
Di antara suasana sendu dari kepulangan sang anak pertama itu, ada satu orang yang menatap semuanya dengan dingin.
Melia adalah saudara beda ibu Hestia. Karena ibunya Hestia meninggal hanya beberapa tahun setelah Hestia lahir, Darius menikah lagi dengan seorang wanita yaitu ibunya Melia, Tamara.
Meski beda ibu, hubungan mereka baik sejak dulu. Hestia anak pertama dan Melia anak kedua.
Menjadi contoh bagi adik-adik mereka membuat keduanya sering saling menguatkan, saling terbuka akan perasaan, bersama baik suka maupun duka.
Tapi .... Suatu hari dia pergi. Dia pergi tanpa mengatakan apa-apa, menghilang ditelan bumi.
Mereka mencarinya ke mana-mana, tapi tak bisa menemukan Hestia hingga semua orang berpikir dia sudah mati.
Kepergiannya membuat Melia otomatis naik sebagai anak pertama. Anak pertama yang dididik keras oleh Papa.
Beraninya dia pulang.
Setelah melimpahkan semua rasa sakit dan kekerasan itu padanya, beraninya dia pulang dan menangis di pelukan monster itu.
Ketika seluruh tubuh Melia dipenuhi luka, di mana dia bersembunyi dan tertawa-tawa?
"Melia?"
"Kepalaku sakit, Ma." Melia merasa akan muntah melihatnya. "Permisi sebentar."
Melia meninggalkan tempat itu menuju kamarnya. Beberapa kali ia terhuyung. Jiwanya memberontak oleh perasaan trauma dan kebencian.
Jika dia memang memutuskan mati di tempat lain, jangan kembali dan menertawakan semua perjuangannya.
__ADS_1
Kalau saja dia memberitahu Melia ke mana dia pergi, Melia juga akan bergegas lari bersamanya. Tapi dia pergi sendiri, dengan egoisnya menyelamatkan diri sendiri.
Beraninya sekarang dia pulang seolah-olah keluarga ini akan menunggunya.
"Aku membencimu." Melia meremas kuat lengannya agar terasa sakit.
Kekerasan yang pria itu berikan membuatnya tidak lagi merasa waras dan selalu butuh rasa sakit untuk bisa sedikit tenang.
Semua itu salah Hestia.
...*...
Yujerian dan Yuveria cengo saat melihat sekitaran yang jauh berbeda dari pemandangan desa mereka.
Saat berada di Tokyo dan Singapura, keduanya terlalu mabuk untuk bisa peduli pada sekitaran.
"Yuje-nii!" Yuveria melotot lebar, berbinar-binar melihat sebuah mini bus dengan gambar kartun lucu di atas visual es krim. "Are! Are! Are wa nani?" [Itu! Itu! Itu apa?]
Yujerian juga berbinar. Tak sengaja ia menarik tangan Yuveria, mau langsung berlari ke sana saat tiba-tiba tubuh mereka ditarik dalam gendongan bersamaan.
"Jangan berlari ke tengah jalan ramai."
Untuk sesaat, Eros merasa keduanya bertingkah sesuai umur karena berbinar-binar melihat angkringan.
Yuveria tidak terlalu peduli pada bagaimana Eros menggendong Yujerian, sudah teralihkan dengan es krim cantik itu.
Mereka sering makan es krim saat musim panas. Tapi karena belakangan sedang musim dingin, mereka nyaris tak pernah menyentuh es krim lagi.
__ADS_1
Apalagi tampilannya terlihat sangat cantik.
"Mandala! Aku ingin itu! Ayo pergi ke sana!"
Yujerian sebelas dua belas. Mulutnya terasa meleleh hanya dengan melihat truk es krim hingga tak cukup peduli ia digendong oleh Eros.
Mereka menyebrangi jalan yang ramai kendaraan, lalu turun dan bergegas lari untuk membelinya.
"Obachan! Aisu 2-ko." [Bibi! Es krim 2.]
Pemilik tokonya cengo. Perlu mengintip keluar untuk melihat dua manusia cebol berteriak dengan bahasa aneh.
Yujerian mengerjap. Tersadar ini bukan Jepang hingga segera menerjemahkan omongan adiknya. "Bibi, kami ingin es krim."
Eros yang melihat itu mengulas senyum geli. Datang menunjukkan daftar menu yang keduanya tidak lihat.
"Pilih di sini. Rasa es krimnya ada banyak. Atau kalian ingin semuanya?"
Umpan itu dimakan oleh Yuveria. "Semuanya! Bibi, berikan semuanya!"
Hanya butuh waktu sekian menit untuk keduanya duduk di atas kursi, menikmati gelato sambil jadi pusat perhatian.
Wajah mereka sudah cukup jadi pusat perhatian, apalagi dengan keberadaan Eros dan Mandala yang menambah sensasi. Kemiripam wajah Eros dan kedua anaknya membuat siapa pun langsung bisa paham mereka memiliki hubungan darah.
Untuk sejenak, Eros tahu kedua anaknya tidak sedang peduli bersikap dingin. Mereka lebih peduli pada es krim yang dingin daripada Eros.
Tapi itu sudah cukup membuatnya diam-diam tersenyum, berharap bahwa kedepan mereka berdua sering-sering teralihkan begini.
__ADS_1
...*...