
Yujerian menghampiri adiknya yang sibuk berjongkok di antara semak-semak bunga mawar peliharaan Narendra.
Yuveria sekilas tampak seperti sedang menangis, tapi Yujerian cuma mendengkus karena itu tidak benar.
"Baka." [Bodoh.]
Yujerian memukul lembut kepala adiknya dengan satu buah macaron.
"Kalau kamu seperti itu, nanti dia tahu kamu tergoda. Untung saja dia bodoh."
Wajah adiknya dirambati perasaan kesal. Dia kesal karena sempat berdebar oleh perlakuan Eros. Dia langsung kabur daripada terbawa suasana hanya karena disentuh.
Adiknya yang pemalu.
"Kenapa sekarang Chichi-ue mengajak kita bicara seperti itu?" Yuveria membuka mulut untuk suapan macaron ungu ke mulutnya. "Padahal selama setahun yang dia lakukan cuma diam."
"Entahlah. Siapa yang tahu dengan pikiran dia."
Sementara di dekat mereka, Mandala mendengar mereka berdua. Pemuda sembilan belas tahun itu memiringkan wajah samar, sebelum memutuskan berlutut hingga keduanya berpaling.
"Bolehlan saya bertanya, Nona Muda, Tuan Muda?"
"Tentu saja." Yujerian malah penasaran mengapa pengawal pendiam mereka tiba-tiba mau bertanya.
"Apa Anda berdua benar-benar berpikir Tuan Eros tidak mencintai Anda?"
Keduanya kompak berpandangan. Malah terlihat terkejut meski kompak lagi menggeleng.
Mulut Yuveria menggembung mengunyah macaron ketika berkata, "Mata Chichi-ue seperti Haha-ue."
"Mata?"
"Kepedulian di matanya adalah kepedulian orang tua." Yujerian ikut memakan macaron itu. "Setiap kali dipandang oleh pria itu, kami berdua tahu sebesar Haha-ue mencintai kami, sebesar itu pula cinta pria itu. Lagipula, kami bersikap buruk tapi dia terus datang."
__ADS_1
".... Lalu kenapa Anda berdua masih bersikap dingin? Apa yang ingin Anda tuju?"
"Apa luka kami sembuh?" Yujerian menjawab dingin.
Bukan pada Mandala, namun pada fakta yang ia ucapkan.
"Apa menurutmu, jika dia membuang kami ke laut demi menjaga kami dengan cara dia, setelah itu memancing kami seperti ikan, apa kami harus berkata terima kasih?"
Diluar dugaan, Mandala tersenyum. "Anda berdua memang cerdas."
"Tentu saja."
"Tapi bukankah apa yang sebenarnya Anda cari bukanlah pembalasan?"
Yujerian tersentak. Apa maksud ....
"Saya pun mengenali mata Anda, Tuan Muda. Anda bukan mencari pembalasan. Anda mencari rumah di mana Anda, Nona Muda, Nona Hestia dan mungkin Tuan Eros bisa hidup tanpa kepura-puraan."
"Ini bukan nasehat, melainkan sebuah saran dari bawahan Anda berdua. Jika Anda terus bersikap seperti ini, pria yang Anda maksudkan akan terus tersiksa. Tapi Anda pun akan tersiksa."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Mandala untuk pertama kali tersenyum. Mengetuk-ngetuk dada Yujerian sebagaimana dulu Norman melakukannya. "Buka hati Anda sedikit. Itu akan memuaskan Anda dan membalas pria itu di waktu yang bersamaan."
...*...
Eros menghela napas. Setelah beberapa lama ia rasa memang keduanya belum bisa didekati dan ia harus lebih bersabar, Eros memutuskan beranjak.
Tapi ketika ia akan menaiki tangga menuju kamar di lantai dua, tiba-tiba terdengar suara.
"Chichi."
Rasanya Eros lebih percaya ia tuli. Karena ketika ia berbalik, itu memang sungguhan Yuveria datang dengan wajah memerah nyaris menangis.
__ADS_1
Dia memanggil Eros ayah. Bukan pria mesum atau orang jahat. Kenapa?
"Ada apa?"
Matanya memandang beberapa saat. Menatap Yujerian yang entah kenapa memalingkan muka.
Dan selanjutnya Eros yakin mata ia buta. Karena tiba-tiba anak itu mendekat, mengulurkan tangan seolah berkata gendong.
Spontan Eros menggendongnya. Nyaris terhuyung bukan karena dia berat, tapi tak percaya akhirnya bisa memeluk Yuveria yang selalu berteriak 'urusai!' jika ia bicara.
"A-apa?" Eros kagok dibuatnya. "Kamu bertengkar dengan Yujerian? Kamu terluka? Sesuatu terjadi? Ada apa?"
Atau ada meteor jatuh? Mungkin ada penelitian gas dilepaskan? Jangan-jangan matahari tadi terbit di Selatan? Kenapa tiba-tiba—
"Chichi kirai." Yuveria memeluk erat lehernya. Berbisik dengan wajah tersembunyi di bahu Eros. "Daikirai." [Aku benci Ayah. Sangat benci.]
Eros hanya bisa diam.
"Demo ...." [Tapi ....]
"...."
"Sore demo ...." [Meski begitu ....]
Kata selanjutnya benar-benar menbuat Eros terhuyung.
"Daisuki." [Aku suka Ayah.]
Jantung Eros serasa diperas. Sebelum ia menyadari sesuatu dan berpikir ada apa, tangannya sudah mendekap Yuveria erat-erat. Ikut menyembunyikan wajah di bahunya saat yakin ia mungkin ingin menangis.
"Maaf." Eros merasa seluruh perasaannya menguap. "Maaf, Yuve."
...*...
__ADS_1