
"Kamu berdamai dengan Hestia?"
Melia tidak merasa harus menjawab pertanyaan ibunya. Lebih memilih fokus pada dokumen di atas meja, ditemani oleh suara musik klasik dari speaker di sudut ruangan.
"Melia, kamu berdamai dengan Hestia?" ulang Tamara, disertai geraman tertahan.
"...."
"Melia!"
Terpaksa Melia mengangkat wajah. "Jika iya, Mama akan melakukan apa?"
"Kamu lupa apa yang dia lakukan padamu? Kamu membiarkan begitu saja?" geram Tamara lagi.
Tapi Melia diam.
"Kamu yang berkata pada Mama bahwa Hestia akan tersiksa selamanya, tapi apa? Kedua anaknya pergi bersenang-senang di pinggir jalanan, sementara dia mungkin sedang mabuk bersama Wija atau entah siapa di sana!"
Suara gebrakan meja terdengar. Tamara berdiri di depan meja kerjanya, menatap tajam Melia.
"Mama tidak terima. Sampai matipun Mama tidak mau kalian berdamai!"
Hening.
Namun sedetik kemudian, Melia tertawa terbahak-bahak.
Gadis itu sampai menutup wajahnya, tergelitik oleh sesuatu yang hanya dimengerti olehnya.
"Melia! Kamu pikir Mama bercanda?!"
"Tidak." Ekspresi Melia seketika beku. "Aku sangat tahu Mama serius."
"Lalu dengarkan Mama!"
"Maaf." Melia terkekeh lagi. "Itu hanya sangat lucu."
Tangan Melia meraih laptop di mejanya, membanting benda itu ke lantai hingga Tamara terkesiap kaget.
Tentu saja, Melia tersenyum sangat bahagia.
"Apa Mama mengerti bagaimana jantungku berdebar mendengar suara sesuatu pecah? Seperti ini." Melia mengambil gelas minumannya, memecahkan itu lagi. "Seperti ini! Seperti ini! Seperti ini!"
Pipinya bersemu seperti orang yang jatuh cinta. Satu demi satu benda ia raih, memecahkan semuanya ke lantai lalu tertawa.
__ADS_1
Lagi, lagi, lagi. Melia menghancurkan ruangan sambil tertawa.
Apa Tamara bisa mengerti? Saat Melia mendengar suara benda pecah itu, rasanya jauh lebih nikmat daripada saat Melia bercinta dengan dua pria perkasa.
Bulu kuduk Melia merinding. Tubuhnya geli dan ia terangsang. Apa Tamara mengerti sesuatu seperti itu?
"Mama tidak pernah mengerti apa-apa. Karena yang Mama lakukan hanya bersembunyi di belakangku sambil menyalahkan Hestia."
Melia berlalu ke sofanya.
"Aku berhak marah pada Hestia. Aku sudah memukulinya sampai tempurung kepalanya retak. Aku sudah puas. Apa lagi yang harus kulakukan?"
Tamara mengepal tangannya. "Apa menurutmu Mama tidak terluka?"
"Apa Mama pernah melakukan sesuatu?"
"Mama menahannya karenamu!"
"Mama menahannya karena takut dipukuli sepertiku!" Melia melempar vas di depannya, membuat Tamara sekali lagi terkesiap.
Bukannya Melia tidak tahu bahwa ibunya juga trauma terhadap kondisi Melia. Ibunya selalu menangis untuk Melia dan sangat mencintai Melia.
Tapi, itu tidak mengubah apa-apa.
Menangis tidak mengubah apa-apa dalam hidup Melia.
Melia membuka laci di bawah sofanya, mengeluarkan sepuntung ganja yang selalu dia konsumsi saat seperti ini.
"Aku menyayangi Mama, Mama tahu itu. Tapi jangan pernah berpikir aku tidak bisa menyakiti Mama. Diam. Diam seperti yang selalu Mama lakukan."
Melia menyesap ganjanya tanpa suara, karena pada akhirnya ia yang diam, mendengar suara tangisan Tamara.
*
Hestia kembali ke kediaman Darius sekitar pukul sembilan malam. Setelah selesai mandi, Hestia meminta pelayan menyiapkan camilan buah untuknya.
Kaki Hestia melangkah menuju kamar Melia, masuk begitu saja, menemukan adiknya ternyata sedang duduk di pangkuan pria itu lagi.
"Melia." Hestia menutup pintu, tidak berusaha mengusik mereka. "Kudengar Yujerian dan Yuveria mendapatkan tawaran berlatih musik dengan musisi terkenal itu."
Tanpa diminta, Melia melepaskan diri dari pria yang memangkunya. "Kurasa iya. Mereka melobiku untuk membujuk kamu dan Eros agar kedua anakmu tampil dibawah agensi mereka, tapi saat kutanya kedua anakmu, mereka berkata tidak."
"Jadi begitu." Hestia menjatuhkan diri di ranjang Melia, mengistirahatkan diri. "Ada sesuatu yang mereka sembunyikan."
__ADS_1
"Anakmu?"
"Ya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Mereka bilang mereka sudah tidak ingin bertemu Eros." Hestia berbaring menyamping, memandangi adiknya yang mengisap ganja lagi. "Hei, Melia."
"Hm?"
"Ayo pergi."
"Pergi?"
"Ya." Hestia memejamkan mata. "Ayo pergi bersama. Aku akan bicara pada Papa untuk pernikahanmu segera. Setelah itu, ayo pergi."
Melia diam.
"Kamu tidak ingin?"
"Kamu ingin lari lagi padahal kamu kembali?" balas Melia tenang.
Hestia tersenyum kecut. Menutup matanya dengan lengan agar tak ketahuan bahwa ia sedang muram.
"Perasaanku kacau sejak datang," tuturnya gamang. "Tidak ada yang berubah, lagipula. Jika kita pergi artinya kabur, tetap di sini artinya berharap hal tidak mungkin."
Yah, mungkin Hestia benar. Melia kembali diam memikirkannya. Bersandar nyaman pada pria itu, yang tidak akan pernah bicara kecuali Melia menyuruhnya bicara.
"Usahamu dan Eros gagal?"
Hestia menipiskan bibir. "Dia minta maaf dengan baik," jawabnya serak. Kentara sedang menangis.
"Lalu? Kamu sepertinya mengajakku meninggalkan dia juga."
"...."
"Kamu takut terbuai." Melia menebaknya karena Hestia diam. Dan Melia cukup yakin bahwa tebakan itu benar. "Kamu takut percaya pada Eros karana Papa."
"...."
"Aku tidak mau."
Jelas Hestia tersentak. Justru Hestia berpikir Melia akan dengan senang hati menerimanya. "Kenapa?"
"Apa otakmu akan berubah waras jika meninggalkan rumah ini?" Melia tersenyum sinis. "Kamu kembali karena kamu terus memikirkan tempat ini, kan? Kalau begitu sama saja."
Kedua mata mereka bertemu.
__ADS_1
"Kamu dan aku akan selamanya tidak waras." Melia tersenyum lebar dengan ganja di sela bibirnya, mengarahkan tangannya membelai rambut pria itu. "Kita berdua sudah terlanjur sakit jiwa."
*