
"Kenapa hanya Yuve yang harus melakukan hal memalukan itu?!" teriak Yuveria yang kini mondar-mandir di kamar sambil mengacak rambut panjangnya frustrasi. "Yuje-nii juga harusnya berbuat sesuatu! Kenapa hanya Yuve?!"
Yujerian membuang muka. "Suman," gumamnya. "Nanka iyada." [Maaf. Entah kenapa aku tidak mau.]
"Atashi mo iya yo!" [Aku juga tidak mau, tau!]
"Tapi Yuve adalah wanita dan dia adalah pria. Jadi Yuve saja yang melakukanya."
Kenapa mereka bertengkar?
Tentu saja karena itu sangat memalukan bagi mereka harus bertingkah seperti itu di depan Eros.
Walau benar kata Mandala, dia terlihat sangat emosional dan ekspresif hanya karena Yuveria berkata 'suka', tetap saja memalukan.
Sejujurnya, mungkin itu bukan kebohongan. Mereka berdua sudah lama merindukan Eros dan sangat ingin dimanja olehnya. Tapi kenyataannya mereka juga sudah lama menjauh dari Eros.
Tentu saja mereka berdua gengsi.
"Huaaaaaaa, Yuve mengotori karakter Yuve karena Nii!"
Mandala yang melihat itu berusaha tidak terlihat tertawa. Mata Yujerian melihat, tapi ia tak menegur karena memang tidak masalah.
Yah, mungkin ... jika Yujerian bersikap baik pada Eros, Yuveria juga akan melakukannya dengan senang hati.
Adiknya sejak dulu hanya mengikuti langkah Yujerian. Ke mana Yujerian pergi, apa yang Yujerian mau, apa yang Yujerian pikirkan, menurut Yuveria harus sama karena mereka kembar.
__ADS_1
Tapi berbeda dari Yuveria yang mencampur-baur perasaannya dengan rindu kuat, Yujerian benar-benar membenci Eros.
Kebencian karena dia tidak memenuhi ekspektasi Yujerian.
"Apa Yuve benar-benar tidak suka?"
"Tidak!"
Yujerian berjongkok di karpet adiknya sedang meratap. "Bukankah Chichi-ue sekarang akan menggendong Yuve lagi?"
Adiknya berguling memunggungi Yujerian. "Baka," gumam dia samar. [Bodoh.]
".... Kita lakukan saja sesuai rencana. Yuve bisa melakukannya untukku, kan?"
Sebuah hal yang terlalu jelas bagi Yujerian bahwa adiknya ... menyukai saat dia dekat dengan Eros.
...*...
Hestia mengulas senyum pada Darius. "Aku menyerahkan keputusan pada Papa."
Meski ia tahu, dengan pasti, bahwa hal selanjutnya adalah ....
"Maka secepatnya kalian menikah."
Melia terkekeh senang, begitu pula Tamara.
__ADS_1
Niat mereka hanya agar Hestia berkata tidak lalu Papa memukulinya. Tapi kalau tidak pun, pada akhirnya Hestia akan tersiksa.
Kedua anaknya tidak akan berkata iya begitu saja jika sampai Hestia menikah dengan orang yang tidak ia sukai.
Dan jika dia menikah, maka Hestia akan semakin terkekang dalam keluarga ini juga keluarga Gouw milik Yohannes hingga ia mungkin akan semakin sulit menemui anaknya.
Kamu berkembang dengan baik. Hestia melirik adiknya yang semangat membicarakan perencanaan pernikahan. Pukulan Papa membuatmu berkembang dengan baik.
Jika Hestia menjadi dia, mungkin ia akan melakukan hal sama. Yang namanya rencana tidak boleh hanya menargetkan satu hal.
Karena sesuatu tidak selalu berjalan sesuai harapan.
...*...
Hestia masih mengikuti permainan sampai akhir makan malam. Ketika ia beranjak, Yohannes juga beranjak. Hestia diminta mengantarnya sampai ke depan.
"Nona mungkin merasa terkejut dengan hal ini." Pria itu membuka suara lagi. "Saya ingin mendekati Nona secara alami sebelum pembicaraan pernikahan bisa dilakukan, tapi ternyata Melia sudah melakukannya dan melibatkan orang tua kita."
Jadi dia cuma dijebak. "Apa Yohannes menyukai saya?"
Yohannes meremas kedua jarinya, agak canggung. "Sejujurnya, saya sejak lama tahu pernikahan memang kadang dilandasi perjodohan demi keuntungan masing-masing. Ketika mendengar Nona Hestia tiba-tiba kembali muncul, keluarga saya otomatis menganggap itu peluang agar saya mendekat."
Jujur sekali. Orang ini polos ternyata.
...*...
__ADS_1