
Sebenarnya Yujerian dan Yuveria bisa langsung masuk sebagai murid Asgard tanpa harus mengikuti tes lagi. Al sudah menjamin agar kedua anaknya bisa bersekolah di akademi itu, jadi tanpa perlu tes, mereka sudah murid Asgard.
Namun Hestia tidak terlalu ingin kedua anaknya terbiasa mengandalkan orang lain. Jadi pada ujian tes masuk awal bulan ini, ia mengajak Eros untuk menemani Yujerian dan Yuveria.
"Sebelum itu, Mama ingin kalian berjanji satu hal."
"Hai, Haha-ue?"
"Berteman baik dengan anak-anak lain, gunakan kemampuan kalian untuk membantu anak-anak lain, dan—" Hestia mengetuk ringan puncak hidung mereka berdua, "—tetap rendah hati pada orang lain."
Di sampingnya, Eros berharap Hestia mengatakan juga 'jangan memukul orang lain, jangan membuat pingsan anak orang, dan jangan membully siapa pun' tapi Eros diam karena nampaknya mereka berdua jinak.
Eros ikut tersenyum melihat kedua anaknya mencium pipi Hestia.
Sudah setengah bulan berlalu, jadi sekarang tidak apa kalau publik melihat anak Eros dekat dengan ibu tiri mereka.
"Aku tidak percaya mereka sekarang sudah bersekolah." Hestia mengikutinya duduk di kursi khusus orang tua, memandangi ratusan anak-anak yang datang mengikuti tes ujian masuk hari ini. "Mereka masih bayi, seingatku kemarin."
Eros juga masih ingat mereka melompat dan memukulinya sambil berkata Eros penjahat kelamin. Ya, mereka sudah 'besar'.
"Mereka baik-baik saja."
Hestia tersenyum. "Apa aku terlihat merasa mereka tidak baik? Aku tahu mereka baik-baik saja. Hanya, sedikit merindukan masa lalu."
Masa lalu di mana Eros tidak ada adalah hal yang tidak Eros rindukan.
Jadi ia diam, menyaksikan Yujerian dan Yuveria baru saja diberi nomor peserta oleh panitia. Wajah kembar mereka membuat keduanya jadi pusat perhatian dengan mudah.
"Kamu mendidik mereka sangat baik," ucapnya kemudian.
Belakangan ini Eros dan Hestia belum terlalu dekat. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kediamannya, lalu Eros sendiri bolak-balik bekerja, menemani anaknya, lalu istirahat.
Mereka berdua masih belum mengembangkan hubungan sama sekali. Terutama karena Yujerian dan Yuveria selalu menghalangi.
"Apa ada sesuatu yang kamu ceritakan pada mereka tentangku?"
Hestia mengangkat alis. Tidak, kalau harus dijawab jujur. Dirinya sendiri pun terkejut melihat sikap Yujerian dan Yuveria seperti membatasi diri dari Eros.
"Aku berpikir mereka tidak akan menanyakan hal tentangmu."
"Mereka tidak pernah?"
Hestia menggeleng. "Mereka membicarakanmu pada orang lain, bukan padaku. Mungkin hanya spontan mereka berpikir kamu melukaiku."
"...."
"Tapi mereka juga tidak menerima pria lain di hidupku. Ada beberapa pria ingin menikahiku dulu. Tentu saja aku tidak tertarik. Tapi mereka berdua selalu ikut bersikap dingin seolah-olah menjadikan diri mereka alasan agar aku menolak. Agar aku bisa bilang 'anakku tidak menyukaimu'."
Untuk sisi mereka itu, Eros sangat amat luar biasa bangga.
Bagus.
__ADS_1
...*...
Ketika kedua orang tuanya sibuk mengobrol di kursi penonton, Yujerian dan Yuveria mengambil kursi masing-masing.
"Nii, Yuve bertaruh menyelesaikan soalnya sepuluh menit."
Yujerian tersenyum samar. "Kalau begitu yang kalah harus menuruti perkataan pemenangnya. Selama satu minggu."
Wajah Yuveria langsung dipenuhi bara semangat. "Aku akan menyuruh Nii menggendongku setiap hari!"
Bersamaan dengan suara panitia berkata mulai, Yujerian dan Yuveria berlomba mengerjakan tes mereka. Keduanya kompak tersenyum kelelahan karena memburu setiap pertanyaan secepat mungkin.
Terlalu semangat hingga tak sadar justru pulpen di tangan Yuveria terlempar.
"Huaaaa! Memakai alat tulis ini sulit! Yuve terus menulis hiragana!" teriak anak itu keras, di tengah ujian berlangsung.
Dari kejauhan, Eros dan Hestia menepuk dahi.
Yujerian segera meminta maaf sudah menbuat keributan. Turun mengambilkan alat tulis Yuveria bersamaan dengan seorang gadis memungutnya.
"Arigato," gumam Yujerian tak sadar. Walau segera memperbaiki bahasanya. "Maksudku, terima kasih."
