Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
92. Sampai Kapan?


__ADS_3

Hari sudah sore jadi Darius pun sudah berada di rumah mengistirahatkan diri. Ketika mendengar Eros datang bersama anak-anaknya, beberapa pelayan mulai sibuk menyiapkan jamuan makan.


Tentu saja Melia dan Tamara juga mendengarnya.


Jika biasanya Tamara yang gelisah akan hal itu, kali ini Melia lebih gelisah.


"Hestia yang biasa tidak akan membawa anaknya setidaknya sampai Darius mati."


Melia bergumam di dekat jendela, memutuskan tak turun menyapa kakak ipar barunya.


"Hestia yang biasa tidak akan percaya sesuatu sekonyol Darius berubah jadi semua sudah baik-baik saja."


Melia ... membenci atmosfer ini sekarang.


...*...


Hestia baru pertama kali bersyukur bahwa kedua anaknya lebih mirip Eros daripada Hestia sendiri.


Kebanyakan yang Hestia turunkan pada mereka hanya sikap dan tindakan, sementara ciri-ciri fisik yang menonjol benar-benar seperti menjiplak Eros.


Karena hal itu, Darius sedikitpun tidak curiga. Tidak meletakkan ketertarikan lebih pada anak Eros, hanya menganggap mereka bagian dari keluarga suami Hestia.


Berkat itu juga Hestia punya alasan untuk tidak bekerja hari ini. Mengawasi keduanya yang ingin berjalan-jalan mengitari rumah.


"Haha-ue, Yuve melupakan Shio-san. Bisakah Yuve mengambilnya dulu?"


Shio adalah nama kucing peliharaan Yuveria.


Hestia berusaha tersenyum. "Tentu, Manisku. Biarkan teman Chichi yang mengambilnya dan tunggu beberapa saat, mengerti?"


"Baik."


Ketika Hestia beranjak sebentar untuk menghubungi seseorang, Yujerian dan Yuveria kompak saling menatap.


"Haha-ue tidak mau berhenti mengawasi kita." Yuveria berbisik. "Nii, lakukan sesuatu."


Yujerian berpikir sejenak. "Baiklah, berteriak."


Adiknya sudah paham. "Chichi-ue! Yuve ingin es krim!"


Niat mereka, kalau Eros datang dan membawakan es krim, maka kedua orang tuanya mengambil waktu bicara satu sama lain. Tapi ternyata Eros hanya membawakan es krim, lalu ikut mengawasi hingga mereka berdua frustrasi.


Bagaimana caranya menjelajah jika mata Hestia dan Eros terus tertuju pada mereka?


"Kenapa Anda berdua tidak berterus terang pada Tuan Eros?" saran Mandala.


"Apa bisa?"


"Nona Yuveria sangat pandai melakukannya."


Oh! Keduanya langsung tersadar dan saling menganggukkan kepala lagi.


Segera, Yuveria pergi mendatangi Eros.


"Chichi."


Eros mengangkat alis. "Hm?" Tangannya menerima Yuveria, memeluknya penuh sayang. "Apa? Kamu lapar?"


Yuveria mendekatkan bibirnya ke telinga Eros agar bisa berbisik. "Chichi boleh pergi membawa Haha-ue."


Wajah Eros langsung syok. "Hah?"

__ADS_1


"Yuje-nii berkata kita akan tidur bersama nanti. Jika Chichi tidak bersama Haha-ue sekarang, Chichi harus bersabar lebih lama lagi."


Dari mana dia tahu hal semacam itu?! Adalah apa yang mau Eros tanyakan, tapi langsung berpikir benar juga.


Hestia terlalu protektif pada anaknya di rumah ini. Dia yang membiarkan Yujerian dan Yuveria mengamen bahkan tak melepaskan mata mengawasi mereka sekarang.


"Baiklah." Eros mencium jemari Yuveria sebelum menurunkannya. "Pergilah tidur."


Hestia yang sejak tadi hanya mengamati langsung bertanya begitu anaknya pergi.


"Ada apa?"


"Mereka ingin membuat hadiah untuk kamu." Eros akan ingat memberitahu mereka sebelum Hestia menagih kebohongan itu. "Mereka menyuruhku membawamu pergi sebentar."


"Tidak." Hestia kokoh. "Aku akan pura-pura tidur jadi beritahu mereka aku tidak lihat."


Eros harus bangga pada istri dan anaknya yang sama-sama manipulatif.


"Ayolah, Hestia. Mereka juga butuh kebebasan. Tidak ada apa pun di rumah ini. Darius juga tidak melakukan apa-apa."


Mata tajam itu langsung mengulitinya. "Apa maksudmu?"


"Hestia—"


"Jangan ikut campur pada caraku menjaga anakku." Hestia membalas sangat defensif. "Jika kamu bosan dan ingin hiburan, pergi dan cari hiburanmu sendiri. Lagipula sudah lama aku tidak bersama mereka."


Kenapa jadi aku yang dimarahi? "Hestia, aku hanya mencoba—"


"Maka tidak usah mencoba."


