
"Bolehkah saya—ehem, maksudnya aku—bolehkan aku bertanya kenapa kamu menghilang beberapa tahun terakhir?"
Hestia diajari berbohong di depan rekan bisnis adalah kunci kesuksesan.
Jadi ia tersenyum sangat alami.
"Sebagai kakak pertama dan anak perempuan sulung di rumah ini, saya merasa harus lebih banyak tahu dibanding adik-adik saya. Karena itu saya dan Papa sepakat untuk merahasiakan sebentar kepergian saya berkeliling dunia," ucapnya teduh.
Penuh kepalsuan.
"Saya mempelajari berbagai jenis politik dan bisnis di setiap daerah secara langsung. Dan, akan mengganggu jika saya diketahui oleh beberapa kenalan saya."
Pria itu tertawa mendengarnya. "Nona Hestia memang terkenal sangat kompeten dalam pekerjaannya. Aku mendengar bahwa penjualan litium itu bahkan sampai ke berbagai negara."
"Saya belum bisa melakukannya sebaik Papa."
Hestia terus tersenyum sampai sudut bibirnya kaku.
Di antara itu, ia melirik ke arah mata seseorang melihat, menemukan Melia bersandar di sana, tersenyum juga menikmati.
Dia tidak peduli pada reaksi fisik Hestia. Dia bermain dengan psikologi Hestia.
Aku membesarkan monster, pikir Hestia lelah.
...*...
Rasanya sangat lama dan penuh kebosanan ia melewati ini. Menemani Yohannes sampai kedua pasangan Gouw keluar dengan wajah berseri-seri.
Sewaktu melihat Hestia, mereka menyapanya begitu ceria.
__ADS_1
"Aku tidak sabar menjadikanmu putriku juga, Hestia." Patricia Gouw menangkup wajahnya dan berbinar penuh rasa senang. "Kamu sangat-sangat-sangat cantik. Yohannes akan sangat beruntung menikahimu."
Sesuai dugaan, rahang Hestia sakit gara-gara banyak tersenyum dan tertawa. Ia mengembuskan napas kasar begitu mereka semua pulang, berharap setidaknya ia bisa beristirahat.
Tapi tiba-tiba ponselnya berdering, menampilkan serentetan nomor yang Hestia hafal.
Waktu hamil dulu ia sering memandangi nomornya di atas kartu nama.
"Ada apa?" Hestia sedang terlalu lelah sampai suaranya terdengar dingin.
"Gouw. Apa benar mereka melamarmu?"
Dari mana juga dia tahu? "Jika tidak penting, Eros, aku ingin—"
"Apa kamu masih selemah itu, Hestia?"
Hestia membanting jepit rambutnya mendengar kata itu.
"Aku tahu itu. Darius pasti memaksamu menikah karena usiamu atau apa pun alasan dia. Tapi kamu menurutinya? Lalu apa perbedaan kamu yang sekarang dan kamu yang dulu?"
"Berhenti mengatakan sesuatu seolah kamu tahu sesuatu tentangku!"
"Aku tahu."
"Apa yang kamu tahu?! Aku wanita lemah?! Aku wanita yang butuh bantuan?! Pria sepertimu hanya selalu memaksakan kehendak dan menganggap bahwa aku—"
"Kamu ibu anak-anakku."
Hestia terbungkam.
__ADS_1
"Dan kamu melampiaskan rasa bencimu pada semua pria selain Darius."
Telinga Hestia berdengung.
"Jika caramu bermain seperti itu, maka baik. Akan kuumumkan pada satu dunia bahwa ibu dari anakku adalah kamu!"
"Eros—"
Panggilan terputus, dan Hestia melempar ponselnya penuh rasa frustrasi.
...*...
Eros mengacak rambutnya frustrasi setelah panggilan itu terputus.
Kenapa pula ia malah mengajak Hestia bertengkar saat sebenarnya ingin bilang jangan lakukan pernikahan itu?
Tapi Eros lebih sudi menelan kotoran kucing daripada membiarkan Hestia benar-benar menikahi pria lain ketika mereka berdua sudah punya anak.
"Jika Hestia menerimanya, maka berarti dia menganggap bahwa itu cara terbaik melindungi Yujerian dan Yuveria," kata Norman d antara hening itu.
Dia memutar-mutar hiasan kristal di tangannya saat Eros sibuk mengutuk dalam hati.
"Jika saja Darius tidak membencimu, Bos, tentu saja sekarang pun kamu bisa merebut kesempatan Yohannes lewat tawaran yang lebih tinggi. Tapi yah, begitulah hubungan kalian."
Mana Eros tahu hal yang ia lakukan dulu, sedikitpun bukan kesalahan melainkan kemenangan dalam permainan bisnis, malah berimbas pada bagaimana ia terhalang menikahi Hestia.
Apa tidak cukup syarat mustahil kedua orang itu?
Hestia sudah bilang akan menikah kalau anaknya setuju, lalu anaknya malah membully Eros dan berkata akan setuju jika Hestia setuju, sekarang terhalang lagi oleh urusan cerita lama?
__ADS_1
Eros sakit kepala luar biasa.
*