Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
121. Belajarlah Berbohong


__ADS_3

"Aku tidak mengerti mengapa anakku dan anakmu tidak bisa berteman." Sela mengembuskan napas lelah melihat Ririana pergi bermain boneka sendirian.


Yuveria bersama Sahna, Hinatsuru, Gamabunta dan Yujerian bersama-sama sedang membicarakan permainan kesukaan mereka.


"Dia anak yang manis. Kenapa anakmu malah membenci dia? Hei, jangan tularkan keburukan pada anakmu!"


Hestia sedang sibuk terbatuk-batuk. Suara batuknya terdengar memantul, dan suara Hestia nyaris tak bisa keluar. Tapi Hestia tetap berusaha.


"Mereka berdua memiliki kesamaan, menurutku."


"Sama sekali tidak!"


"Benarkah? Aku melihat Ririana selalu berjalan bersama geng ciliknya di sekolah. Gadis-gadis seperti Yuve dan Ririana selalu bersaing mengumpulkan orang untuk menentukan kemenangan."


"Lalu anakku kalah dan terbully?" Sela menggeram kesal. "Sial!"


"Yah, tapi ...." Hestia melihat Yujerian mengatakan sesuatu pada Yuveria, lalu menunjuk tempat Ririana.


Meski ekspresi Yuveria sempat retak, dia mengangguk, membiarkan Yujerian pergi.


"Ini pertama kali aku melihat Yuve tidak melarang Yujerian pergi. Keberadaan Sahna nampaknya meredam Yuve."


Sela tersenyum tiba-tiba. "Bukankah ini pemandangan 'calon jodoh masa depan?'."


"Jangan merusak nasib Yujerian dengan anak biasa seperti anakmu." Melia tiba-tiba duduk, bergabung bersama sepiring mochi dingin. "Anak itu akan berjodoh dengan seseorang yang sama hebat dengannya. Bukan orang lemah atau orang yang perlu dibantu bergaul."


Hestia terkekeh melihat Sela seperti ingin membunuh orang. Namanya juga ibu. Tidak mungkin dia tahan anaknya dihina.


Untuk meredam marahnya, Sela menyambar mochi di piring itu, memakannya bulat-bulat.


Hestia yang juga ingin merasakan ikut mengambil, mengunyah rasa manis dan kenyal bersama dingin di mulutnya—

__ADS_1


"Haha-ue." Yujerian tiba-tiba bersuara. "Jika Haha-ue tidak bisa menahan diri, maka aku akan menyuruh Yuve menjaga Haha-ue selama dua minggu penuh!"


Hestia terkesiap. "Hai! Sumimasen deshita!" [Siap, Pak. Saya mohon maaf.]


Suara tawa terdengar. Yuveria ikut tergelak melihat ibunya dimarahi. "Haha-ue memang seperti anak kecil nakal. Jika tidak dijaga, Haha-ue akan langsung membuat masalah. Nee, Nii?"


Sela yang tertawa paling kencang.


Menertawakan Hestia.


"Kamu dimarahi oleh anakmu? Bwahahaha! Pergilah dulu belajar menjadi ibu di sekolah khusus ibu, Hestia!"


Melia mengunyah mochinya, tenang-tenang saja. "Seorang anak lebih waras dengan ibu yang tidak mendominasi, tapi bersikap adil. Jika hubungan orang tua dan anak hanya tentang orang tua memarahi anak dan anak tidak boleh menegur orang tua, maka ucapkan selamat datang pada dunia diktatorial."


Tawa Sela langsung hilang, digantikan oleh tawa Astria. Nampaknya dia tak mau kalah, langsung ikut ke meja Hestia.


"Benar, benar. Jangan selalu egois memarahi anakmu, duhai Mama Muda Pemarah. Bisa jadi kamulah yang harus dimarahi juga."


Hestia hanya tertawa. Sedang tak punya suara meladeni perdebatan tak penting tentang siapa yang boleh memarahi siapa dalam ekosistem keluarga.


Tak sengaja Hestia melihat Eros dari jendela, nampaknya juga asyik mengobrol dengan para pria di luar sana.


Pria itu memberi isyarat agar Hestia segera beristirahat dan membiarkan penjagaan anak-anak pada yang lain saja, tapi Hestia menggeleng.


Malam ini ... rasanya ia harus nikmati karena besok adalah malam terakhir.


...*...


"Yuve, Yuje, chotto." [Yuve, Yuje, kemari sebentar.]


Eros agak tidak terbiasa sebenarnya waktu dua anak itu langsung datang dengan wajah 'iya, Ayah' dan bukan 'nanda, Jiji' mereka.

__ADS_1


Tapi jika Eros meledek, mereka yang sama-sama tsundere akan sengaja bersikap dingin lagi, jadi Eros pura-pura terbiasa.


Begitu mereka datang, Eros berjongkok, menyamakan tinggi badan mereka.


"Ada sesuatu yang ingin Ayah lakukan."


"Membuat Haha-ue marah lagi?" tanya Yuveria polos.


Eros tertohok, apalagi ketika Yujerian menahan tawa dengan kesan mengejek.


Iya, sih, terakhir kali Eros bilang mau melakukan sesuatu, ujungnya malah bertengkar dengan Hestia.


"Dengar, Yuve." Yujerian berbalik pada adiknya. "Di saat seperti ini, bersikap jujur itu menyakitkan jadi belajarlah berbohong."


Eros ingin menepuk dahi. Tak bisa melawan memang ledekan dua anak ini. "Baiklah, dengar. Ayah ingin membawa Ibu ke laut sebentar."


"Nanda, sore dake?" Yuveria berkacak pinggang santai. "Baiklah, Yuve akan menyiapkan—" [Lah, hanya itu?]


"Yuve, berdua, tidak boleh?"


Mereka berdua kompak mengerutkan wajah, tanda tidak senang. Tapi meski Eros selalu berada di pibak lemah melawan anaknya, ia tak pernah benar-benar lemah dalam meminta.


"Bisakah?"


"Demo—"


Yujerian menghentikan Yuveria. "Yokaro." [Baiklah.]


"Nii."


"Lalu, apa yang harus kami lakukan?"

__ADS_1


...*...


__ADS_2