
Tentu saja Hestia sempat tak menyangka. Sungguh selama ini ia berpikir Eros tidak terlalu mencarinya, tidak seperti mereka membangun hubungan tertentu.
"Aku mencarimu ke semua tempat. Aku bisa bersabar sewaktu kamu tidak menghubungiku awalnya, tapi menghilang begitu saja, aku tidak bisa."
".... Dasar bodoh." Hestia bingung harus membalas apa. "Berhenti bertingkah sebagai kekasihku."
Eros melepaskan pelukan itu untuk menatapnya. "Apa sulit menikah denganku?"
"Hei, kamu tidak lupa tentang alasan kenapa ayahku membencimu, kan?"
Dia mengalihkan mata sejenak, pertanda dia ingat dengan jelas. "Maaf. Aku bukan melakukannya karena ingin melawanmu."
Mendadak Hestia mau menendang ***********.
Meskipun itu perbuatan Darius, gara-gara orang ini, ia dipukuli. Dan dia pikir dia bisa berkata 'menikah denganku' seolah itu hanya tentang memotong kue setelah memasang cincin?
"Dan," Hestia mendorong dia mundur beberapa langkah, "aku tidak suka pria. Kecuali putraku."
"Karena Darius?"
"Begitulah." Hestia membuang muka. Agak sesak sebenarnya menjawab. "Tidak usah berkata 'tidak semua pria seperti itu'. Aku juga tahu. Banyak pria baik di sekitarku. Tapi aku hanya tidak bisa. Aku tidak bisa menerima pria melewati batas yang kubuat, jadi tidak. Pulanglah."
"Hestia."
"Aku pergi," ucapnya cepat. Ingin menghindar.
__ADS_1
"Nama mereka." Eros menelan ludah. "Bisakah aku tahu?"
Hestia tersenyum lemah. Jadi sampai detik ini dia tidak diberitahu oleh siapa pun? "Yujerian. Yuveria."
Daripada terlalu emosional padahal hanya tentang mengantar orang yang berkata akan kembali sebentar lagi, Hestia langsung berbalik.
Pergi menghampiri Kitamura yang ikut menemaninya sebagai salah satu bentuk keramahan desa terhadap tamu mereka. Juga karena semua orang tahu bahwa Eros ayahnya Yujerian dan Yuveria.
"Dia akan datang lagi?" tanya Kitamura hati-hati.
"Mungkin saja." Eros bilang dia akan datang setelah mengurus pekerjaannya. Mungkin satu bulan lagi.
"Hestia-san, kamu membenci pria itu?"
Dari kejauhan Eros melihat itu. Tidak menyangka ia datang dengan niat membawa Hestia, namun dibuat rumit oleh berbagai hal mengelilinginya.
Setelah melihat wanita itu sekali lagi, Eros jadi menyadari.
Ia tak tahu banyak hal mengenai Hestia. Baik karakternya ataupun lukanya.
...*...
Beberapa hari setelah kepergian Eros.
Salju masih turun dengan lebat. Orang-orang mungkin mulai merindukan musim semi yang kurang dari dua bulan akan datang.
__ADS_1
Setelah pesta pora dan mengikuti berbagai kompetisi sampai dipuji orang-orang desa, kehidupan semua orang kembali normal.
Mungkin kecuali Yujerian dan Yuveria.
Kini mereka duduk di teras rumah, diam memandangi bulir-bulir salju di pagi hari, sementara rumah sepi.
"Chichi-ue tidak melakukan apa-apa." Yuveria bergumam. "Chichi-ue hanya datang dan tidak mengatakan apa-apa."
Yah, kebanyakan karena Yuveria langsung berteriak, makanya Eros diam. Tapi bukannya Yujerian tidak paham.
Adiknya mau dipaksa. Dipaksa dengan cara yang membuat dia tahu bahwa ayah mereka peduli. Sementara Eros malah lebih banyak diam, dan benar-benar diam ketika Yuveria berteriak dia harus diam.
Agak sedikit berbeda dari adiknya, Yujerian berpikir bahwa pria itu tidak mengerti beban yang ia tanggung sendiri. Pria itu memang hanya datang, hanya melihat, hanya kasihan, lalu pergi meninggalkan sepi pada mereka lagi.
Yujerian benci ketidakpastian ini. Perasaan di mana dadanya terus sesak, kakinya gemetaran dan ia terus berpikir mau menyerah karena lelah.
"Jika," Yuveria menggosok matanya yang tiba-tiba basah, "jika sejak awal tidak ada Chichi-ue, kita tidak akan sakit."
Yujerian meraih adiknya dalam pelukan yang rapuh.
Ia tahu sebenarnya apa yang mau Yuveria katakan. Mereka merindukannya.
Punggung yang seminggu ini tak mereka lihat dari belakang.
...*...
__ADS_1