
Eros bergegas keluar meninggalkan kamar anaknya, beranjak terburu-buru keluar.
Ia meminta Norman tetap di sana menjaga mereka juga, sementara Eros melajukan mobilnya menuju kediaman Hestia.
"Ada apa?" Begitu jawab Wija pada panggilan Eros. "Jika soal Hestia, aku tidak—"
"Aku menunggumu di depan rumah Hestia sekarang. Jika kamu terlambat, akan kuluncurkan misil ke rumahmu."
"Hei!"
Eros tidak peduli. Diam menunggu sampai Wija buru-buru datang meski sebenarnya itu cuma ancaman.
Dia marah-marah tapi tetap melakukan seperti kata Eros, yaitu minta izin masuk ke kediaman Hestia karena punya urusan pekerjaan.
Di belakangnya, Eros memakai masker dan kacamata hitam, berpura-pura sebagai rekan bisnis dari jauh yang punya urusan darurat dengan Hestia.
Jika dia tidak mau, maka Eros tidak akan memaksanya. Tapi, Eros juga tidak akan menyerah.
Ia harus memiliki Hestia agar bisa bersama anaknya. Dan sejak awal, sejak dulu sekali, Eros mengais lubang cacing hanya demi menemukan dia.
Karena itu Eros tidak keberatan asal bisa mendekapnya. Apa pun yang dia mau.
"Apa?" Hestia tersentak ketika di dalam kamar, Eros langsung memeluknya.
Sejenak dia bingung, namun dia mengenali aroma Eros. "Ada apa? Yuuki dan Yuui membuatmu menangis?"
Eros memeluknya kuat-kuat.
Perkataan Mandala membuatnya sadar bahwa Hestia juga sama kecilnya dengan Yuveria dan Yujerian.
Dia juga terluka. Dia juga kesepian dan butuh seseorang menolongnya.
Kenapa Eros tidak sadar setiap kali dia berkata dia tidak percaya pada laki-laki itu bukan berarti dia menganggap semua laki-laki sama, namun justru takut percaya, takut bergantung lalu terluka?
"Eros, kenapa kamu—"
"Aku merindukanmu." Eros melempar masker dan kacamatanya sebelum menjemput bibir Hestia. "Aku merindukanmu. Memangnya salah?"
"Hei, Gila, aku tidak—"
"Maaf." Eros mengecup wajahnya dan menarik Hestia semakin terkubur dalam pelukannya. "Maaf karena tidak mengerti dengan lukamu. Maaf meninggalkan kalian."
"Kenapa kamu jadi—"
"Aku akan minta maaf pada ayahmu dan menyerahkan semua yang dia mau jika itu syaratnya menikahimu."
"Setidaknya biarkan aku bica—"
"Aku akan memberitahu ibuku bahwa ibu anakku adalah kamu agar—"
"Aaaakkkkhhh! Diam!"
Wija yang menyaksikan mereka hanya menatap bosan. "Aku bingung denganmu, Eros. Dia Hestia. Kamu mau melamar dia dengan kata 'aku mencintaimu, kamu satu-satunya jadi terimalah cintaku'? Otakmu sedang berpindah tempat?"
__ADS_1
Napas Hestia memburu lelah. Ia buru-buru melepaskan diri dari Eros, menghirup napas banyak-banyak lantaran sesak dipeluk-peluk.
Sebelum dia mengatakan sejumlah omong kosong, bisakah setidaknya Eros membiarkan orang bicara dan menjelaskan kenapa dia tiba-tiba muncul?
Memang dia hantu, datang tidak diundang?
"Oke, tenang." Hestia berkacak pinggang. "Pertama, kurasa aku tidak perlu bertanya bagaimana kamu masuk dengan masker dan kacamata itu. Jadi langsung saja kedua, kenapa tiba-tiba kamu datang memelukku?"
Wija berbisik, "Mungkin dia sedang bosan. Atau anakmu membuatnya mau mengadu."
"Hestia." Eros lagi-lagi menghampirinya. "Apa menurutmu Yujerian dan Yuveria akan bahagia jika kamu menikahi Yohannes?"
"Aku tidak bermaksud memasukkan mereka berdua ke keluarga Gouw. Mereka anakmu, hanya anakmu, untuk sementara waktu."
"Mereka bisa jadi anakku dan kamu."
"Eros, berhenti mengatakan omong kosong—"
"Aku tidak pernah memukul wanita seumur hidupku."
Hestia tertegun. Jelas itu tabu baginya menyinggung hal-hal tentang kekerasan. "Diam," ucapnya defensif.
"Aku tidak pernah sedikitpun menghina atau memukul wanita."
"Kubilang diam."
