
Eros hanya duduk memandangi semuanya. Ia merasa sedikit terluka, juga senang, namun sedih, juga lega.
Eros menutup wajahnya dan tertawa, sedikit meringis.
Yang perempuan ganas memukuli, yang laki-laki dingin memanggilnya pak tua, lalu wanitanya malah tertawa meninggalkan Eros. Tapi ....
"Mereka terlihat sehat." Eros mengembuskan napas pada langit gelap. "Kurasa sekarang sudah cukup."
...*...
Hal pertama yang Hestia lakukan ketika kembali adalah mendatangi Al untuk menyikut rusuknya.
Tak peduli orang-orang di sekitar dia, terutama istri dan adiknya iparnya terkejut melihat perbuatan Hestia, ia tetap menatap horor pria itu.
Al hanya tertawa meringis. Paham betul bahwa Hestia menyakitinya untuk alasan apa.
"Aku bersumpah aku tidak tahu kamu berada di sini."
"Kamu kira aku percaya? Hah?"
"Ya Tuhan, untuk apa pula aku berbohong? Eros memang memintaku mengadakan festival, tapi tidak memberitahuku itu karenamu. Percayalah, Hestia. Untuk apa aku ikut campur pada urusan romansamu?"
"Itu bukan romansa!" Hestia mengusap-usap kepala anaknya yang baru tenang setelah jauh dari Eros. "Kamu membuat putriku menangis."
Al menatap Yuveria lembut. "Halo, Malaikat Cantik. Siapa namamu?"
Dengan ketus Yuveria memalingkan wajah. "Haha-ue, ayo pergi."
Hestia hanya tersenyum bangga. Menjulurkan lidah pada Al sebelum ia membawa Yuveria ke tempat yang anaknya mau.
Mood dia sangat buruk sekarang, jadi lebih baik tidak mengganggunya. Meski dalam hati ia juga mempersiapkan diri.
__ADS_1
Seseorang nampaknya harus jadi janda lebih cepat. Bukan hanya tidak melaporkan soal Eros, dia bahkan tidak mengirim apa-apa mengenai keluarga Narendra ada di sini.
Padahal Hestia sudah bilang dia harus merincikan apa pun yang datang mengusiknya. Awas saja dia.
"Haha-ue."
"Hm?" Hestia mencium pipi anaknya yang lengket oleh air mata. "Ada apa, Putriku?"
"Apa Haha-ue menginginkan pria itu?"
"Mama akan bertanya balik. Apa Yuve menginginkan pria itu?"
Dia membuang muka. Tidak bisa menjawab, karena sebenarnya dalam hati dia mau.
...*...
"Bagaimana rasanya diterjang anakmu?"
"Anak gadismu memukul kepalaku dengan toples camilan cumi-cumi, asal kamu tahu. Lalu setelah itu mereka mengikatku, kemudian makan camilan di depanku, dari toples yang dia pakai memukulku. Bagaimana?"
Eros mendengkus. Memijat bahunya yang kena pukul, meski tidak benar-benar merasa sakit. "Aku menyuruhmu mencari informasi."
"Lalu apa yang harus kukatakan, Bos? Mereka mengurungku berhari-hari. Padahal aku cuma datang mau menyapa ibu mereka, tapi bagi mereka itu sudah bahaya level tinggi."
"...."
"Oh, dan jangan pernah lupa anak gadismu mengancam akan memukul kepalaku dengan tongkat baseball, lalu melotot dengan matanya yang besar, sambil berkata dia mau membuatku mati tersedak air laut. Hah. Anak siapa dia, demi Tuhan?"
"Apa Hestia yang mengajari mereka?" Rasanya Eros tak bisa memikirkan hal lain kecuali ibunya menyuruh mereka benci pada Eros.
Mereka sangat sensitif, padahal Eros belum menjelaskan apa pun. Anak laki-lakinya—yang ia belum tahu nama mereka siapa—bahkan memperlakukan Eros seperti kuman.
__ADS_1
"Dari yang kuamati," Norman mengeluarkan kotak rokok dari sakunya dan mulai merokok di tengah hujan salju yang lembut, "mereka hanya terlalu lelah hidup tanpa ayah mereka."
"Aku mencari mereka."
"Aku juga mengatakannya pada putramu. Lalu dia berkata 'kenapa aku harus mengerti penderitaan pria itu sementara dia tidak mengetahui apa pun tentangku?'."
Yah, tidak sedramatis itu sih tapi Norman rasa masih selaras.
"Jadi mereka membenciku?"
"Bos, mengerti sedikit tentang anakmu. Terutama si laki-laki itu."
Eros menoleh.
"Dia sangat mandiri. Dia melakukan segalanya untuk adik dan ibunya. Menyuapi adiknya, dia yang melakukan. Memasak dan membersihkan, dia dan adiknya. Ketika Hestia pergi bekerja, mereka sedikitpun tidak mengeluh atau bertanya. Hestia jarang berada di rumah, jadi hanya mereka berdua yang melakukan segalanya. Berbeda darimu, mereka tidak punya pelayan."
Eros tertohok.
"Sejujurnya, aku jadi mengerti bahwa mereka itu menyedihkan. Maksudku, mereka bertiga sering saling menipu. Ibu mereka berpura-pura tidak punya masalah, lalu anaknya berpura-pura tidak mau tahu. Mereka terbiasa hidup begitu karena tidak ada ayah di sana."
"...."
"Kamu lihat sendiri gadis nakal itu. Dia menangis ketika melihatmu. Dia memaksakan diri memukulmu, karena mustahil juga dia memelukmu dan berkata 'Chichi-ue akhirnya pulang!'."
Eros menjatuhkan kepalanya ke atap mobil ia bersandar, tak tahu harus merasakan apa.
Baru ia tahu punya anak, sekarang malah dihadapkan pada anak yang marah karena terluka. Sejujurnya Eros tidak tahu harus memperlakukan mereka seperti apa. Rasanya memang asing.
Asing tapi juga tidak asing. Anak-anak itu, apa mereka juga merasakan hal sama?
*
__ADS_1