Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
110. Dua Anak Yang Coba Bertahan


__ADS_3

Yujerian tidak mau kondisinya menjadi alasan Hestia panik, jadi setelah sadar, Yujerian memastikan Norman dan Mandala tidak melaporkan apa-apa.


Syukurnya mereka memang tidak melakukan itu hingga Yujerian pun bisa tenang beristirahat.


Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk jalan, Yujerian harus naik ke punggung Mandala. Membiarkan adiknya digendong oleh Norman, sebab Yuveria masih tertidur.


Biasanya jika Yujerian sakit, Yuveria juga akan sakit. Walau tidak selalu, namun kadang-kadang itu terjadi.


Terutama jika perasaan adiknya menguat, terlalu khawatir dan cemas pada Yujerian.


"Mandala." Yujerian bergumam di bahu Mandala.


"Ya, Tuan Muda?"


"Jika aku memaafkan Jiji, apa menurutmu sesak di dadaku akan berhenti?"


Mandala menggeleng. "Memaafkan tidak cukup."


"Lalu?"


"Mintakah beliau menebus kesalahan yang Anda maafkan itu. Waktu yang Anda harap beliau ada, mungkin barang yang Anda inginkan tapi tidak Anda miliki karena menahan diri, melakukan sesuatu yang Anda mau bersama; itu akan mengobati."


"Apa Haha-ue juga akan bahagia?"


"Kebahagiaan manusia itu relatif, Tuan Muda. Tapi saya cukup yakin melihat Anda dan Nona Muda bahagia, Nyonya Hestia akan merasa sangat bahagia."

__ADS_1


Yujerian mengubur wajahnya di bahu Mandala. Diam setelah puas bertanya, sekaligus mengistirahatkan diri.


Baru saja mereka memasuki mobil, tiba-tiba ponsel Norman berbunyi. Perhatian Yujerian teralih karena Norman seperti bicara dengan seseorang yang ia kenal.


"Bocah, Obasama kalian datang menjemput. Ibu kalian yang memintanya."


Selalu dan selalu, Yujerian akan ikut jika Hestia yang memerintahkan.


...*...


"Hei, hei. Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat lesu begitu?" Laura langsung mengulurkan tangan untuk mengambil Yuveria, juga mengelus punggung Yujerian. "Ada apa? Kalian bertengkar dengan seseorang lagi di sekolah? Siapa yang mengganggu kalian? Biar Oba rontokkan gigi mereka."


Yuveria hanya diam. Baru saja terbangun jadi perasaannya tidak sedang baik, begitu pula Yujerian yang merasa terlalu lelah untuk banyak bicara.


Laura tak lelah mengusap-usap punggung mereka, berharap itu cukup bisa menghibur. Tapi di tengah perjalanan setelah setengah jam diam, bibir Yuveria tiba-tiba bergetar.


"Haha-ue," ucap dia, lengkap dengan nada tangis yang siap meledak.


Jelas Laura panik. "Sayang, Haha-ue kalian sedang bekerja, tunggu sebentar lagi, yah? Ayo pergi bermain dulu bersama. Bagaimana jika kita ke kebun binatang? Lihat jerapah."


Yuveria dan Yujerian tidak suka jerapah.


Gadis kecil itu pun mulai menangis, meracau dengan bahasa Jepang yang tidak dimengerti oleh Laura.


Tapi Yujerian, Norman dan Mandala jelas mengerti.

__ADS_1


"Yuve ingin pulang." Itu yang Yuveria katakan. "Yuve ingin pulang ke rumah Oji-ue. Yuve tidak suka di sini. Tidak ada Haha-ue."


Yujerian mengulurkan tangan meski lemas, meminta Yuveria pindah ke pangkuannya.


"Daijoubu," bisik Yujerian. "Kita akan bertemu Haha-ue secepatnya. Setelah itu, kita tidak akan melepaskan Haha-ue lagi."


Tangisan Yuveria diselingi isakan kecil. "Chichi-ue tidak melakukan apa-apa."


Anak itu mau tak mau menyalahkan Eros lagi.


"Kita kembali karena Chichi-ue, tapi Haha-ue jadi sering menghilang. Chichi-ue menikahi Haha-ue, kenapa Haha-ue harus bekerja keras lagi? Yuve tidak suka Chichi-ue. Yuve hanya ingin Haha-ue."


"Ya." Yujerian mengelus-elus kepala adiknya. Tangisan Yuveria memicu dada Yujerian sakit lagi.


Tapi anak itu berusaha keras bertahan, karena sudah berjanji tidak akan membiarkan adik juga ibunya menangis lagi.


"Jangan menangis lagi. Aku berjanji akan membawa Yuve pada Haha-ue. Apa pernah aku berbohong?"


Percakapan mereka yang Laura tidak mengerti terus berlangsung, tapi wanita itu setidaknya memahami satu hal.


Perdamaian Eros dan Hestia adalah kunci kebahagiaan mereka berdua.


Itu pasti.


*

__ADS_1


__ADS_2