Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
100. Pelampiasan Marah dan Sedih


__ADS_3

"Aku ingin minta maaf."


"Eros, sudah kubilang aku—"


"Aku hanya ingin minta maaf soal lukamu." Eros segera memotong, sebab Hestia pasti akan salah paham. "Aku tidak minta maaf agar kamu memaafkanku lalu kita kembali berdamai."


Itu yang Eros renungi berhari-hari. Apa yang membuat Hestia marah padanya dan tak lagi mau melihatnya.


Memang kesalahan Eros. Ia minta maaf agar mereka berdamai kembali dan rukun bersama, namun yang ia lukai bukan kerukunan mereka, melainkan bekas permanen di hati Hestia.


Jadi seharusnya ia minta maaf untuk lukanya.


"Maafkan aku, berbicara tanpa tahu apa-apa." Eros merasa dadanya sesak saat Hestia terpaku dengan air mata di kedua pipinya.


Ingin Eros menghapus mereka, tapi ia sadar Hestia lebih ingin mendengarnya.


"Aku ingin dekat denganmu, aku berharap hubungan kita berkembang agar kita saling memiliki. Tapi perasaanku justru hanya mendesak pada satu sisi, melupakan sisi lain."


"...."


"Aku menganggap kenanganmu bersama Darius sudah lapuk. Itu perasaanku. Aku mengakuinya."


Eros membasahi bibirnya saat terus memuntahkan kejujuran.


"Aku tidak bisa memahaminya, karena aku tidak mengalaminya. Yang aku pikirkan 'Hestia hanya terjebak dalam masa lalu sampai dia tidak melihat Darius sudah berubah'."


Hestia terhuyung. Tapi dia bertahan untuk terus mendengar.


"Kemudian Wija memberiku ini." Eros menyerahkan lembaran cetak berita-berita kekerasan anak yang Wija berikan. "Aku membaca semuanya satu per satu. Seluruhnya. Aku masih tidak bisa memahamimu, tapi sesuatu dalam diriku mulai sadar."


"...."


"Kamu menahannya seorang diri. Kamu mencintai Darius sebagai ayahmu, lalu kamu terluka karena Darius. Nyaris sama seperti mereka berdua. Mereka merindukanku, sangat merindukanku, karena itulah mereka sangat terluka jika aku mengecewakan mereka, tidak memenuhi ekspektasi mereka."


Perlahan, ujung jemari Eros menyentuh tangan Hestia. Menarik dia tenggelam dalam pelukannya.


Dan Hestia tidak menolak.


"Maafkan aku, tidak menghargai perjuanganmu."


Tangisan Hestia pecah tanpa kendali di dadanya.


*

__ADS_1


Beberapa waktu, Sahna hanya diam.


Dua kembar bersaudara itu masing-masing memegang es krim yang sama dengan es krim di tangan Sahna, dan mereka makan untuk meredakan emosi masing-masing.


Paman Pengamen alias teman besar mereka tidak membolehkan menyanyi kecuali Yuveria sudah tersenyum lebar.


Tapi setelah beberapa saat, nampaknya mereka sudah bisa didekati. Maka, Sahna pun menuliskan kalimat di kertasnya.


...Kalian baik-baik saja? ...


Keduanya menggeleng, kompak.


...Aku tidak bisa membantu, tapi aku akan mendengar jika kalian ingin membicarakan sesuatu. ...


Tak disangka, Yuveria benar-benar berbicara.


"Kami menyesal sudah datang ke negara ini." Yuveria menangis lagi, sambil terus memakan es krimnya. "Haha-ue tidak bahagia berada di sini."


"Ternyata masih bocah."


Tiga anak itu tersentak, kaget tiba-tiba Paman Pengamen duduk di belakang mereka, menguping semuanya.


"Apa maksud Paman?" Yuveria membalas tak senang.


