Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
26. Mendadak Takut


__ADS_3

Hestia duduk melipat diri dalam selimut di pintu masuk dapur sementara kedua anaknya malah duduk di sana, mencuci daging yang telah dipotong-potong.


Hestia mau mendekat, mau melakukan pekerjaan sebagai ibu yang berbudi yaitu memasak, tapi Yujerian malah memarahinya.


"Yuui-san, Mama bisa membantu motong-motong sayuran, loh."


Adiknya juga sama. "Tidak boleh! Haha-ue duduk saja!"


"Mama bisa menangis jika kalian seperti ini terus."


"Orang dewasa tidak boleh menangis, begitu kata Oji-ue," balas gadis kecil itu meledek.


Padahal Hestia serius mau menangis, meski untuk alasan haru.


Dadanya seperti permen kapas yang dimasukkan ke mulut, meleleh melihat dua malaikat kecilnya benar-benar sigap membantu.


Mereka perhatian dan sangat protektif. Tidak ada yang lebih membanggakan baginya selain melihat mereka bekerja untuk Hestia, seolah-olah mereka berkata Hestia itu berharga jadi tidak boleh terluka.


Ia malah cuma duduk memandangi mereka karena terus dimarahi ketika bergerak. Setelah makanan matang, langsung saja Yuveria menariknya ke depan televisi, menyelimuti Hestia, lalu berniat menyuapinya.


"Bukankah yang suka disuapi itu Yuui?"


"Yuje-nii menyuapi Yuve dan Yuve menyuapi Haha-ue!"


"Lalu siapa yang menyuapi Yuuki?"

__ADS_1


"Yuje-nii berkata tidak suka disuapi. Katanya laki-laki harus makan sendiri."


Hestia mencibir dan berbisik pada Yuveria namun terdengar oleh Yujerian. "Tsundere nee." [Pemalu, yah."


"Nee." [Iya.]


Tak terlalu mau ikut akan candaan mereka, Yujerian menyuapi adiknya sambil ia juga menyuap makanan ke mulut sendiri.


Diam-diam Yujerian termenung, memikirkan ucapan Kitamura dan Hinatsuru mengenai tamu yang akan datang. Tidak mungkin kan pria itu datang?


Entah kenapa Yujerian tak mau jika itu dia. Bagaimana kalau kedatangan dia cuma akan mengusik ketenangan mereka? Bagaimana kalau pria itu malah mengusik kebahagiaan Hestia dan Yuveria dengan kehadirannya?


Kadang sesuatu yang tidak ada memang dirindukan. Tapi ketika ada, bukankah kadang juga justru rindu itu disesalkan?


Yujerian membereskan dapur ketika adiknya pergi mengantar Hestia ke kamar. Sejenak ia duduk termenung, memegang dadanya yang terasa agak ngilu.


Seolah-olah dalam mimpi pun Hestia termenung dan terluka.


Mendadak Yujerian takut. Jika orang yang disebut ayahnya itu datang lalu melukai mereka, apa yang harus ia lakukan agar Yuveria dan Hestia tetap bahagia?


...*...


"Haha-ue."


"Hmmm?"

__ADS_1


Yujerian mengatup mulut dan menggelengkan kepala, tanda ia batal mengatakan apa yang mau ia katakan.


Hari ini Hestia sudah sehat, jadi mereka berencana untuk bantu menyiapkan festival besar yang akan diadakan bersama warga desa lainnya.


"Nani, Yuuki-san? Mama kininaru." [Apa, Yuuki? Mama jadi penasaran.]


"Iie, Haha-ue. Nani mo." [Tidak, Ibu. Tidak ada apa-apa.]


Hestia menghela napas. "Mama merasa Yuuki belakangan ini murung dan lebih diam. Ada apa? Mama berbuat salah?"


"Iie. Sukareta dake." [Tidak. Hanya lelah saja.]


Hestia menatap punggung anak itu yang tiba-tiba menjauh, dan Yuveria langsung mengejarnya agar tetap bergandengan tangan.


Sedewasa apa pun dia bersikap, jelas Hestia paham kapan anaknya benar-benar murung kapan dia hanya lelah.


Terlihat ada sesuatu yang dia pikirkan di kepala kecilnya. Namun Hestia tidak tahu sebab kedua anaknya sangat pendiam, tidak mau mengatakan jika sudah memutuskan tidak mengatakan.


Kadang ia merasa mungkin karena terlalu sering ditinggal bekerja, mereka jadi kurang percaya ibunya itu pengertian. Apa Hestia berbuat salah, yah?


"Hesti-nee, nanika atta no?" [Kak Hesti, apa ada sesuatu yang terjadi?]


Hestia ikut duduk, bergabung membuat nasi kepal bersama ibu-ibu muda lainnya. "Aku mengkhawatirkan anakku."


"Ada apa? Yuuki dan Yuui sakit?"

__ADS_1


"Tidak. Hanya, kamu tahu, mereka sangat dewasa. Aku jadi merasa aku justru tidak becus menjaga makanya mereka terlalu cepat memaksakan diri dewasa."


...*...


__ADS_2