Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
54. Tukang Bohong


__ADS_3

"Ara, ara. Kedua malaikatku sepertinya mengalami hari yang baik kemarin. Apa kalian mengingat Mama?"


Yuveria mencium pipinya. "Haha-ue pergi sangat lama. Apa yang Haha-ue lakukan?"


"Hm? Mama berbicara dengan beberapa teman lama. Selain itu, Mama juga pergi menemui Paman Al. Beberapa bulan lagi kalian akan bersekolah, kan?"


"Yuve, turunlah. Haha-ue, lebih baik duduk dulu di sofa."


"Yuuki tidak ingin memeluk Mama?"


"Tidak. Pergilah duduk."


Eros ikut duduk di sofa lain ketika Yujerian pergi mengambilkan minuman meski ada pelayan. Anak itu membawa gelas besar jus pada Hestia, menyuruhnya menghabiskan itu hingga Hestia tertawa geli.


"Kalian sudah berkeliling?"


"Sudah, Haha-ue. Kami pergi dengan Mandala."


Yuveria tidak menyebut Eros, tapi sepertinya Hestia tahu Eros juga ikut. Setelah meminum sesuai perintah putranya, Hestia mengembalikan gelas ke tangan Yujerian.


"Sekarang bisakah kalian pergi bermain dulu? Mama ingin membicarakan hal rahasia dengan Chichi."


"Heeee." Yuveria membuat wajah kecewa yang kentara pada Eros, tapi dia menurut dan pergi bersama Yujerian juga Mandala.


Hestia memastikan mereka berdua pergi sebelum menatap Eros dengan sorot serius.


"Kalian muncul di berita."


Eros mengangkat alis. "Apa seharusnya tidak?"


"Aku tidak mau keluargaku tahu tentang mereka."


"Mustahil menyembunyikan terlalu lama, Hestia."


"Aku tahu. Hanya sebentar."

__ADS_1


Kata sebentar yang meragukan.


Eros menatap tangan Hestia yang gemetaran.


Sejujurnya ia tak tahu bagaimana rasanya jadi dia. Eros juga pewaris dan ia dididik dengan keras juga. Tapi orang tuanya menekankan dengan peraturan, bukan kekerasan.


Rasanya sampah, kalau kata Eros. Ketiadaan kebebasan dan tuntutan yang mengekang itu membuat Eros ingin berhenti jadi manusia saja.


Tapi Eros tidak sampai seperti Hestia. Gemetaran, ketakutan, bersembunyi dibalik kepura-puraan karena tidak merasa kejujuran dapat membantunya.


Dia selalu kuat, dan memang sangat kuat. Di sisi lain, rasanya dia bisa pecah kapan saja dia ingin pecah.


"Hestia." Eros menatap matanya lamat-lamat. "Aku tidak tahu sebesar apa kebencianmu pada laki-laki. Aku juga tidak tahu sebesar apa traumamu. Aku mungkin juga tidak akan mengerti."


"...."


"Yang aku tahu, aku tidak melakukannya jadi seharusnya kamu tidak usah takut. Aku hanya bisa memikirkan apa yang kulihat dan kurasakan."


"...."


"...."


"Terima kasih tetap menerimaku di sini meskipun kamu sebenarnya tidak suka. Aku sedikitpun tidak menyalahkanmu atas kebencian Yujerian dan Yuveria. Itu bukan salahmu. Mari anggap kalau itu pemberontakan anak kecil dan akan berakhir seiring waktu."


Hestia menghela napas. "Kurasa tadi kita membicarakan keluargaku. Kenapa jadi ke sana?"


"Baiklah. Maaf. Sebenarnya aku ingin bilang, jangan takut."


Mata itu terguncang sesaat.


"Tapi kurasa kamu tidak senang mengakuinya jadi, ya begitulah." Eros berdecak. "Intinya, lakukan yang terbaik dan .... Walau menyebalkan, kalau aku bisa membantu, beritahu aku."


"Aku tidak takut."


Eros mendengkus. Sudah ia duga.

__ADS_1


Memang tukang bohong.


...*...


Sudah Melia duga, tidak mungkin juga dia pergi lalu pulang begitu saja. Melia mengenal kakaknya dengan baik. Orang yang dididik melakukan sesuatu dengan alasan konkret sejak kecil.


Sejak dia pergi, Melia bertanya-tanya ke mana dia pergi, dan apa alasannya, tapi untuk tahu itu ia harus tahu kenapa dia pulang.


Tak ia sangka Hestia pergi ke kediaman kecil Narendra di Jakarta Selatan.


Setahu Melia, Narendra memiliki empat kediaman. Dua kastel—Kastel Mawar di Bogor dan Kastel Bintang di Papua, satu Mansion Asgard di Depok, dan satu lagi rumah kecil dua lantai yang berfungsi sebagai rumah singgah, Griya Aswad.


Narendra bukan keluarga ramah. Mereka tidak mungkin meminjamkan rumah hitam ini kecuali punya maksud tertentu.


Jadi ketika mengawasinya dan menemukan ada banyak penjaga di depan rumah, Melia ingin menghubungi Narendra.


"Jangan sekarang." Tamara mencegahnya. "Kamu tidak ingat? Ini waktu kematian Trika Narendra."


Melia tersentak, agak lupa. "Mereka membuat perayaan setahun kematiannya?"


"Tidak. Tapi kamu ingat berapa bulan lamanya Narendra berkabung tahun kemarin? Percuma."


Sialan. Para Narendra terkenal sangat mencintai ibu mereka sampai rasanya mereka menyembah wanita itu. Jelas tidak ada waktu bagi Al atau Kaisar ataupun istri-istri mereka menanggapinya.


"Kenapa Hestia berlindung di belakang Narendra?"


"Dari awal hubungan dia dan pewaris Narendra memang baik." Tamara mengambil rokok dari dashboard mobil dan menyalakannya. "Tapi kamu benar. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Kakakmu bukan orang yang suka berlindung jika hanya untuk diri sendiri."


Menyusupkan orang ke Narendra juga mustahil. Keamanan Narendra terlalu ketat. Mereka tidak mempekerjakan pelayan, melainkan membesarkan pelayan untuk bekerja dengan mereka. Jadi tidak ada celah.


"Ayo pergi." Melia melajukan mobilnya setelah yakin tidak akan melihat apa-apa dibalik pagar tinggi itu. "Kalau tidak bisa secara langsung, berarti harus secara tidak langsung."


Wija.


Hestia pasti akan pergi menemui orang itu nanti.

__ADS_1


...*...


__ADS_2