Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
122. Kejutan


__ADS_3

Eros tersenyum samar atas sikap dewasa anaknya.


Dia tidak akan bisa lagi dipaksa menjadi anak manja setelah terpaksa menjadi dewasa dan tertekan. Namun Eros rasa tidak masalah ia bangga kalau Yujerian memahami sesuatu dengan tenang.


"Bawa Ibu dengan mata tertutup, menuju kapal."


"Osu!" [Sip.]


Keduanya pergi ke teman-teman mereka dulu, berpamitan sebentar.


Ini hari terakhir, malam terakhir. Matahari mulai terbenam, menciptakan gradasi orange kemerahan di langit.


Untuk hari terakhir ini, Eros ingin menunjukkan sesuatu pada Hestia.


"Eros Prajapati." Ibu tiba-tiba memanggilnya saat Eros akan menaiki kapal.


Nada serius Ibu membuat Eros langsung berbalik tegak. "Ya, Bu?"


Astria menatapnya malas. "Intinya, jangan katakan sesuatu seperti 'jadi istriku' kemudian 'ibuku suka tidur siang'."


"Hah?"


Rion menepuk-nepuk bahu Eros. "Maksudnya, biarpun kamu payah menangani wanita, jangan sampai Hestia membantingmu ke laut. Kami tidak mau memungut kamu jika itu terjadi."


"Hah?!"


"Eros!" Ibu meninggikan suaranya, hingga Eros tak punya kesempatan menampar Rion.


"Ya, Bu?"


"Jika," kipas Laura berbunyi keras saat tertutup, dan matanya menunjukkan keseriusan yang dingin, "turun dari kapal ini, Hestia memutuskan bercerai denganmu, maka kapal ini akan meledak bersamamu sendirian."


Eros tak tahu harus berekspresi apa sekarang.

__ADS_1


Apa ia sepayah itu di mata orang-orang ini?


...*...


"Eros."


"Hm?"


Hestia menerima tangan Eros yang menuntunnya naik ke kapal, meninggalkan semua orang di dermaga.


"Aku akan mengatakannya secara jujur." Hestia berucap serius. "Sebenarnya, Eros ...."


"Apa?"


"Aku tahu apa yang mau kamu lakukan jadi bisakah ini dibuka saja? Aku tidak akan terkejut."


Baiklah, baiklah. Hestia bukan mau merusak suasana tapi sumpah demi Tuhan ini terlalu mudah ditebak, dan sejujurnya sudah terlampau norak untuk dirinya yang berada di usia tiga puluhan.


Jika Hestia berusia lima belas tahun, maka ia akan senyam-senyum menanti kejutan macam apa pun itu dari kekasihnya.


"Bahkan kalau tahu," Eros terus menuntunnya berjalan ke suatu tempat, "tahan sebentar agar tidak sia-sia."


Bukankah kejutan sudah sia-sia kalau yang mau dikejutkan tidak terkejut?


Hestia menghela napas, pasrah saja memgikut. Kepalanya masih pusing, badannya masih lemas, dan kalau harus jujur, angin sore ini membuatnya kedinginan.


Tiba-tiba, Eros menuntunnya untuk duduk di sebuah tempat yang lembut, dan Hestia menebak itu semacam sofa. Tak lupa Eros membungkusnya dengan selimut, ikut duduk memeluk Hestia.


Pria itu sengaja menuntun agar Hestia duduk bersandar pada dadanya. Begitu yakin berada di posisi pas, tutup mata Hestia terbuka, dan ia disambut oleh pemandangan matahari terbenam.


"Aku sudah bilang aku tahu akan—"


"Aku tidak bermaksud membuat kejutan." Eros memeluknya erat. Bersandar pada tempat duduk mereka, mengarahkan Hestia agar memandang lebih ke bawah. "Aku hanya mau membawamu ke tempat paling tenang, damai, dan sesuai seleramu."

__ADS_1


Hestia mengerjap.


Dari atas, matanya dimanjakan oleh warna langit yang nampak abstrak. Namun di bawah, secara pasti, lautan luas yang memantulkan sisa-sisa cahaya matahari nampak seperti lukisan.


"Aku muncul di depanmu setelah enam tahun tidak bertemu, dan kamu sedikitpun tidak terkejut." Eros berbisik. "Menurutmu aku bodoh? Hestia-ku tidak suka kejutan. Dia suka laut."


Hestia diam.


Hanya sesaat sebelum tiba-tiba tertawa, menekan tubuhnya agar lebih bersandar pasa Eros.


"Aku meremehkanmu setelah berkali-kali melihatmu dikerjai oleh anak-anak."


Eros mengecup puncak kepalanya. "Jika aku melawan anakku secara serius, menurutmu aku layak disebut Ayah?"


Tidak, sih. Orang tua bukan lawan anak-anak. Mereka adalah pembimbing yang sabar.


"Merasa lebih baik?"


Hestia mengangguk, tak menyembunyikan perasaannya sama sekali. "Aku menyukainya. Terima kasih."


"Hanya itu?"


Dasar pamrih.


Tapi mungkin Hestia menyukai sisi Eros yang itu. Jadi Hestia pun tidak keberatan menoleh, menjemput bibir Eros untuknya.


"Kudengar ini kapal yang dibuat olehmu dan Yujerian," bisik Eros di bibirnya. "Aku memang selalu tahu wanitaku luar biasa."


Hestia tersenyum. Paham dia sedang merayu. "Aku yakin kamu menyiapkan kamar tapi aku sedang sakit, jadi bersabarlah."


Wajah dia langsung layu.


Hestia tergelak. Tak tahu sejak kapan, namun ia benar-benar menikmati ekspresi dan ucapan Eros sekarang.

__ADS_1


...*...


__ADS_2