benar sekalipun Darius salah.
Karena sekali lagi, pria tua seperti Darius selalu merasa telah hidup terlalu lama untuk diberitahu oleh anak kecil macam Eros.
Eros memasang dasinya penuh emosi. Tapi karena emosi, Eros malah membuatnya berantakan. Pria itu mengacak rambut, berusaha keras mengatur pernapasannya yang berat.
"Aku akan berhati-hati." Eros berhasil menenangkan diri. "Aku tahu. Aku tidak boleh mengacau."
Ini harus selesai. Bagaimanapun caranya.
...*...
__ADS_1
Yujerian merasa kesulitan tidur. Sepanjang malam anak itu hanya bermain catur, lalu berpaling melihat adiknya menangis dalam tidur.
Bagi mereka, jauh lebih menakutkan melihat Hestia dibenturkan ke tembok berkali-kali daripada diri mereka yang terlibat perkelahian.
Hestia adalah segalanya bagi mereka.
Jantung Yujerian sakit berterusan. Rasanya ia mau menghancurkan segala hal dan berharap dengan itu ia tenang. Tapi Yujerian terus diam, bermain catur sendirian sampai sebuah pikiran terlintas di benaknya.
Yujerian beranjak, mengambil ponsel yang tergeletak di dekat tempat tidur.
Kata Hestia, malam-malam bukan waktu main gadget, tapi Yujerian perlu berbicara dengan seseorang sekarang.
Berharap ia bisa tenang.
"Yo, Aniki."
Di seberang sana, Shin mengerang. "Nanji ka to omotta no, aho?" [Jam berapa menurutmu ini, bodoh?]
"Warui, Aniki." Yujerian menggenggam tangan adiknya yang sesekali menggeliat gelisah dalam tidur. "Akan kumatikan kalau mengganggu."
"Maa ii." Shin mengecek jam dulu. "Aku baru ingat punya PR."
"Di sana sudah pukul tiga, yah?" gumam Yujerian, lebih kepada dirinya sendiri. Karena sekarang di sini masih pukul satu lewat.
"Ada apa?" Shin bertanya serak. "Tidak mungkin kamu meneleponku pukul tiga pagi cuma untuk iseng, kan? Kalau iya, sekarang juga aku pergi ke negaramu dan mencincangmu."
Yujerian tertawa, tapi terkesan terpaksa.
"Ada apa? Bibi Hestia baik-baik saja?"
Yujerian menatap gamang papan caturnya. Semua bermula dari ini, kalau ia tidak salah ingat. "Aku merasa keputusanku datang ke sini adalah kesalahan."
".... Nanika atta? Oyaji to kenka nanika?" [Ada apa? Kamu bertengkar dengan ayahmu atau sesuatu?]
"Sonna mon'." [Sesuatu semacam itu.]
"Nanda, gaki? Hakkiri ie yo." [Ada apa, bocah? Katakan dengan jelas.]
"Aku merasa ibuku tidak bahagia berada di sini." Yujerian mengepal tangannya yang memegang ponsel meski tangannya di genggaman Yuveria masih lembut.
Ia tak mau adiknya bangun.
"Pria tua itu, dia hanya menyakiti ibuku setiap saat."
"Dengan cara? Dia melakukan apa?"
"...."
"Yuuki, menurutmu aku tidak tahu bahwa kamu membenci ayahmu secara pribadi? Bukan karena Bibi atau Yuui."
...*...
__ADS_1