
Hestia mengepal tangannya penuh emosi. "Haruskah sekarang kamu bertingkah kekanakan begini?"
"Kenakan? Baik. Aku kekanakan. Aku kekanakan karena khawatir padamu, aku kekanakan karena ingin keluarga kita utuh, aku kekanakan karena ingin kamu lebih bebas."
"Aku tidak butuh bantuan atau kekhawatiran!"
"Lalu aku hanya boleh diam meskipun aku ingin istri dan anakku berkumpul?!"
"Aku dan kamu baru menikah! Baru bertemu! Berhenti bicara seakan aku ini bagian dari hidupmu sejak lama!"
Eros memukul tembok tepat di samping Hestia, berusaha mengatur napasnya yang memburu tak terkendali.
Matanya nyalang menatap Hestia yang kini juga terkuasai oleh emosi dan perasaan tak terkendali dalam dirinya.
Mereka berdua diam-diam tahu mereka bersalah, tapi seseorang tidak disebut manusia jika setiap saat mereka bisa mengikuti rasionalitas.
"Apa yang Darius lakukan padamu sebenarnya?" Eros bergumam rendah. "Apa yang Darius lakukan di sini? Hah? Memutilasi adikmu? Membakar kalian hidup-hidup? Tidak ada yang dia lakukan! Dia tidak melakukan apa yang dia lakukan dulu jadi bisakah kamu berhenti memusingkan masa lalu yang sudah lapuk?!"
Sesaat setelah Eros mengatakannya, ia berharap mulutnya robek lima detik yang lalu.
Ekspresi Hestia yang sempat dikuasai amarah berubah kosong. Matanya berkaca-kaca dan sedikitpun tak menahan saat pipinya mulai basah.
Lapuk?
Lapuk dia bilang?
Rasa sakit itu, penderitaan bertahun-tahun itu, semua yang tiba-tiba selesai itu katakan sudah lapuk?
"Kamu benar." Hestia mendadak bergumam parau. "Itu memang sudah lapuk. Aku yang berlebihan."
"Hestia, maksudku—"
"Aku seharusnya lebih memikirkan Yujerian dan Yuveria. Tentu saja. Aku mengerti."
Hestia menancapkan kuku pada lengannya sendiri tanpa sadar. Eros pun tak sadar sebab matanya menatap Hestia yang tampak kosong saat menangis.
"Aku mengerti. Aku yang berlebihan. Itu salahku."
"Hestia, dengar. Aku hanya ingin bilang bahwa—"
"Jangan bicara padaku." Wanita itu terus menyakiti lengannya saat berlalu meninggalkan Eros. "Mulai sekarang jangan bicara padaku."
Ketika Hestia menunduk melihat lengannya yang memerah, ia mencakar kuat-kuat sampai darah merembes dari kulitnya.
Sedikitpun Hestia tidak meringis. Justru tersenyum, dan menambah luka di sana.
Jadi begitu. Karena itulah Melia sangat suka menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
Ternyata sakit ini membuat waras ketidakwarasan di benaknya.
...*...
"Apa yang Bibi baca?"
Melia melirik buku di tempat duduknya dan berpaling menatap anak Hestia. Mata mereka yang berbinar polos tapi penuh kecerdasan tidak bisa disembunyikan.
Padahal mereka tahu Melia memusuhi ibu mereka. Kenapa mereka mengajaknya bicara?
"Hanya buku untuk pelajaran." Melia bukan pengecut yang mencekik leher anak kecil agar kakaknya menderita. Jadi ia kembali duduk, membiarkan kedua anak itu ikut duduk di sampingnya.
"Buku pelajaran? Kenapa Bibi yang sudah dewasa masih belajar?" tanya Yuveria.
"Belajar bukan kegiatan anak kecil saja."
Yujerian melihat buku di tangan Melia penuh kalkulasi. "Bibi menyukai pengetahuan ekonomi?"
Melia tersenyak. "Ya, itu bidangku, lagipula."
Bagaimana dia tahu ini buku tentang ekonomi?
"Kamu tahu bahasa Inggris?" Meski judul bukunya tidak memiliki kata ekonomi, namun mungkin dia menyimpulkan dari sana.
"Kami bisa tiga bahasa." Yuveria menjawab semangat. "Tapi British Yuve tidak sebaik Nii."
"So you said you can speak in a british accent?"
"What else you can?"
Yujerian menunjuk buku di tangan Melia. "Haha-ue juga memiliki buku itu. Kami sering mendengar ceritanya."
Sulit untuk Melia tidak terkejut. "Apa yang diceritakan Hestia?"