Panitia mendekati mereka segera. "Anak-anak, kembali duduk dan kerjakan tes kalian."
Yujerian tersentak. "Maaf."
Gadis itu mengangguk dan tersenyum pada Yujerian. Lalu dia berbalik, menunduk pada panitia. Tangannya bergerak-gerak kemudian, membuat panitia membalasnya dengan isyarat tangan.
Dia ... bisu?
Yujerian menggeleng. Menoleh pada gadis itu sebentar, sebelum kembali mengerjakan tes.
...*...
"Yuhuuuu, Yuve no kachi!" [Yeeey, Yuve pemenangnya!]
Hestia menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir ketika anak perempuannya malah heboh merayangkan kemenangan taruhan.
Hasilnya sebentar lagi keluar, tapi Yuveria sudah merayakan kemenangan karena dia lebih dulu selesai dari Yujerian.
Waktu Hestia menerima hasil tes kedua anaknya yang sama-sama seratus poin, ia tersenyum mengetahui Yujerian mengalah.
Tulisan Yuveria jelek luar biasa saking buru-buru menulis, tapi Yujerian menulis lebih tenang dan baik.
Anaknya yang menggemaskan.
"Haha-ue, apa sudah?"
"Ya." Hestia mengangguk setelah memasukkan lembar tes itu ke dalam tas. "Hari ini hanya evaluasi kemampuan. Sebenarnya bukan untuk membuat kalian diterima atau tidak, tapi melihat tingkatan kemampuan kalian dan minat juga bakat. Jika nanti kalian diterima, sekolah agar mengatur masing-masing kelas kalian sesuai hasil tes ini."
Yuveria sudah nangkring di atas punggung kakaknya. "Heeee, kalau tahu begitu tadi Yuve hanya mengisi soal yang menarik saja."
__ADS_1
"Jika seperti itu, kelas kita akan berbeda." Yujerian membalas. Memperbaiki posisi adiknya tanpa mengeluh berat. "Yuve ingin beda kelas denganku?"
"Yuve akan minta kepala sekolah memindahkan Yuve."
"Nepotisme tidak boleh."
"Tsumannai." Yuveria cemberut. [Membosankan.]
Mereka berjalan bertiga untuk menyusul Eros yang berbicara dengan para orang tua murid. Tapi sewaktu akan memasuki ruangan yang kebetulan masih tempat para murid berkumpul, Yujerian lagi-lagi melihat perempuan imut itu tersenyum sendirian di bangku tunggu.
Nampaknya dia tidak bersama orang tua.
"Nani, Yuuki?" [Ada apa, Yuuki?]
Yujerian terus menatap gadis itu. "Dia tunawicara, Haha-ue?"
Arah pandang Hestia langsung tertuju pada gadis itu. "Sa ne. Nande?" [Entahlah. Memang kenapa?]
"Dia memakai bahasa isyarat Amerika saat berterima kasih dan minta maaf."
"Hmmm." Hestia menatap anak laki-lakinya yang diluar dugaan tertarik pada hal itu.
Sekolah ini memang tidak membatasi muridnya harus sempurna secara fisik. Orang-orang dengan keterbatasan juga bisa diterima asal mereka memenuhi syarat dan kelayakan. Tapi, mungkin Yujerian tertarik karena tidak pernah melihat orang-orang seperti itu.
"Ingin coba bicara dengannya?"
"Boleh?"
"Tentu. Asal kalian berjanji menjaga perasaan gadis kecil itu. Ingat, kalian berdua anak Mama yang manis dan sempurna. Dan orang lain adalah anak manis ibu mereka yang juga sempurna."
"Baik, Haha-ue."
Yujerian menurunkan adiknya, lalu menggandeng dia pergi menghampiri gadis itu.
Kalau ditanya apa yang membuat Yujerian khawatir, itu bukan karena dia bisu. Tapi karena senyumnya tampak sedih dan matanya tampak kesepian.
Seperti Yuveria dalam versi yang lebih jujur. Atau seperti Hestia dalam versi kecil.
"Halo."
Keduanya menyapa dia dengan suara rendah agar tidak terkejut.
Anak gadis itu agak mengerjap, tapi dia tersenyum lagi, memberi isyarat tangan yang berarti 'halo juga'.
Mungkin dia pikir Yujerian dan Yuveria tidak terlalu mengerti, jadi gadis itu mengeluarkan sebuah note, menuliskan sesuatu di atasnya.
...Salam kenal. Namaku Sahna. ...
"Namaku Yuui." Yuveria jarang-jarang tersenyum pada perempuan seumurannya. "Itu nama pemberian Haha-ue."
Gadis itu memiringkan wajah, bingung.
__ADS_1
"Haha-ue itu Ibu." Yujerian menjelaskan. "Aku Yujerian. Ini adikku, Yuveria. Tapi nama panggilan kami Yuuki dan Yuui. Salam kenal, Sahna."
...*...