"Aku hanya ingin bilang mereka berdua mungkin tidak perlu diawasi. Tenangkan dirimu. Tidak ada apa-apa—"


"Berhenti bicara seolah tahu sesuatu!"


Hestia adalah tipe ibu yang memilih minta maaf pada anaknya jika ada kesalahan daripada membiarkan itu berlarut-larut. Jadi bagi mereka, jarang suara Hestia setinggi itu.


Hestia juga terkejut mendengar suaranya sendiri.


Ia segera berpaling pada Yujerian dan Yuveria, berusaha mengulas senyum singkat. "Gomen ne, Yuuki, Yuui. Mama ukkari koe o ageta." [Maaf yah, Yuuki, Yuui, Mama tidak sengaja berbicara terlalu keras."


Setelah minta maaf, Hestia menarik Eros, untuk melanjutkan pertengkaran di tempat yang tidak dilihat anaknya.


...*...


"Nii, daijoubu?"


Yujerian mengangkat bahu. "Daijoubu daro. Jika kemarahan Haha-ue tidak bisa ditanangi oleh Jiji, maka dia tidak layak jadi pasangan Haha-ue."


"Benar juga."


"Daripada itu, ayo pergi."


Keduanya langsung beranjak tergesa-gesa, tentu diikuti oleh Mandala sebagai pengawal mereka. Sambil bergandengan tangan, Yujerian menarik adiknya untuk mulai melihat-lihat sekitaran secara leluasa.


"Apa Bibi cantik saudara Haha-ue tidak ada?"


"Melia? Anda berdua ingin bertemu?"


"Apa tidak boleh?"


Mandala terdiam sejenak. "Sebenarnya tidak, tapi saya akan membantu jika Anda ingin."

__ADS_1


"Mandala tidak akan dihukum?"


Pemuda itu mengulas senyum samar. "Itu tergantung Anda berdua."


Keduanya ikut tersenyum. Yakin secara penuh sebab mereka sudah cukup lama bersama Mandala.


Ternyata Melia sedang duduk di perpustakaan dekat gazebo, menikmati bacaan santai ketika kedua anak itu muncul.


Jelas Melia terkejut. Tapi sejurus kemudian turun dari tempatnya menghampiri mereka.


"Mana Hestia? Dia tidak menjaga kalian?"


Yujerian dan Yuveria mendongak. "Apa yang Bibi baca?" tanya Yujerian, tak menjawab tanya Melia.


...*...


"Bisakah kamu tidak ikut campur pada caraku menjaga mereka?"


Eros rasa tadi ia berencana membawa Hestia pacaran sekaligus menuruti kemauan anak perempuannya. Kenapa ia malah ditarik untuk bertengkar?


"Apa salah aku berkomentar sebagai ayah?"


"Tidak, tapi aku menganggapnya sangat mengganggu kalau kamu berkomentar tanpa tahu duduk permasalahan."


"Aku tahu. Itu soal Darius—"


"Ketidaktahuanmu," Hestia memotong dengan penuh tekanan pada kalimatnya, "tercermin dari bagaimana kamu menyebut Darius, Darius, Darius di depanku."


Eros mengerutkan kening. "Kenapa itu jadi—"


"Itu masalah bagiku!" Hestia meninggikan suara tanpa sadar, sebelum menarik napas untuk menenangkan diri.


Tenanglah.


Tenanglah.


Jangan gelisah.


Ia tahu Eros tidak bermaksud buruk. Ia juga paham kalau Eros mencoba menghiburnya. Tapi Hestia gelisah dan takut sebab apa pun yang Eros mau, itu tidak mengubah kenyataan Hestia takut.


"Aku menyuruhmu menjaga mereka."


Mulut Hestia tidak bisa berhenti melampiaskan rasa gundanya.


"Aku menyuruhmu menjaga mereka, menempatkan mereka di rumah Narendra, mempercayakan orang asing menjaga mereka karena aku menganggap rumah ini tidak layak bagi mereka!"


"Hestia—"


"Tapi kamu di sini, membawa mereka seenakmu sendiri dan kamu menyuruh aku berterima kasih?!"


Eros mulai terpancing. "Lalu? Aku harus diam melihatmu berada di sini lalu aku berada di tempat lain dan bersikap seakan-akan kita bukan suami istri?!"


"Sebenarnya apa yang kamu harapkan?! Kita sudah bersikap seperti suami-istri bahkan dengan begini! Aku sudah bilang sebelum menerima lamaranmu! Jaga mereka sementara! Aku harus di sini menjaga Melia! Tapi kamu seenaknya mengubah itu, tidak bicara padaku, lalu sekarang aku harus mengerti?!"


"Sampai kapan?"


"Setidaknya sampai—"


"Jawab aku dengan jelas, Hestia. Sampai kapan?"


Eros lebih menekankan kalimatnya agar Hestia mengerti bahwa bukan berarti ia tak bisa marah pada sesuatu.

__ADS_1


"Sampai kapan? Sampai kamu lelah? Sampai kamu muak? Sampai Darius mati? Sampai Melia menikah? Beritahu aku dengan jelas. Sampai kapan?"


*


__ADS_2