Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
66. Ojamashimasu


__ADS_3

Ayah mereka datang memeluk wanita yang terlihat paling tua, lalu segera memperkenalkan mereka.


"Mereka Yujerian dan Yuveria."


Yujerian dan Yuveria mengangguk satu sama lain sebelum membungkuk sembilan puluh derajat, sebagai sebuah kebiasaan orang Jepang.


"Ojamashimasu!" [Halo.]


Eros tersenyum melihat tingkah mereka. Apalagi ibunya sampai menutup mulut, tak dapat menahan gemas pada penampilan dan suara mereka.


Sampai kemudian—


"Kami anak Chichi yang 'tinggal' di Jepang selama enam tahun. Kami 'baru mengetahui' Chichi kemarin jadi kami 'tidak terlalu mengenalnya'. Meskipun kami 'orang asing', terima kasih sudah 'menyambut' kami."


Apa yang mereka ....


"Rumah Chichi sangat besar!" Yuveria merentangkan tangan seolah menggambarkan sebesar apa. Tingkahnya imut, omongannya yang tidak. "Waktu kami di Jepang, kami tinggal di rumah yang sangaaaaaat sempit. Chichi sangat hebat!"


"Yuve, kenapa—"


"Ada air mancur juga, Yuve." Yujerian yang biasanya terlampau dewasa tampak seperti bocah sungguhan, menunjuk air mancur mereka. "Wooooa, lihat itu. Apa di sana ada ikan? Apa kita bisa memancing juga?"


"Yuje-nii, ayo tangkap ikan dan buat sashimi! Yuve sudah lama tidak makan ikan!"


Ah.


Mati Eros.


"Lama tidak makan ikan? Rumah sempit?"


"Ibu—"


Nyonya Laura menutup kipasnya dengan sekali gerakan. "Enam tahun baru bertemu, kata mereka? Jadi bukan menyembunyikannya tapi lepas tanggung jawab?"

__ADS_1


"Ibu, dengarkan aku dulu. Mereka hanya—"


"Nii! Jika ada udang di sini, kita bisa makan enak!"


TADI MEREKA MAKAN STEAK BERKUALITAS!


"Eros, ikut Ibu. Astria, bawa keponakanmu makan. Berikan mereka makanan yang mereka inginkan."


Adiknya membuat sikap hormat. "Siap."


Tak lupa menjulurkan lidah pada Eros yang sebentar lagi akan dapat ceramah super duper panjang.


Dasar anaknya Hestia!


...*...


"Apa kalian lapar?"


Tidak, pikir mereka berdua meski kompak berkata, "Iya, Bibi."


"Benarkah?!" Yuveria sangat tahu cara berbinar-binar hingga orang lain gemas. Manipulatif adalah sifat dasar adiknya. "Kalau begitu, Bibi, bisakah kami makan cumi bakar?"


"Tentu saja."


Lalu keduanya duduk di atas meja, memasang wajah kecewa karena benar-benar berharap melihat cumi bakar.


Maksud mereka adalah cumi bakar yang diberi tusukan seperti es krim lalu dibakar dengan bumbu khas Jepang. Bukan bumi bakar di atas piring yang nampak habis dibakar hidup-hidup.


"Dasai." Yuveria berbisik padanya. "Ika-san kawaisou ni." [Jelek. Tuan Cumi-cumi kasihan sekali.]


Yujerian menangkup kedua tangannya, berdoa untuk ketenangan cumi-cumi yang dipanggang sembrono—bagi mereka.


Cumi-cumi hanya bisa dimakan mentah atau dibakar sesuai standar, itu adalah keyakinan mereka berdua.

__ADS_1


"Hm? Kalian bicara apa? Ada apa? Kalian tidak makan?"


Yuveria membuat wajahnya sedih. "Haha sangat suka makan cumi."


Sebenarnya Hestia tidak suka cumi.


"Haha? Apa itu Haha, Yuveria?"


"Ibu." Yujerian menjawab. "Ibu kami."


Wajah Astria dirambati kepelikan untuk sesaat. "Bisakah kalian memberitahu siapa nama ibu kalian?"


"Chichi melarangnya."


"Kenapa?"


"Tidak tahu."


Padahal tidak pernah Eros berkata begitu, meski memang tidak boleh sekarang menyebutkan Hestia.


Astria terus bertanya tentang keduanya, yang dijawab dengan kebohongan-kebohongan menyedihkan sampai Eros kembali bersama pipinya yang memerah, habis ditampar.


Senyum Yujerian dan Yuveria berkembang lebar.


"Chichi!" Seolah bukan karena ulah mereka Eros ditampar, Yuveria malah memanggilnya penuh semangat.


Tapi sejujurnya mereka berdua terkejut sewaktu Eros datang memeluknya juga, tanpa sedikitpun menyinggung keusilan mereka.


Diam-diam Eros tahu pikiran keduanya. Dilihat dari ekspresi mereka, Eros langsung tahu keduanya mengetes Eros.


Mau marah, sih. Gara-gara mereka, ia ditampar. Namun Eros segera sadar bahwa mereka berdua memang tidak mungkin berubah jadi baik tanpa alasan jelas.


Jika ia bisa memeluk Yuveria sebebas ini, diusili dan dibully pun tidak masalah.

__ADS_1


...*...


__ADS_2