Yuveria mengusap dagunya saat coba mengingat-ingat. "Hmmmm, saat Jerman kalah perang dunia pertama, Haha-ue berkata mereka membuat strategi printing money. Mereka membuat banyak proyek, lalu membuat uang untuk membiayai proyek, dan Jerman tumbuh pesat hanya dalam beberapa dekade."
"Sekitar tujuh belas tahun kemudian, Jerman menjadi negara super power dan melakukan ekspansi." Yujerian menambahkan. "Mereka tidak bisa membuat uang dari nilai emas, karena mereka negara kalah perang dengan dua beban: memulihkan kerusakan pasca perang dan membayar hutang pada negara yang menang. Jadi mereka membuat banyak proyek dan pekerjaan, lalu menciptakan uang dengan nilai setara. Di buku itu, Haha-ue berkata ada cara cepat menumbuhkan ekonomi dengan metode printing money tanpa inflasi."
Kurasa aku tahu kakakku memang menakutkan. Melia mengatup bibir dan tak dapat bersuara ketika dua anak berusia enam tahun mengoceh tentang pertumbuhan ekonomi padanya.
"Mengapa kalian mempelajari hal semembosankan ini?" Melia sulit menahan rasa ingin tahunya.
"Membosankan?" Yujerian memiringkan wajah. "Mengapa membosankan? Haha-ue sering bercerita tentang bagaimana cara menguasai dunia. Haha-ue berkata, orang-orang yang tidak memahami peperangan adalah orang-orang yang tenggelam."
"Kalian tidak takut dengan perang?"
Yuveria tertawa. "Bibi sangat lucu. Mengapa takut pada perang? Haha-ue bilang, satu-satunya perang yang menakutkan dan paling dihindari hanya perang fisik. Oh, perang cuaca juga menakutkan. Perang yang paling sering terjadi dan paling besar adalah perang ekonomi dan politik."
__ADS_1
Tanpa sadar, Melia malah tertawa kecil.
Ia jadi ingat pada masa kecilnya bersama Hestia. Mereka dulu sering berdiskusi perihal strategi ekonomi. Jika Hestia sudah sangat serius, dia bahkan membawa peta dunia yang rinci dan mengabsen negara-negara mana saja yang akan memberinya keuntungan.
Jika kedua anak ini tumbuh seperti Hestia, Melia rasa mereka berdua akan jadi monster.
"Yuveria, Yujerian."
Melia tersentak ketika Hestia tahu-tahu datang. Sejenak ia jadi ingat bahwa mereka bermusuhan dan tidak sewajarnya ia duduk di sini, tertawa mendengar anak Hestia berceloteh.
Kedua anak itu juga sempat menegang. Tak menyangka Hestia akan datang terlalu cepat mencari mereka.
Tapi, Yujerian, Yuveria dan Melia lebih terkejut sewaktu Hestia ikut duduk. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya, seolah tak terjadi apa-apa.
Mereka bertiga bisa melihat mata Hestia memerah. Dan Melia melirik bekas cakaran familier di lengan kakaknya, memerah segar.
Apa yang terjadi?
Melia waspada karena ia tahu betul itu pasti bekas Hestia menyakiti dirinya sendiri. Namun setelah kembali, Melia tidak pernah melihat Hestia memiliki kecenderungan sama dengannya.
"Kami mendengar cerita Bibi mengenai buku bacaannya." Mereka berdua kompak bersuara. "Haha-ue, bisakah Haha-ue bercerita tentang hal menyenangkan lagi? Kami ingin mengenal negara Haha-ue ini."
"Hmmmm, itu agak membingungkan. Siapa yang kalian ingin ketahui?"
"Siapa yang menurut Haha-ue paling luar biasa di negara ini?"
Hestia melipat tangan dan pura-pura berpikir. "Sou nee. Jika bicara soal siapa yang paling luar biasa, Mama jadi teringat Profesor Habibie."
"Habibie?"
"Beliau mantan presiden ketiga." Tanpa sadar, Melia menjawab.
"Yuve ingat!" Yuveria mengangkat tangannya semangat. "Orang yang menyempurnakan pesawat terbang!"
"Seratus poin."
Hestia mengentuk ringan ujung hidung anaknya sebelum duduk manis menceritakan kisah luar biasa yang dinikmati oleh mereka.
...*...
Eros tak pernah bermimpi jadi seorang pengemis.
Sedikitpun tidak.
Ayah dan ibunya pun membesarkan Eros dengan mental tidak pernah meminta namun mencari apa yang ia perlukan, berdamai pada kegagalan dan melihat apakah sesuatu harus diperjuangkan atau justru dilepaskan.
Tapi Hestia memaksanya jadi pengemis. Anak-anaknya memaksa Eros jadi pengemis.
__ADS_1
Dan Eros bahkan tak tahu apakah ia senang atau justru merasa tertekan.
...*...