
"Ingat saat kita bercinta di mobil sebelum pindah ke hotel?"
Senyum Eros berkembang saat bibirnya mendarat di alis Hestia. "Aku mencarimu karena tidak melupakannya."
"Aku bukan wanita lembut, sayangnya." Hestia mengetuk-ngetuk dagu pria itu. "Ayo bercinta sepuasnya setelah ini. Sepuas-puasnya."
"Sekarang?"
Hestia pura-pura tidak dengar. Kembali menoleh pada laut. "Yujerian juga akan senang melihat ini."
Meskipun jelas Hestia mengalihkan pembicaraan, Eros tersenyum lembut. "Tidak. Kurasa tidak."
"Hm? Benarkah? Yujerian menyukai laut."
"Dia membencinya, kurasa."
"Kesimpulan atas?"
Eros memandang jauh pada lautan yang semakin terlihat gelap akibat hilangnya matahari. "Anak itu, dia selalu memandang laut sambil memikirkanku. Benar, kan?"
"Kebanyakan, mungkin."
"Luas dan dalam lautan bagimu dan bagi Yujerian mungkin berbeda," gumam Eros di ubun-ubunnya. "Bagimu, luas lautan adalah kebebasan. Sesuatu yang menyenangkan, meskipun membuatmu rindu pada ayahmu. Sementara anak itu, dalam dan luasnya lautan seperti dalam dan luasnya dendam yang dia punya."
"...."
"Kemarahan Yujerian saat hari pertama tiba, dari semua tempat, dia berteriak di tepi laut. Dia ingin aku tahu, sebesar itu lukanya. Seolah dia berteriak 'aku menyimpan hal sebesar ini karenamu'. Itu membuatku mau menangis setiap mengingatnya."
Hestia mendongak, agar bisa melihat ekspresi Eros.
"Matanya setelah itu, kurasa jadi berbeda. Dia jadi seperti, kembali ingin mengenali lautan dan ingin memutuskan membenci atau menyukainya."
__ADS_1
Eros tersenyum teduh, seolah Yujerian ada di depannya dan anak itu berdiri kokoh dengan tubuh kecilnya.
"Aku tidak mau membawanya ke tengah laut dan kebingungan. Dia harus belajar dari tepi laut lagi, kan?"
Ayah tetaplah ayah, kah? Padahal Hestia yang bilang pada Eros, namun untuk urusan anak laki-lakinya, Eros lebih mengerti.
Tapi setidaknya, untuk sekarang, Eros sudah bisa memahami perasaan Yujerian. Dengan hal itu saja, Hestia rasa, bahkan kalau luka yang Yujerian punya seluas lautan ini, Eros akan menyembuhkannya.
Karena meski Eros terlambat tahu, dia tak terlambat datang untuk memperbaiki.
"Eros."
"Hm?"
Hestia mengeluarkan tangannya dari selimut, membungkus tangan Eros di antaranya.
"Aku berlindung padamu."
Hestia kini percaya.
...*...
"Nii."
Yujerian mengalihkan mata dari lautan pada Yuveria. "Nani?"
"Haha-ue sudah bahagia."
Kenapa tiba-tiba? "Sou?" [Benarkah?]
"Yuve mendengarnya." Yuveria tersenyum lebar dengan jari membentuk tanda peace sambil mengangkat anting pemberian Eros.
__ADS_1
Bahkan Yujerian terkejut. Tak terpikir menggunakan cara itu untuk menguping omongan orang tuanya.
"Tapi, Yuve, komunikasi dua arah baru bisa terjadi jika tombol—masaka!"
Yuveria tertawa terbahak-bahak begitu Yujerian menyadarinya.
"Benar! Yuve menjepit tombolnya lalu menyelipkan itu di saku pakaian Haha-ue. Haha-ue sangat ceroboh soal pakaiannya jadi tidak akan ketahuan. Hahaha! Yuve memang genius! Puji Yuve sebanyak mungkin, Yuje-nii!"
Dasar anak nakal.
Yujerian jadi merasa kalah selangkah karena tidak memikirkan itu.
Tangannya bergerak mengacak-acak rambut Yuveria, ikut tertawa karena tawa adiknya.
Kalau Hestia sudah bahagia, berarti sekarang mereka bebas. Beban yang mereka tanggung kini sudah lepas. Hal yang paling mereka khawatirkan sudah tidak ada.
Waktunya bersenang-senang untuk diri mereka sendiri.
"Omong-omong, Yuje-nii."
"Hm?"
"Bercinta itu apa?"
Yujerian membeku.
"Haha-ue berkata pada Chichi-ue akan bercinta sepuas-puasnya. Apa itu? Makanan? Tidak, akar katanya cinta, jadi ... hmmmm, membuat balon cinta? Hmmm, tapi puas adalah kata sifat. Kalau begitu, artinya cinta yang memuaskan? Apa itu? Yuve tidak pernah mendengarnya."
Yujerian merampas anting Yuveria, berlari kencang menjauhinya.
Mau dia mau Hestia, dua-duanya anak nakal merepotkan.
__ADS_1
*