Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
Promosi Karya Baru Candradimuka : Nyonya Kesayangan Tuan Muda Narendra


__ADS_3

Bab 1 : Aku Dijual


Namaku Adrestia, pemilik kisah tidak menarik yang akan kalian baca. Ini adalah kisah masa lalu, jauh sebelum aku menulis semuanya.


Aku seorang Narendra. Istri pertama dari Tuan Muda Narendra generasi pertama, satu-satunya Nyonya Muda yang bisa disebut setara dengan Nyonya Besar Narendra, ibu mertuaku.


Tapi sekali lagi, itu adalah kisah sekarang. Untuk sampai pada kisah sekarang, mau tak mau harus kuceritakan kisah masa lalu.


Semua berawal dari satu kalimat dingin.


"Kamu akan jadi menantu saya."


Hari itu, usiaku hanya sekitar empat tahun. Entah karena sebuah kasih sayang dari Tuhan yang tidak kukenali, atau karena sebuah kebetulan dari takdir, kecerdasanku jauh di atas usia empat tahun.


Aku ingat wanita itu. Ibu Mertuaku, Trika Narendra, menatap dengan matanya yang dingin. Hati kecilku sebagai anak-anak takut pada rambut merah gelapnya yang seperti darah, tapi aku hanya diam seolah ketakutan itu hanya kebohongan.


Trika mengulurkan tangan padaku, meraih wajahku.


"Saya melihat kecerdasan di matamu, Anak Kecil. Mereka orang tua yang buta."


Aku menipiskan bibir dan terus diam mendengar suara dinginnya.


Tentu aku mengerti apa yang dia katakan. Aku dijual. Aku tidak tahu alasan apa yang mendasarinya, juga tidak tertarik ingin tahu. Tapi yang aku tahu, hubungan kedua orang tuaku buruk sejak awal.


Mereka sering berdebat, sering bertengkar dan kadangkala melempar barang hingga rusak. Ibuku wanita pemarah. Jika sedikit saja aku tidak patuh, kulitku akan sakit karena cubitan tidak masuk akal.


Ayahku akan memukuli Ibuku jika aku mengadu, tapi jika aku nakal di depan Ayah, dia akan memukuliku dengan kayu alih-alih cubitan.


"Saya juga melihat kepasrahan." Trika Narendra, Ibu Mertuaku yang saat itu belum kukenali, mengangkat daguku lebih tinggi agar mendongak. "Anak kecil, jawab saya dengan singkat. Apa hal kecil yang kamu inginkan?"


Mungkin, aku dan Ibu Mertua memang berjodoh. Walau aku yakin beliau akan mendelik jika mendengarku berkata demikian.


Tapi aku akan tetap menganggapnya demikian. Sebab pertanyaan itu kujawab dengan hal yang membuat Trika Narendra, Ratu Iblis Narendra, tersenyum senang.


Aku menjawab, "Dunia."

__ADS_1


Aku tidak tahu. Sampai sekarang bahkan, aku tidak tahu mengapa saat itu jawaban yang keluar adalah dunia.


Yang aku tahu, aku lelah terluka.


Aku lelah tertindas.


Aku lelah merasa sakit.


Aku lelah kesepian.


Aku lelah sendirian.


Dan ternyata Ibu Mertua menyukai jawabanku.


"Jawaban yang menarik. Kalau begitu ayo pergi," ucapnya padaku.


Aku berbalik melihat rumah yang telah kutinggali sepanjang ingatan di kepalaku. Pintu rumah tertutup dan tidak ada orang yang mengantarku pergi.


Di dalam sana, Ayah dan Ibu menikmati sekoper uang yang diberikan oleh Ibu Mertua sebagai ganti membawaku.


Aku tidak tahu. Apa aku bersedih? Tapi sejujurnya aku merasa nyeri. Aku mencintai Ibu dan Ayah seburuk apa pun mereka.


Perkataan Ibu Mertua menyadarkanku. Segera aku berbalik dan ternyata berlari ke sisi Ibu Mertua tidaklah sesulit yang aku bayangkan.


Aku tersenyum. Sebuah senyum palsu yang kulakukan mengikuti insting.


Mulutku diam, hanya duduk di mobil bersama wanita bergaun hitam itu, sebelum kemudian berpindah ke helikopter.


"Anak Kecil," panggil Ibu Mertua saat aku terkagum melihat pemandangan dari luar jendela. "Siapa namamu?"


Aku mengerjap. Bingung harus menjawab meski segera kujawab, "Ratih." Itu nama yang kutahu dari Ibu dan Ayah. "Ratih Aristawati."


Wanita dingin itu menatapku tanpa ekspresi. Aku jadi memerhatikan bagaimana wajahnya yang tidak terlalu cantik justru terlihat sangat anggun.


Dibalut dengan pakaian mewah bersulam mawar, aroma bunga mawar, dan mata yang terlihat bisa menguasai apa pun; muncul rasa iri dalam diriku.

__ADS_1


Rasa yang membuatku berkata dalam diriku, aku ingin jadi seperti dia.


Dan aku akan mewujudkan itu nanti. Dengam caraku sendiri.


"Saya Trika." Wanita itu berbicara sangat formal, namun terkesan santai dan mengalir seperti air. "Trika Narendra. Istri pemimpin keluarga Narendra selanjutnya."


Aku hanya tersenyum karena saat itu aku tidak tahu apa itu Narendra.


"Namamu sekarang Adrestia."


"Adrestia?" Aku membeo tanpa sadar. "Kenapa?"


"Orang yang memberi nama istri Narendra adalah Narendra. Keluargamu, temanmu, mimpimu, harga dirimu, segala hal tentang kamu termasuk namamu, mulai sekarang tidak ada."


Aku berusaha mencerna.


"Kamu Adrestia. Adrestia yang sebentar lagi menyandang nama Narendra. Bagaimana kamu kedepannya, akan ditentukan oleh Narendra."


Aku masih berusaha paham.


"Saya sudah membeli kamu, jadi tidak ada gunanya bertanya. Tapi anggap saja saya berbaik hati."


Pintu helikopter tiba-tiba terbuka, membuat angin kencang langsung menerobos kasar.


Ketika angin itu menerbangkan helaian rambutnya secara brutal, wanita itu hanya menatapku datar.


"Jika kamu menolak, kamu bisa meloncat sekarang. Saya tidak membutuhkan kamu kecuali kamu mematuhi saya."


Saat itu, jika harus kukatakan, aku tidak takut dengan ancamannya.


Karena senyumku berkembang tanpa paksaan, mengatakan, "Aku mau."


Sudah kubilang kan? Aku dan Ibu Mertua adalah jodoh yang bersatu.


...*...

__ADS_1


...selamat datang di karya Candradimuka. penulis selalu berharap pembaca betah dan suka sama cerita ini. dukungan kalian, dalam bentuk apa pun akan jadi faktor terbesar perkembangan karya dan penulisnya sendiri....


...terima kasih. 🙂✌...


__ADS_2