
Bahan makanan di rumah sudah menipis, hari ini Yujerian rasa mereka harus makan makanan berat agar Hestia kembali bersemangat. Jadi ketika pagi menjelang siang tidak terlihat akan ada badai susulan, Yujerian keluar untuk membeli bahan makanan.
Adiknya sempat menangis mau ikut, tapi dia sendiri paham tidak meninggalkan Hestia sendirian di rumah.
Di pasar, Yujerian lebih dulu ke toko daging untuk membeli bahan makan utama. Setelah itu ia mampir membeli sejumlah sayuran, agak sedikit menyesal tidak menyiapkan stok sebelum musim dingin tiba.
"Yuuki."
Anak itu menoleh. Menemukan Kitamura ternyata juga sedang membeli beberapa bahan makanan bersama cucunya, Hinatsuru.
"Oji-ue. Konichiwa." [Halo, Paman.]
"Kaimono? Yuui wa?" [Belanja? Adikmu di mana?]
"Haha sedang sakit jadi aku memintanya menemani di rumah."
"Yuu-niichan!" Hinatsuru menyapanya ceria. "Ano ne, tahun baru nanti katanya akan ada pesta besar diadakan!"
Hinatsuru agak memusuhi Yuveria meski bukan dalam arti sangat buruk. Sebenarnya dia cuma iri pada Yuveria karena punya kakak laki-laki yang tidak marah diajak bergandengan ke mana-mana dan akan menyuapinya makan kapan saja, jadi Hinatsuru menggunakan kelemahan Yuveria yaitu ayah agar mereka seimbang.
"Bukankah memang akan ada festival?"
"Chigau no! Katanya akan ada seorang tamu penting datang! Kita akan menghias desa mulai hari ini. Niichan juga ikut, kan?" [Bukan itu.]
Kenapa tiba-tiba? "Oji-ue, siapa yang akan datang?"
Kepala desa memiringkan wajah bingung. "Sebenarnya Paman juga tidak mengerti. Sepertinya itu dari keluarga kaya yang ingin berlibur lalu memutuskan mensponsori perayaan."
Perasaan Yujerian tidak enak.
"Lalu, lalu, Yuu-niichan juga bisa mengikuti banyak lomba menyenangkan! Aku mendengarnya dari Papa bahwa mereka akan mengadakan banyak pertandingan seru. Yuu-niichan bisa bersenang-senang."
__ADS_1
Yujerian tersenyum. "Aku akan menantikannya kalau begitu. Oji-ue, Hina, aku permisi dulu. Haha dan Yuui hanya berdua di rumah."
"Bye-bye!"
Jangan bilang ....
Tidak.
Pasti tidak mungkin.
...*...
Sela menatap aneh suaminya yang sejak tadi miring kanan miring kiri menatap layar ponsel. Sambil memicing, wanita itu curiga ada sesuatu di ponsel itu ketika melihat dia malah memandangi email kosong.
"Ada apa?"
Wija menghela napas. "Aku sedang berpikir akan dibunuh seperti apa."
"Antara kamu dan Hestia, siapa yang lebih bisa membunuh dengan brutal?"
Sela melipat tangan. "Hestia."
Setidaknya Sela jika ingin membunuh orang tinggal ia beri racun tikus agar muntah busa dan mati. Tapi kalau Hestia, sepertinya dia akan memutilasi dulu korbannya atau menguliti orang itu atau merebusnya hidup-hidup.
"Kenapa dengan Hestia?"
"Aku tidak memberitahunya bahwa Eros mencari dia enam tahun terakhir."
"Hmmm, lalu?"
"Eros di Jepang."
__ADS_1
Baru Sela tersedak karena mengerti. "Jangan sampai! Aku belum mau jadi janda!"
Wija menatap serius wajah istrinya. "Lalu bagaimana aku harus selamat, Sayangku? Beri aku ide."
Keduanya berpikir keras. Sungguh ini bukan main-main. Hestia jika marah, itu jauh lebih menakutkan daripada hantu di film-film.
Selama ini dia menghindari berbagai gangguan dan sepertinya sudah sangat betah hidup di Jepang. Bahkan kalau tidak dikirimi email rasanya tidak akan pernah dia menghubungi Wija.
Yang dia limpahkan cuma uang dan pekerjaan agar tetap jalan.
"Mommy, ada apa?"
Putri mereka yang berusia enam tahun datang dan melihat kedua orang tuanya saling berhadapan.
"Kemari, Sayang." Sela langsung mendekapnya. "Doakan Daddy agar tidak mati, yah?"
"Kenapa Daddy mati?"
Wija menutup wajahnya dramatis. "Karena Daddy bekerja dengan iblis."
"Vampir?"
Wija tak menjawab, hanya menatap ponselnya sambil terus ragu apakah harus memberitahu.
Jika ia bilang tiba-tiba Eros ada di Jepang mencarinya, pasti Hestia akan langsung tahu bahwa Wija tidak melaporkan hal itu dari awal.
Tapi kalau diberitahu, dirinya sungguhan akan jadi bubur.
"Istriku." Wija mengangguk serius pada istrinya. "Ayo pura-pura tidak tahu."
Itu adalah jalan teraman.
__ADS_1
*