Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
28. Beban Yang Terlalu Berat


__ADS_3

Sekarang sudah hampir malam dan salju turun dengan tipis. Sambil sesekali berhenti untuk menyuapi adiknya sisa onigiri di tangan, Yujerian mencapai pinggiran laut yang malam ini dipenuhi lentera-lentera kuning.


Apa di balik laut itu ada Ayah? Ia masih sering bertanya-tanya.


"Yuje-nii."


"Hm?"


"Apa Nii bersedih?"


Yujerian menggeleng.


"Tapi Nii terlihat murung." Yuveria memejam ketika Yujerian mengelap sisa nasi di mulutnya. "Yuje-nii selalu melihat laut saat memikirkan sesuatu. Seperti Haha-ue."


"Bukankah Yuve juga menyukai laut?"


"Tapi Yuve menyukai laut karena bisa berenang."


"Saat musim panas tiba, kita akan berenang lagi."


Yuveria tiba-tiba memeluknya. "Yuve tidak senang melihat Yuje-nii murung."


"Sudah kubilang tidak—"


"Yuve juga takut jika bertemu Chichi-ue, maka kita akan terluka."


Yujerian membeku. Meski sejurus kemudian ia balas memeluk adiknya, menghidu baik-baik aroma kayu manis dari gadis kesayangannya itu. "Yuve dan Haha-ue akan selalu bahagia."


"Yuje-nii mengerjakan banyak hal sendirian, seperti Haha-ue."


Gadis itu menatap wajahnya dari jarak dekat, hingga ujung hidung mereka menempel. Matanya yang bulat agak menyipit ketika dia menangis.


"Karena itu kadang Yuve berharap Chichi-ue ada agar Yuje-nii tidak perlu lelah."

__ADS_1


Sesuatu terasa mengganjal tenggorokannya. Yujerian berusaha tidak menangis, tapi melihat mata adiknya berkaca-kaca sambil berkata dia tidak mau Yujerian terluka, ia jadi tak bisa menahan diri.


Dengan sekuat tenaga ia mendekap Yuveria, bersembunyi di bahunya agar paling tidak hanya dia yang tahu ia menangis terisak-isak.


Pria itu tidak pernah ada. Gara-gara dia tidak ada, Yujerian harus menanggungnya sendirian.


Sebenarnya ia sangat bahagia dan bersyukur, tapi jauh di hatinya, ia pun lelah dan berharap tidak harus melakukan segalanya sendiri.


Kenapa dia tidak ada? Kenapa ayah mereka harus laki-laki yang tidak pernah ada?


...*...


Hestia tidak tahu harus mengatakan apa.


Tadinya ia berniat membiarkan kedua anaknya pergi dengan bebas, karena mereka tidak akan pergi terlalu jauh atau ke tempat berbahaya.


Tapi tak tahu kenapa ia terdorong mengikuti mereka. Lalu tak sengaja malah bertemu Shin yang mengoper nasi kepal curian pada Gamabunta.


"Yuuki berkata bahwa dia tidak mau terluka karena ayahnya." Shin mengatakan itu tiba-tiba. "Bibi, kurasa Yuuki sangat tersiksa dengan hal itu."


Sudah lama Hestia tidak melihat mereka menangis. Kecuali kemarin saat ia sakit, mereka berdua nyaris tak pernah menangis.


Rasanya seolah sudah hukum alam Yuveria menangis pada Yujerian saja, bukan pada Hestia.


Ya, anak laki-lakinya menanggung beban terlalu banyak.


"Bibi, boleh aku bertanya." Shin masih di sana, menemaninya melihat kedua anak itu.


"Apa?"


"Mengapa Ayah mereka tidak bersama Bibi?"


Hestia terdiam. Sungguh selama ini ia pikir Eros tidak terlalu penting untuk mereka dan memang untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Mungkin memang ia terlalu cuek dan anak-anaknya terlalu mandiri untuk banyak bertanya.


"Secara jujur, aku tidak menyukai laki-laki. Kecuali putraku." Hestia memandangi mereka dengan perasaan bergemuruh, namun terlatih untuk tidak menampakkan saat ada orang lain. "Terutama seorang ayah."


"Apa pria itu melakukan hal buruk, Bibi?"


"Tidak. Pria lain yang melakukannya."


"...."


"Ayahku." Hestia menelan ludah. Menoleh, tersenyum lembut pada Shin. "Ayahku orang yang disiplin. Akan melakukan apa pun untuk mendidik anaknya. Termasuk kekerasan."


Shin menahan napas kaget. "Apa mereka berdua tahu?"


"Tentu saja tidak. Itu bukan sesuatu yang harus diketahui oleh mereka."


"Jadi Bibi ...."


"Aku hanya tidak suka percaya pada pria, sebaik apa pun mereka terlihat. Isi hati mereka bukan sesuatu yang bisa kubaca."


Hestia memeluk dirinya sendiri. Mengembuskan uap ke udara seraya mendongak pada langit malam yang muram.


"Aku hanya tidak bisa membayangkan hidupku harus seperti itu lagi."


"Kurasa mereka akan mengerti, Bibi, jika diberitahu. Yuuki anak yang cerdas."


"Tapi itu akan membuat mereka berbohong lagi." Hestia tersenyum getir. "Aku mewariskan kebiasaan berbohongku pada mereka. Aku ibu yang menyedihkan, bukan begitu?"


Shin mendengkus. "Bibi, Yuuki berbohong bukan karena Bibi namun karena dia memutuskan itu yang terbaik. Aku memahami perasaan Yuuki. Dia ingin menjaga Bibi dan Yuui agar selalu bahagia."


"Tentu saja."


Hanya ... mungkin itu beban yang terlalu berat bagi anak kecil seumuran dia.

__ADS_1


...*...


__ADS_2