
Hestia termenung ketika terbangun mendapati dirinya masih berbaring di rumput halaman mansion Eros, bersama kedua anaknya yang masing-masing telah diselimuti selimut tipis.
Cuaca memang sedang cerah jadi rasanya justru sejuk ketika mereka berbaring di bawah pohon rindang sambil sesekali disapu angin.
Entah berapa lama Hestia tidur, tapi Eros sudah tidak ada di sana.
Mau tak mau ingatannya kembali pada sikap Eros, menyadari bahwa ia telah terbawa pada sikap lembut itu.
Kalau dipikir-pikir, sudah sangat lama Hestia tidak membuka hati pada seseorang. Lebih tepatnya seorang pria.
Dan setelah memiliki Yujerian juga Yuveria, Hestia bahkan tidak membiarkan dirinya bermain-main.
Apa Darius benar-benar berubah? Tapi kalau benar dia berubah, apa berarti Hestia sudah boleh bahagia?
Sesederhana itu. Hestia bergumam miris dalam benaknya. Aku dipukuli bertahun-tahun, lalu kabur, lalu Darius berubah, lalu aku bahagia. Sesederhana itu.
Dalam kebingungan ini, rasanya Hestia cuma dapat memahami penderitaan Melia.
Tidak boleh sesederhana itu. Rasa sakit mereka tidak sesederhana itu.
Tapi Hestia juga sudah lelah. Anak-anaknya akan terseret jika ia meladeni perasaan tak puas dan kecewa ini.
Tapi ia pun terluka dan menggigil oleh sakitnya jika berpura-pura tidak mementingkan rasa sakit ini.
Hestia mengembuskan napas. Sebenarnya ingin menangis, sayangnya ia sedang tidak bisa memikirkan alasan hingga menahannya.
Meski mau membiarkan kedua anak itu tetap tidur, Hestia harus mengusik mereka.
"Yuui, Yuuki, me akenasai." [Yuui, Yuuki, buka mata kalian.]
Keduanya menggeliat. Justru makin menyamankan diri.
__ADS_1
"Ayolah, kalian ingin Mama pergi tanpa berpamitan?"
Keduanya terlonjak. "Haha-ue tidak boleh pergi!"
Hestia tergelak. "Maksud Mama pergi ke Chichi-ue untuk makan."
Yuveria cemberut. Sementara Yujerian mengucek matanya yang tampak masih mengantuk.
"Biar Mama gendong. Ayo."
"Haha-ue akan lelah. Kami bisa berjalan."
"Heeee, kalian tidak mau digendong?" Hestia membuat wajahnya seolah sangat amat bersedih. "Yuui dan Yuuki sudah dewasa sampai tidak mau digendong oleh Mama."
"Haha-ue!"
"Hiks."
Adiknya langsung paham. Membuat sikap hormat sebelum mengambil ancang-ancang dan berteriak ..., "CHICHI! YUVE HARA HETTA!" [Ayah, perut Yuve lapar!]
Hestia cengo melihat Eros sungguhan datang tergesa-gesa.
Mungkin agak sedikit kasar, tapi sepertinya dia malah berubah jadi anjing besar berbulu di depan anaknya, yang kalau dipanggil akan langsung lari tak peduli dia di mana.
Mata Hestia langsung melirik Yujerian. Tahu betul dia juga berperan penting.
Kenapa semua orang yang kubesarkan jadi menakutkan? Hestia mendadak takut pada dirinya sendiri.
"Ada apa?"
Yuveria mengulurkan tangan, minta digendong oleh Eros. "Yuve hara hetta no." [Yuve lapar.]
__ADS_1
Segera Hestia menggendong Yujerian juga.
"Kalian ingin makan apa?"
"Donburi ga ii." [Aku ingin donburi.]
Hestia menyusul langkah Eros yang sedikit lebih lebar dari langkahnya. "Lalu, biar Mama yang buatkan, hm?"
"Yeeeeey!"
Yujerian hanya diam. Masih agak mengantuk dan malas jadi hanya meletakkan pipinya di bahu Hestia.
Sewaktu mereka masuk ke dalam menuju dapur, tak sengaja Yujerian melihat neneknya bersama Astria bersembunyi, mengintip seolah-olah penasaran dengan sosok Hestia.
Ibunya belum bertemu mereka, kalau dipikir lagi. Tapi sepertinya mereka tak mau langsung begitu saja. Karena Hestia pasti akan terganggu.
"Yuve." Yujerian meminta turun, sekaligus meminta adiknya diturunkan. "Ayo pergi mandi dulu."
"Biar pelayan menemani kalian," timpal Eros langsung.
"Tidak usah. Kami akan mencari Oba dan Baba."
Hestia membiarkan mereka. Kedua anaknya sangat mandiri untuk dikhawatirkan. Apalagi ini juga kediaman Eros jadi mereka bisa ke mana saja yang mereka mau.
Ayahnya saja jadi anjing peliharaan di depan mereka, pikir Hestia bangga.
"Hestia."
"Hm?"
"Jadilah istriku."
__ADS_1
...*...