Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
82. Minta Maaf dan Bersujud


__ADS_3

"Mengambil keputusan saat tidak waras adalah puncak ketidakwarasan. Apa Darius tidak mengajarimu hal itu?"


Wija langsung mengomelinya begitu mendengar keputusan Hestia.


"Hestia, kamu tahu kenapa aku tidak mencegahmu menikahi Yohannes? Karena aku tahu pria itu tidak penting bagimu. Dia hanya alat. Tapi Eros berbeda. Dia ayah anakmu dan kamu akan terlibat permainan emosi dengan dia. Sementara kamu masih berkutat dengan emosi labilmu bersama Darius, menurutmu menikahi Eros adalah keputusan benar? Dasar gila!"


Hestia cuma bisa memijat pelipisnya kebingungan. "Lalu aku harus apa?" balasnya parau.


"Yang jelas bukan menikahi Eros, bodoh!"


"Aku hanya berpikir memberi putra-putriku tempat yang aman. Aku bisa muncul di depan publik sebagai ibu tiri mereka. Aku bisa punya alasan mengajak mereka berjalan bersama dan berhenti bersembunyi, tapi Darius juga tidak bisa menyentuh mereka. Apa yang salah dari itu?"


"Otakmu yang salah, oke? Jika dengan Yohannes, kamu bercerai pun tidak akan mempengaruhi anakmu. Tapi Eros? Dia laki-laki! Dia laki-laki, mengerti? La-ki-la-ki."


"Aku tidak hamil jika dia perempuan, bodoh!"


"Ya, karena itulah!" teriak Wija ikut frustrasi.


"Wija—"


"Pria adalah belatung, itu katamu, kan? Memangnya kamu bisa memandang dia sebagai wanita agar tidak terlalu membencinya? Lalu apa, setelah nanti kamu muak dan tidak bisa tahan, kamu akan bercerai lalu anakmu harus ke mana? Dengan Eros? Karena kamu ibu tiri mereka, begitu katamu."


Kepala Hestia makin sakit.


Sulit untuk membantah, sebab itu benar, tapi lebih sulit untuk berpikir mana yang lebih benar.


Pada akhirnya ia berkata akan baik-baik saja—tanpa mempercayai perkataannya sendiri—lalu pulang untuk memberi keputusannya pada Darius.

__ADS_1


Niatnya Hestia ingin datang setelah mandi, tapi ketika melewati kamar Melia, Hestia tersentak mendengar suara-suara aneh di dalam.


"Melia?"


Hestia menahan napas ketika membuka pintu, menemukan adiknya mengikat tangan sendiri, terduduk dengan punggung terbuka penuh bekas cambukan.


"MELIA!"


Ini sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia melukai dirinya sendiri sampai separah itu!


Hestia bergegas mendekat. Meraih wajah adiknya yang tampak kosong tak bernyawa.


Perasaan Hestia tercabik-cabik. Inilah yang membuat ia tak bisa berhenti merasa tercekik. Bagaimana caranya ia bisa percaya Darius sudah berubah ketika di sudut kamar ini Melia sendirian melampiaskan lukanya?


Hestia menangis memeluk adiknya. Bergetar menggumamkan maaf karena sudah meninggalkan dia tanpa tahu bahwa hal itu melukainya sampai ke dalam-dalam sana.


Wajah Melia masih kosong. "Apa kamu bisa hidup?" gumamnya. "Apa tidak menjijikan hidup dengan tubuhmu itu, Kakak?"


"Melia."


"Kepalaku sakit." Dia bergetar. Justru baru menangis bukan karena cambukan di tubuhnya, namun kesedihan dan luka di sana. "Kepalaku selalu sakit. Aku merasa gila mendengar suara pria itu setiap waktu."


Hestia menangis terisak-isak.


Ia mengerti itu. Perasaan jijik dan ngilu.


Perasaan ingin berhenti hidup dan berhenti jadi manusia jika Darius masih hidup dan masih jadi manusia.

__ADS_1


Sakit.


Sakit.


Sakit.


Mereka merintih kesakitan namun tidak ada penolong bagi mereka.


"Kenapa dia bersikap baik padamu?!" Melia tiba-tiba memberontak. "Dia seharusnya marah dan memukuli kamu! Kamu lari darinya! Kamu meninggalkan semuanya padaku sampai aku jadi seperti ini! Dia seharusnya memukulmu lebih keras! Kenapa dia bersikap baik?! Karena kamu hilang?! Lalu jika aku mati dia akan bersimpuh minta maaf pada mayatku?!"


Hestia merasa ingin muntah.


Tapi ia menutup mulut dan hanya mendengarkan ketika Melia menjerit pilu.


Dinding kamarnya telah dilapisi bantalan tebal yang menahan suara itu bocor keluar. Jadi yang mengetahui hal itu hanya Hestia dan seseorang yang selalu ia lihat menyakiti adiknya tanpa suara.


"MINTA MAAF PADAKU!" Melia menjambak rambutnya dan memukul kepalanya sendiri ke lantai. "MINTA MAAF PADAKU DULU DAN BERSUJUD! JANGAN LANGSUNG BERUBAH SEOLAH-OLAH SEMUANYA TIDAK PERNAH TERJADI!"


Hestia menarik tangan adiknya. "Sudah kubilang lakukan padaku."


Ia diam saja, membiarkan Melia melampiaskan semuanya.


Tidak ada yang mengerti.


Tidak akan pernah ada yang mengerti.


Jadi Hestia akan ada untuk dia dan mencegah dia merasakan kesepian yang ia rasakan bertahun-tahun.

__ADS_1


...*...


__ADS_2