Paman Pengamen menepuk-nepuk kepala mereka berdua. "Berhenti menyuruh Ayah Ibu kalian jadi anak kecil."


"Paman menyebalkan."


"Ya, ya. Ayo mulai bernyanyi. Penonton berkumpul melihat kalian."


Ketika Yuveria mau beranjak, Yujerian mendahuluinya. "Biar aku dulu, Yuve."


"Yuje-nii mau bernyanyi?" Padahal Yujerian jarang mau bernyanyi. Katanya biar Yuveria saja, sementara Yujerian memainkan alat musik.


Dia pasti sedang sangat kesal sampai butuh pelampiasan.


"Ingin lagu apa? Ada beberapa request dari sosial media untuk kalian." Paman Pengamen mereka menyambut senang.


Yujerian meminta gitar.


"Kamu ingin memainkannya sendiri?"


"Ya, Paman. Lagipula ini hanya pembukaan. Biar Yuve yang mengambil puncaknya nanti."

__ADS_1


"Baiklah." Paman Pengamen teman mereka pun mulai mengatur tempat agar Yujerian bisa duduk nyaman dikelilingi penonton.


Kamera mengarah padanya, dan nada gitar mulai terdengar.


Yuveria mengangkat alis waktu mengenali instrumen gitar kakaknya. Dia mau menyanyikan lagu itu? Yuveria juga suka lagu itu.


"Estaríamos juntos todo el tiempo ~"


Sahna ternganga mendengarnya.


"Hasta quedarnos sin aliento ~ Y comernos el mundo, vaya ilusos ~ Y volver a casa en año nuevo ~."


Dia menoleh pada Yuveria, dan gadis itu menggerak-gerakkan kepala mengikuti nyanyian kakaknya yang membuat Paman Pengamen melongo.


...Yuveria, itu lagu apa? ...


"Itu lagu Spanyol. Haha-ue sering menyanyikannya dulu, jadi kami menyukainya."


Yujerian hanya menikmati petikan gitar sebagai bentuk pelampiasan marah dan sedihnya.


"Y ahora sé que nunca he sido tu princesa ~ Que no es azul la sangre de mis venas ~ Y ahora sé que el día que yo me muera ~ Me tumbaré sobre la arena ~ Y que me lleve lejos cuando suba, la marea ~."


Sedikitpun Yujerian tak peduli berapa banyak orang berkumpul, berapa banyak orang mengambil video, berapa banyak decak kagum pada fasih aksen Spanyol-nya.


Yang ada di pikiran di Yujerian hanya Eros, Hestia, dan bagaimana ketidakpuasan memenuhi hatinya tentang situasi mereka.


*


"Ibu, lihat penampilan Yujerian ini."


Laura bergegas melihat apa yang ditunjukkan putrinya begitu mendengar nama sang cucu.


Latar belakang video menunjukkan penampilan itu diambil di pinggiran jalan raya, tapi anak Eros dan Hestia itu masih terlihat memikat seolah ada sihir mengelilinginya.


"Hestia membesarkan anaknya dengan baik." Laura bergumam murung. "Satu-satunya yang Eros berikan pada mereka hanya wajahnya."


Astria mendudukkan diri di samping ibunya. "Menurutku, Ibu, Hestia tidak menyukai Kakak."


"Memang apa yang bisa disukai dari pria tidak sensitif itu?" dumel wanita paruh baya tersebut. "Dia sudah menikahi Hestia, sudah pula diterima oleh anaknya, tapi yang dia lakukan hanya bermalas-malasan. Lihat sekarang. Yujerian dan Yuveria lebih suka pergi mengamen daripada menengok Oba mereka."


"Kalau dipikir-pikir," Astria tiba-tiba menoleh, "kenapa Ibu tidak coba membujuk Hestia? Biar dia tinggal di sini bersama kita."


Keduanya mengerjap bersama, karena sama-sama merindukan dua malaikat kecil itu.

__ADS_1


*


__ADS_2