Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
77. Aku Ingin Muntah


__ADS_3

"Hestia."


Wanita itu tersenyum. "Aku sudah bilang, Pa. Jika mereka ingin berdebat, jangan sampai keluarga kita harus jadi sasaran—"


"Saya ...." Darius memejamkan mata. "Saya cukup dengan siapa yang kamu inginkan. Hanya itu."


Yang paling tercengang adalah Hestia dan Melia.


Apa yang monster itu katakan? Bukankah seharusnya sekarang mereka berdiskusi berapa banyak 'harta' yang akan diraup dari kedua keluarga itu, atau sesuatu seperti 'berapa harga jual Hestia dan siapa yang paling bisa membelinya?'.


Nyaris bersamaan, keduanya merasa mual.


Tapi Hestia masih dapat mengendalikan diri sementara Melia harus mencubit keras lengannya agar waras.


"Aku akan menikahi siapa yang menurut Papa paling menguntungkan. Aku mengikuti keinginan—"


"Ini tentang masa depanmu, Hestia. Saya percaya kamu memilih yang terbaik. Jika kamu menginginkan anaknya Panji, maka tidak masalah seperti apa respons keluarga Gouw."


Melia terpaku kosong.


Mendadak ia merasa sesuatu menariknya mundur, sangat jauh dan menyaksikan Hestia kini baik-baik saja di sisi Darius.


Apa yang dia katakan?


Melia menatap kosong wajah monster itu.


Setelah jadi monster bertahun-tahun, sekarang dia mau berpura-pura jadi manusia? Apa? Karena Hestia baru saja kembali, jadi dia sedikit bersikap baik?


Hestia berpikir tak jauh beda dari adiknya.


Apa yang terjadi pada Darius? Padahal dia tidak minta maaf, tapi sekarang bersikap seolah bahagia adalah hal terpenting dan uang atau keuntungan urusan belakangan.

__ADS_1


Aku ingin muntah.


Hestia menggigit lidah keras agar tak sungguhan muntah.


"Aku akan bicara pada Eros dan Yohannes besok, Pa. Akan kuberikan jawaban malam harinya."


...*...


Harusnya waktu itu Hestia berkata tidak bahkan kalau Darius akan memukulinya.


Kalau dipikir ulang, ia justru jauh lebih terbiasa dengan pukulan Darius daripada kata-kata hangat dari Darius.


Itu menjijikan. Terasa sangat menjijikan sampai Hestia merinding.


Hari ini dengan alasan mau menemui Eros dan Yohannes, Hestia malah pergi ke kediaman Narendra. Tapi ternyata kedua anaknya tidak ada, sedang pergi ke mansion keluarga Eros berada.


Niat Hestia mau langsung menyusul ketika pelayan Narendra datang menghampirinya.


"Permisi, Nona. Tuan Muda Pertama berharap Nona menemuinya hari ini."


"Ya, Nona. Beliau berpesan agar Anda mendatanginya segera."


Tujuan Hestia langsung berubah.


Ia tak bisa mengabaikan jika Al mau bertemu karena keamanan anaknya berada di tangan pria itu. Sambil terburu-buru memasuki gedung tempat Al sedang menemui tamunya dari luar negeri, Hestia menunggu di ruangan pria itu sampai dia datang.


"Hei." Hestia berdiri. Langsung memeluknya sebagai bentuk hiburan. "Aku turut berduka atas ibumu."


Untuk hal satu itu, Hestia baru tahu ketika ia kembali. Tak ia sangka liburan Al di Jepang waktu itu adalah bentuk perpisahan menyakitkan dengan ibunya.


Al balas memeluknya sekilas. "Tidak apa. Daripada itu, aku mendengar masalah tentang lamaran dua pria terhadapmu."

__ADS_1


Dia benar-benar tidak mau membahas ibunya. Karena cukup mengerti rasanya kehilangan ibu, Hestia mengikuti alur pembicaraan Al saja. "Ya, Yohannes dan Eros."


Kemungkinan Al tahu dari Mandala.


"Aku tidak menduga kamu akan menerima tawaran Gouw. Membatalkan pertunangan dengan mereka akan menurunkan reputasi keluargamu."


"Aku tidak menduga Eros akan melamarku juga."


"Lalu?" Al melempas jas bersulam mawarnya dan duduk di atas sofa sambil memberi isyarat Hestia ikut duduk. "Haruskah aku membantumu? Aku bisa bernegosiasi dengan keluarga Gouw agar menarik lamaran mereka."


"Aku baik-baik saja."


Al menatapnya beberapa saat. Dia tampak emosional sebenarnya. Membuat Hestia sadar bahwa Al sampai detik ini masih belum pulih dari rasa kehilangan atas ibunya.


Untuk Al dan Narendra yang memuja Trika Narendra seperti Tuhan, satu tahun memang bukan waktu yang cukup untuk merelakan.


"Kamu ingat pertanyaanmu saat kita di Jepang?" tanya Al.


Mulut Hestia diam saja.


"Kamu bertanya apa aku terluka? Ya, aku terluka. Sampai sekarang. Aku menerimanya dan aku terluka."


Al mengeraskan rahang samar sebelum kembali terlihat biasa.


"Aku akan menerima bayaran mahal darimu. Jadi jangan menikahi Gouw lalu melibatkan anakmu. Kamu sangat mengerti rasanya anak yang mengalami kekerasan. Tapi kamu tidak mengerti rasanya melihat orang tuamu melukai diri mereka sendiri."


"Al—"


"Anak-anakmu tahu kamu terluka, Hestia. Mereka hanya tidak menampakkan. Kalau kamu menikahi Yohannes, mereka akan berpikir kamu semakin memaksakan diri. Aku ...."


Al membuang napas, sadar justru dia terlalu agresif.

__ADS_1


"Aku muak melihat hal semacam itu. Dan aku tahu kamu sebenarnya tidak ingin. Jadi, hentikan saja."


*


__ADS_2