
Angin berembus kencang. Salju rasanya turun lebih lebat dari yang tadi ia rasakan.
Hestia mengembuskan napas lamat-lamat. Matanya melirik lautan yang tampak gelap di lihat malam ini. Kini ia berdiri di tempat anaknya pernah berpelukan sambil menangisi ayah mereka yang tidak ada.
Apa karena terlalu dingin yah jadi Hestia merasa dadanya ikut membeku?
Dasar Al sialan.
Masih saja dia suka berbuat usil, tidak menyadari bahwa dia itu sudah lumayan tua untuk menjebak orang.
"Aku mencarimu."
Angin sekali lagi berembus kencang. Ketika rambutnya beterbangan mengikuti arah angin, pria di depannya melangkah lebih dekat.
Wajah yang sudah lama. Nyaris ia lupa jika wajah anaknya tak mirip dengan wajah pria ini.
Sekarang dia muncul, dengan wajah yang sama pula, tampak tersiksa oleh sepi seperti anaknya.
"Aku mengais-ngais tanah mencarimu di negara ini, negara orang, bahkan negaraku sendiri." Eros berhenti tepat satu langkah di depannya. "Aku mencarimu dan baru sekarang aku tahu aku seharusnya lebih cepat mencarimu."
"...."
"Mereka berdua ... itu anakku, kan?"
Hestia tidak tahu harus membalas apa.
"Aku masih tidak mengerti, Hestia." Eros mengulurkan tangan, meraih sejumput rambutnya lembut. "Apa aku berbuat salah? Sudah kubilang hubungi aku, lalu kamu menghilang dan membuatku jadi lelucon."
"...."
"Kamu membenciku?"
__ADS_1
Hestia menghela napas. Ia bermaksud menarik rambutnya dari tangan Eros ketika terdengar suara teriakan sangat kencang berbahasa Indonesia.
"MENJAUH DARI HAHA-UE!"
Napas Hestia tertahan.
Lalu cengo melihat kedua anaknya berlari kencang, mendorong Eros bersamaan.
Karena ikut cengo, Eros tak siap, justru terhuyung jatuh ke belakang. Dia telentang diduduki oleh Yuveria yang langsung memukulinya sambil menangis.
"Dasar orang jahat! Dia komplotan orang mesum! Haha-ue jangan mendekati pria ini! Orang jahat! Orang jahat! Orang jahat!"
Hestia tertarik oleh tangan Yujerian. "Haha-ue, dia melukaimu?"
"Yuuki-san, are wa—" [Yuuki, dia adalah—]
"Shitteiru." [Aku tahu.]
Yujerian memotongnya sangat cepat. Terkesan sangat emosional, sebenarnya.
"Yuve, jangan hiraukan pria itu. Ayo pergi saja. Kamu akan menyanyi sebentar lagi, kan?"
"Dia menyentuh Haha-ue!" Yuveria masih menangis, meski sudah berdiri di pelukan Yujerian. "Dia menyentuh Haha-ue! Tidak boleh! Pria jahat tidak boleh bersama Haha-ue!"
Hestia menemukan kesadarannya.
Senyum pasrah terbit di bibirnya, mengetahui bahwa mereka berdua langsung mengenai Eros bahkan tanpa bertanya lagi.
Kenyataan Yuveria menangis memukuli orang itu jelas karena dia tahu.
Dia merindukannya. Tapi dia tidak mau karena mengira Eros jahat.
__ADS_1
"Yuveria." Hestia berjongkok. Memeluk anak itu, sadar betapa kecil dan mungil dia menanggung beban ini. "Putriku, pria ini bukan orang jahat. Pria ini—"
"Tidak mau!" Yuveria memberontak. "Tidak mau! Dia pria jahat! Dia meninggalkan Haha-ue! Pria mesum! Komplotan penjahat! Yuve akan menangkap temannya jadi Haha-ue buang dia ke laut!"
Hestia tertawa meski anaknya menangis histeris. "Baiklah, ayo buang dia. Jadi berhenti menangis, Putri Manisku. Ayo, kita pergi."
...*...
Yujerian menatap punggung ibunya dan Yuveria menjauh. Mereka tidak sadar jika Yujerian tidak ikut, melainkan menatap pria yang masih berbaring itu.
Dia tidak pingsan atau kesakitan, karena Yuveria memukulnya dengan emosi kesedihan.
Dia terlihat melamun. Membuat Yujerian segera berdiri di dekatnya, menatap dari atas bagaimana wajah pria itu memang sungguh mirip dengan wajah Yuveria dan miliknya.
"Nanishini kita no, Jiji?" [Kenapa kamu datang, Pak Tua?]
".... Zutto sagashita no." [Saya selalu mencari kalian.]
"Nande?" [Kenapa?]
Eros bangun dari posisinya, duduk termenung antara masih syok juga merasa linglung. "Yuje, itu namamu?"
"Aku tidak mau memberitahu namaku padamu."
Pria itu tertohok. "Saya—"
"Nanishini kita no?" [Aku bertanya apa yang kamu inginkan datang ke sini?]
Mulut Eros sempat kaku sebelum dia menghela napas pasrah. "Ibumu meninggalkan saya."
"Kalau Haha-ue meninggalkanmu, Jiji, berarti kamu tidak layak jadi pendampingnya." Yujerian beranjak. "Jangan memasang wajah bersalah pada kami. Itu salahmu membiarkan Haha-ue pergi."
__ADS_1
*
Jiji : panggilan kasar pada orang tua laki-laki.