Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
39. Pagi Yang Meriah


__ADS_3

Suara tangisan menghiasi kediaman Hestia pagi ini.


Yujerian berusaha keras memeluk adiknya sambil membujuk dia, karena anak itu sedih mendapat nilai jelek pada kontes kemarin. Meski dia lolos, ada seseorang yang menyanyi lebih baik darinya gara-gara pita suara Yuveria terganggu setelah menangis.


Yah, itulah yang dipermukaan.


Karena Yujerian tahu Yuveria hanya sedang bertingkah gara-gara dua pria yang pagi-pagi buta datang sebagai tamu.


Adiknya mempertontonkan tingkah manja dia, terutama di depan pria Kaukasia itu, hingga wajah Eros diliputi kebingungan.


Hestia yang juga tahu itu hanya membiarkan saja. Meletakkan camilan di meja tamu sebelum ia ikut mengintip ke kamar anaknya.


"Manisku, ingin Mama peluk saja?"


Padahal biasanya harus Yujerian, tapi Yuveria datang ke pelukan Hestia untuk bermanja-manja ria.


Yujerian hanya menepuk-nepuk kakinya dari bawah, lalu pergi untuk menggantikan ibunya di dapur karena sarapan memang belum selesai dibuat.


Yujerian membuat lima piring telur dadar. Ketika ia meletakkan di meja untuk tamu-tamunya juga, mendadak Yuveria menarik dua piring itu, langsung memakannya.


Kalau orang lain, dia pasti langsung ditegur. Dan kalau orang lain, sebenarnya Yuveria tidak akan melakukannya. Tapi karena itu Eros dan Norman, Yujerian hanya cuek.


Mengelap sisa minyak di bibir adiknya.


"Biar aku yang menyuapi. Tanganmu nanti kotor."

__ADS_1


Adiknya membuka mulut lebar-lebar. Menerima suapan telur dari piring tamu mereka padahal isi piring dia masih utuh.


"Haha-ue." Yuveria melotot pada dua pria itu, tapi bicara manis pada Hestia. "Apa hari ini Haha-ue pergi bekerja?"


"Hmmm, sou ne. Sebenarnya Mama kemarin mendapat tawaran menjaga toko di festival. Agar punya alasan lama di festival, Mama harus menerimanya, kan?"


"Yuve dan Yuje-nii tidak akan membantu Haha-ue. Shin-niisan saja yang membantu."


"Heee, dou shite? Yuui-san ingin pergi bermain?" [Eeee, kenapa?]


"Yuve harus menjaga dua pria mesum tidak mendekati Haha-ue! Mereka tidak boleh pergi ke festival!"


"Kalau begitu, Yuui akan di rumah saja?"


"Iya. Hari ini. Besok mereka akan pulang ke rumah mereka." Lalu adiknya melotot makin lebar. "Benar kan, Paman-Paman?"


Sebagai seorang pria lajang yang hidupnya lebih banyak habis bersenang-senang dan bekerja, jelas saja Eros syok dengan tingkah bocah di depannya.


"Hm, baiklah. Yuui berjanji tidak akan menangis?"


"Tidak. Pria jahat memang suka membuat orang menangis, jadi Yuve tidak bisa berjanji."


Yujerian menyuapinya lagi. "Aku akan memastikan dua benda itu tidak mengganggu, Haha-ue. Jadi jangan khawatir."


Setelah sarapan, Hestia langsung pergi. Tentu saja jika sungguhan pria itu orang jahat, mustahil Hestia meninggalkan mereka.

__ADS_1


Ia hanya tidak tahu harus menjelaskan seperti apa hingga memberi waktu untuk mereka berinteraksi. Mereka berdua anak yang cerdas, lagipula.


Eros ingin ikut beranjak. "Kalau begitu, aku akan—"


"Suwatte, Jiji." Yujerian menyahut tanpa melihatnya. "Yuve bisa memutuskan leher orang saat marah." [Duduklah, Pak Tua.]


Yuveria melotot lebar-lebar. "Paman penjahat diam saja!"


"Kalau Paman?" tanya Norman, penuh harap.


"Paman mau merasakan rasa piring?"


Keheningan itu menyelimuti mereka.


Diam-diam Yujerian mengintip ekspresi ayahnya. Bagaimana dia terlihat mau lari dari tempat ini membuat Yujerian merasa kesal.


Apanya yang mencari kalau anak di depan mata dia malah mau lari.


Sementara itu Eros sebenarnya ingin kabur karena tak ingin mereka merasa terganggu. Anak-anak ini tidak mau ia bersikap sebagai orang tua, lalu Eros juga tak tahu bersikap sebagai orang tua.


Di tengah-tengah mereka, Norman menghela napas.


Sudah ibunya tidak suka jujur, sudahlah anaknya lebih suka melotot sambil mendalami kebohongan, ayahnya pun tidak bisa diandalkan membuka hubungan.


Bagaimana sebenarnya keluarga ini akan bersatu?

__ADS_1


...*...


__ADS_2