Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
112. Hubungan Ayah dan Anak


__ADS_3

"Siapa yang mengajarinya bernyanyi? Kamu?" tanya Eros lagi, tak bosan mendengar cerita tentang anaknya.


"Awalnya aku mengajari mereka bahasa." Hestia memejam. Membiarkan tangan Eros membelai wajahnya. "Agar menyenangkan dan sesuai dengan kondisi otak mereka, aku membuat irama. Lama-lama aku melihat bakat bernyanyi Yuveria ternyata tinggi, jadi aku mengajari mereka bermain alat musik agar bisa bermain sendiri."


"Lalu?"


"Pagi hari aku menemani Yuveria bermain piano, mengecek hasil rakitan gundam Yujerian, lalu malam harinya aku pulang, aku mendengar nyanyian Yuve dan melihat kerangka baru yang mau Yujerian rakit."


"Bela diri?"


Hestia tertawa lagi. "Itu agar mereka menjaga diri. Kadang-kadang, aku tidak bersama mereka, jadi lebih aman jika keduanya mahir."


Waktu yang bergulir serasa tidak penting karena Hestia terus menceritakan segala hal tentang mereka.


...*...


Hestia sudah memikirkannya berhari-hari, tapi sesuai dugaan, ia tak tahu apa yang harus dipikirkan ketika bertemu Darius.


Meskipun ia melihat ayahnya berdiri di lorong rumah sakit, di mana ia hafal ekspresi Darius sekarang adalah keputusasaan, Hestia masih tak tahu harus apa.


Puas? Tidak juga.


Senang? Tidak juga.


Marah? Tidak tahu.

__ADS_1


Lega? Rasanya juga tidak.


Tidak tahu.


Hestia hanya mendekat, mendekap tubuh pria yang bertahun-tahun jadi momok di hidupnya itu.


Cinta dan benci mungkin membaur ketika seharusnya itu terpisah, karena itulah Hestia tak tahu perasaannya sendiri. Ia benci dipukuli Darius, tapi Hestia ingat bahwa Darius mencintainya ketika dia tak sedang memukul atau marah pada Hestia.


Hubungan ayah dan anak tidak sesederhana hubungan suami istri, lelah bisa cerai, muak bisa langsung ke pengadilan menunggu ketukan palu hakim.


"Hestia."


Jadi pada akhirnya dia tetap tidak bisa minta maaf?


Tapi entah kenapa Hestia sudah puas.


"Papa terlihat lelah." Hestia melepaskan pelukan mereka. Mengusap lengan ayahnya yang nampak kurus. "Pulanglah, Pa. Istirahat. Papa tidak boleh sakit."


Hestia sudah lupa kapan terakhir kali ia benar-benar mengkhawatirkan Darius atau mengucapkan kekhawatiran tanpa ada rasa mual.


Padahal biasanya ia harus menahan lambungnya bergejolak.


"Hestia."


"Hm?"

__ADS_1


Darius memeluknya. "Saya mencintai kamu. Selalu."


Ya. Itu terlihat jelas sekarang. "Aku juga, Pa."


Tentu Eros menyaksikan mereka. Bagaimana Darius memeluk Hestia penuh ketakutan, dan Hestia membalasnya penuh kelegaan.


Dari pemandangan ini Eros belajar.


Yujerian dan Yuveria tidak pernah tahu bagaimana beban Eros mencari mereka, menanti mereka, bersabar membujuk mereka. Mereka tidak pernah tahu dan terus saja menyalahkan.


Tapi meski anak-anak itu tidak tahu, bukan berarti mereka tidak terluka.


Seperti Darius dan Hestia.


Darius selalu melakukan segalanya menurut apa yang dia rasa benar. Apa yang terbaik bagi Hestia, apa yang terbaik bagi masa depan Hestia. Saking fokusnya, dia lupa menanyakan pendapat Hestia.


Lupa melihat apakah Hestia terluka atau tidak.


Eros tidak akan jadi seperti mereka. Bahkan kalau Yujerian dan Yuveria masih terus mengatainya pak tua atau bahkan menyumpahinya mati saja, Eros akan bersabar.


Karena mereka berdua juga terluka. Mereka berdua juga punya beban seperti Eros punya beban.


Jangan sampai anaknya menjadi seperti dua orang ini.


Darius yang terlihat mau minta maaf tapi tak tahu bagaimana caranya karena ego orang tua, dan Hestia yang juga tidak tahu bagaimana caranya berkata 'aku memaafkan Papa'.

__ADS_1


Biar mereka berdua saja.


*


__ADS_2