
Orang itu terlempar dan Yuveria bersedekap. Ketika tahu disaksikan oleh banyak orang, Yuveria mengangkat dagu penuh keangkuhan.
Membuat Eros di belakang sana menepuk dahi, tak tahu harus bangga anaknya bengis begini atau malah meringis.
Entah kenapa ia merasa harus lebih khawatir pada nasib murid lain ketika anaknya bersekolah nanti.
"Yuveria, Yujerian." Eros mendekati mereka berdua. "Kalian tidak terluka?"
Yuveria menunjuk korbannya yang lari. "Dia yang terluka! Jika ada yang berani padaku, mereka yang terluka!"
Di sampingnya, Yujerian hanya tersenyum kecil. Karena adiknya memang begitu.
...*...
Selema beberapa hari terakhir, kehidupan Hestia berjalan dengan baik.
Sejauh ini Darius belum memukulinya lagi. Hestia pun tak mau membiarkan jiwanya semakin terluka, tak membiarkan dirinya berbuat salah, agar tak ada alasan Darius memukul.
Beberapa pekerjaan Melia juga Hestia ambil alih agar adiknya tidak perlu terlalu terbebani, membuat kesalahan lalu dipukuli.
Saudara Hestia yang lain tidak terlalu mempedulikannya. Mungkin mereka masih mengamati situasi dan melihat seperti apa posisi Hestia di samping Darius sekarang.
Di antara itu, Hestia tentu juga sering mengunjungi anaknya.
Untuk sementara ia menahan diri, menyerahkan pada Eros, memberi waktu mendekati anaknya meski dari ekspresi dia, tidak terlalu banyak perkembangan.
__ADS_1
Hestia lupa kalau Eros itu dikenal pendiam juga dingin. Orang seperti dia mana terbiasa memahami kemauan berbelit-belit anak kecil.
"Mereka ingin kamu memaksa mereka."
Setelah lama terdiam menyaksikan, Hestia rasa tidak ada salahnya memberi saran.
Apalagi Eros akan lebih sering menghabiskan waktu dengan Yujerian dan Yuveria, jadi akan lebih baik kalau mereka setidaknya berdamai sedikit.
"Mereka ingin kamu mengemis pada mereka."
Wajah Eros syok.
Kata mengemis itu asing bagi pewaris utama keluarga konglomerat macam dia.
Setelah memberi sarannya, Hestia meninggalkan Eros di kediaman itu.
Ia lupa bertanya apa dia baik-baik saja meninggalkan tugasnya, tapi mungkin baik-baik saja karena dia tidak membicarakannya.
Intinya, lakukan yang terbaik karena kedua anak itu sudah terlatih tidak gampang tergoda oleh orang asing.
...*...
Begitu tiba di rumah, Hestia bermaksud langsung istirahat sewaktu dirinya dipanggil ke taman belakang, bergabung bersama Darius, Tamara, Melia dan ... seorang pria asing.
"Kakak sudah pulang?" Melia yang menyambutnya paling ceria. Sebuah pertanda buruk dari seseorang yang membenci kalian.
__ADS_1
Jangan percayai senyuman setelah kebencian.
"Ya. Aku sedikit terlambat." Hestia bergabung secara alami di sisi Darius.
"Hestia, perkenalkan teman tunangan Melia." Tamara menepuk bahu pria itu. "Namanya Yohannes. Kamu mengenalnya, kan?"
Hestia memasang senyum formal. "Tentu saja. Yohannes Gouw. Selamat atas pembukaan cabang restoranmu. Namaku Hestia."
Lalu selanjutnya hanya basa-basi penuh senyum palsu yang intinya adalah dia pria baik berprestasi dan punya kekayaan. Ketika Hestia melirik Darius, ada sesuatu di wajahnya yang membuat Hestia cemas.
"Kita bisa berbasa-basi lebih jauh setelah membicarakan hal utama hari ini." Darius meletakkan minumannya dan menatap Hestia. "Jadi, Putriku, bagaimana menurutmu jika kalian berdua menikah?"
Sudah kuduga, gumam Hestia dingin, tentu dalam hati. Dari sudut matanya ia bisa melihat Melia tersenyum samar, dan yakin dalam hati dia bergumam coba tolak perkataan Papa agar kamu merasakan pukulannya lagi.
"Hestia, Melia sebentar lagi juga akan merencanakan pernikahannya. Ibu rasa akan lebih baik sebelum adikmu menikah, kamulah yang lebih dulu melakukannya. Beberapa orang berkata melampui saudara perempuan yang lebih tua tidak baik."
Hestia ... tidak bisa berkata tidak.
Namun ... ia tak mau berkata baiklah.
Dan Melia sangat tahu hal itu.
...*...
*
__ADS_1