
Yujerian diam-diam menggeledah kamar ibunya ketika Hestia pergi sambil memikirkan apa yang pria asing itu katakan.
Pria asing itu bilang bahwa Ayah mencari Ibu, tapi tidak tahu-menahu mengenai keberadaan mereka. Kalau begitu kenapa Ibu pergi dari sisi pria itu?
Apa mungkin dia memang bukan orang baik hingga Ibu memutuskan meninggalkan pria itu saja?
Yujerian berusaha tidak berpikir buruk, tapi ia jadi terganggu dengan perkataan ayahnya tidak tahu mereka hidup. Lalu buat apa pria itu mencari Ibu kalau tidak tahu?
Ingin rasanya Yujerian bertanya pada Hestia saja agar bisa cepat mengerti, namun ia masih sadar bahwa Hestia mungkin akan terluka.
Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua?
"Yuje-nii!" Pintu kamar Hestia terbuka keras dan adiknya menerjang masuk begitu saja. "Yuje-nii!"
Yujerian nyaris meringis Yuveria melompat menindihnya. "Ada apa? Jangan suka berlari di rumah, Yuve. Sudah kubilang ratusan kali."
"Hehe. Ada Shin-niisan dan Ken-niisan di luar. Mereka mencari Nii."
"Baiklah." Ia berusaha bangkit lalu menarik adiknya untuk ikut berdiri. "Ayo. Pintu kamar sudah terkunci, kan?"
"Sudah!" Yuveria menatap sekitaran. "Kenapa Nii berada di kamar Haha-ue?"
__ADS_1
"Tidak. Hanya merapikan." Tidak ada petunjuk di sini, jadi lebih baik tidak usah memberitahu Yuveria.
Yujerian menggandeng tangan Yuveria keluar, menemui tamunya yang datang dengan pakaian khas menari. Seminggu lagi mereka akan pentas jadi mereka bilang ingin latihan dengan sempurna sekali lagi.
"Jika Yuje-nii sudah besar, dia yang akan ikut menari seperti Shin-niisan!"
Yujerian tertawa. Tidak berkata bahwa sejujurnya ia tidak suka menari dan tidak akan pernah mau ikut.
Untuk sejenak mau tak mau ia melupakan perihal ayahnya juga pria di dalam sana. Menonton kedua orang itu menari meski dalam hati masih ada sejumlah perasaan tak menentu.
Kenapa yah ... kadang-kadang segala sesuatu nampak membosankan? Seolah-olah dirinya tidak berada di tempat yang tepat dan merindukan tempat yang berbeda.
Apa Hestia bahagia di sini? Karena jika iya, Yujerian akan diam dan berpura-pura bahagia asal ibunya bahagia.
Salju turun lebih lebat hari ini, padahal Yuveria mau menghabiskan waktu di luar karena bosan. Tapi melihat cuaca tampak tidak bersahabat, Yujerian tidak bisa menuruti keinginan adiknya untuk pergi.
"Haha-ue daijoubu ka na?" [Ibu baik-baik saja tidak, yah?]
Iya. Mereka mencemaskan Hestia. Wanita itu tetap pergi bekerja meski ada badai. Tentu saja mungkin sekarang Hestia sedang terjebak juga, tidak menyangka akan ada badai besar sampai suhu jadi sangat rendah.
"Daijoubu yaro," jawab Yujerian yakin. [Tentu saja baik-baik saja.]
__ADS_1
Yujerian mengelus kepala Yuveria, menenangkannya. "Haha-ue mungkin akan pulang sebentar lagi. Jadi kamu berbaringlah dulu."
Yujerian menggelengkan kepala dengan bibir menggembung lucu. "Matteiru, Nii to issho." [Mau tunggu, bersama Kakak.]
Memang anak manja.
Yujerian menarik adiknya untuk memeluk dia erat. Duduk di samping pintu menunggu kepulangan Hestia.
Keduanya tetap saja khawatir karena suhu di luar sangat dingin. Meski Hestia tidak pergi sangat jauh dari rumah sekarang dan hanya di pelabuhan, tetap saja bisa terjadi sesuatu.
"Haha-ue pasti lelah." Yuveria bergumam. "Haha-ue tidak pernah beristirahat dengan benar. Selalu bekerja siang dan malam. Nii, aku selalu membenci Chichi-ue yang membiarkan Haha-ue lelah."
"Aku juga." Yujerian jujur tentang hal itu. "Haha-ue adalah wanita paling luar biasa seperti Yuve. Jadi jika Haha-ue pulang, Yuve jangan meminta gendong, mengerti?"
"Aku juga benci Chichi-ue karena itu."
Yujerian terkekeh. Memang mereka berdua tidak punya hal selain menyalahkan ayah mereka.
Yang mereka tahu, pria bekerja saat wanita menemani anak-anak mereka tumbuh. Tapi gara-gara pria itu tidak ada, harus Hestia yang bekerja hingga jarang ada waktu membesarkan mereka.
Meski Yujerian tidak pernah merasa kurang kasih sayang dari Hestia, tetap saja berbeda kalau seandainya Hestia selalu ada.
__ADS_1
Semuanya salah ayah mereka.
*