"Dan jika kesabaranku begitu sedikit, apa menurutmu enam tahun ini aku mencari dan bersabar? Aku tidak akan menyakitimu. Aku bersumpah."
Ah, telinga Hestia berdengung.
Hestia menunduk muram.
"Saat ibuku sakit, tidak ada satupun orang yang berada di sisinya."
"Hestia."
"Kecuali Darius."
Punggung Hestia bisa merasakan Wija mengusapnya naik turun. Jelas dia tahu, karena Hestia pernah memberitahunya.
"Darius yang menghiburku saat ibuku mati. Darius yang bersama ibuku saat ibuku sekarat. Darius bersabar. Darius mencintai kami." Hestia menatap Eros mati. "Lalu Darius memukuliku."
"...."
"Kutanya padamu, Eros. Apa harga sumpahmu? Apa lebih kental dari darah ayahku?"
"...."
"Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu siapa kamu. Orang asing yang kebetulan memberiku air hingga kedua anakku lahir. Apa yang membuat kamu jauh lebih berharga dari Darius? Beritahu aku."
Hestia menghela napas lelah ketika Eros diam saja.
"Apa menurutmu hubunganku dengan Darius hanya hal sesepele itu? Jika dari lahir dia memperlakukanku seperti sampah, rumah ini sudah kuledakkan bersama Darius. Aku tidak lemah juga tidak bodoh."
__ADS_1
"...."
"Tapi tidak. Aku mengingat jelas cintanya padaku yang tidak akan pernah kamu mengerti. Jadi sumpahmu sedikitpun tidak berharga. Jika kamu mengerti, berhenti bicara seakan kamu memahami sesuatu. Pergilah."
"Apa ...." Eros menyentuh jemarinya hati-hati. "Apa itu berarti kamu tidak merasa terluka?"
Perkataan itu membuat Hestia tercekik.
"Kamu tahu Darius mencintai kamu, lalu dia memukuli kamu, karena itu kamu bertahan. Lalu, apa itu berarti kamu tidak terluka?"
"...."
"Apa itu salahmu jika terluka?"
Eros menarik tangan Hestia di bibirnya. Mengecup samar dengan mata mengerjap lembut.
"Aku akan berlutut pada Darius jika kamu tidak ingin aku menyentuhnya. Jika kamu tidak ingin aku bersumpah, maka baik. Aku hanya akan berkata, aku menginginkanmu."
Orang itu pergi, meninggalkan bekas-bekas kehadirannya dalam hening kamar Hestia.
*
Sekembali dari kediaman Hestia, Eros hanya mampir untuk mandi dan mengambil anak-anaknya.
Yuveria tidak lagi canggung memeluknya duluan dan terasa tidak dibuat-buat, tapi Yujerian diam seolah ada sesuatu yang dia pikirkan.
Kembali mereka memakai helikopter menuju kediaman Eros, langsung disambut oleh seluruh keluarganya yang kebetulan sedang berkumpul di halaman untuk sarapan bersama.
Kedua anaknya langsung jadi bulan-bulanan. Tapi berbeda dari waktu itu di mana mereka sengaja bersikap norak agar Eros dimarahi, kini mereka canggung mendekat.
Yuveria memeluknya, Yujerian memegangi celananya dari samping kaki Eros.
"Yuveria, Yujerian, ayo kemari. Ayo peluk Oba. Ayo, ayo."
"Ibu, mereka bukan ayam dan anjing." Eros menghentikan tingkah ibunya yang menggerak-gerakkan piring, umpan agar cucunya mendekat. "Yuve tidak ingin turun?" tanyanya lembut pada sang anak perempuan.
Ternyata dia masih malu karena kemarin menangis.
Astria yang tidak mau kehilangan momen memilih mendekati Yujerian. "Hmm, sepertinya dia melupakan kita, Ibu. Sini, Sayang. Ini Bibi—hei, apa bahasa Jepangnya bibi?"
"Baba." Eros menjawab tenang. [Nenek tua.]
Tapi kedua anaknya spontan menutup mulut, karena tahu artinya.
Astria yang tidak mengerti, menerima itu begitu saja. "Ayo, Sayang. Kemari, bersama Baba."
Yuveria terkikik di pipi Eros. "Chichi ijiwaru." [Ayah usil sekali.]
Hangat rasanya dia sungguh sudah menerima Eros. "Sou? Mite are? Baba deshou?" [Benarkah? Lihat itu. Nenek tua, kan?]
"Tashika ni." [Iya, sih.]
Eros mengulurkan tangan dan mengusap kepala Yujerian. "Nani?" [Apa?]
__ADS_1
Anaknya menggeleng. Balas mendongak. "Ori ro, Yuve." [Turunlah, Yuve.]
*