Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
85. Minta Saja


__ADS_3

Esok paginya, Hestia membiarkan Eros datang bersamanya menemui Darius. Meski di awal Darius tidak menyangka, dia dengan cepat beradaptasi dan mempersilakan Eros duduk.


"Aku akan menikahi Eros, Pa." Hestia sudah sangat terbiasa tersenyum santai di depan Darius meski mood-nya tersenyum sedang ke laut. "Aku sudah bicara pada Yohannes. Dia bilang dia akan menarik lamarannya."


Darius ikut tersenyum tenang. "Tadi pagi Yohannes datang menyampaikannya. Kamu memang selalu menyelesaikan apa pun dengan bersih."


"Itu yang Papa ajarkan."


"Lalu, kapan kalian menikah?"


Hestia baru akan menjawab 'lakukan kapan yang menurut Papa baik' ketika Tamara tiba-tiba bersuara. "Kenapa tidak menyertakan anakmu, Eros?"


Aku tidak bisa diam. Tamara menggeram dalam hati melihat Hestia mulai menjemput kebahagiaannya.


Apa yang dia harapkan? Semua orang bahagia dia kembali, lalu dia menikahi Eros, menikmati kekayaan dan ketenangan dengan anaknya sementara Melia sakit jiwa karena kepergian Hestia kemarin?


Darius mungkin berhenti memukuli Melia. Darius juga tidak memukuli siapa pun lagi setelah itu. Tapi apa? Maafkan saja dan lupakan?


Enak saja!


Katakan itu sambil melihat anaknya membenturkan kepala ke tembok berulang kali hanya agar dia tenang dari bayangan kekerasan!


Jika bukan karena Melia, Tamara akan berterus terang mengatakan itu anak Hestia dan dia kabur gara-gara hamil.


Sayangnya Tamara tidak tahu bahwa Hestia paham perasaannya. Sebagaimana Tamara akan melakukan segala cara demi anaknya yang terluka, Hestia pun sama.

__ADS_1


"Aku sudah menemui mereka." Hestia tersenyum cerah pada Darius. "Mereka anak yang menggemaskan dan penurut, Pa. Ibu mereka sudah mati. Mereka bukan anak haram. Eros menikah sirih dengan wanita miskin dan bukan pelacur."


Ia akan melakukan apa pun, termasuk mengakui anaknya bukan anaknya jika itu yang paling aman bagi mereka.


"Saya tidak keberatan." Darius memberi jawaban yang membuat Tamara terguncang dan Hestia tertegun. "Kamu memilih Eros, maka itulah yang kamu inginkan."


Eros melirik ekspresi Hestia.


Dia benar-benar tidak terbiasa ketika ayahnya bersikap baik.


Sungguh sulit dimengerti. Hestia selalu memberi reaksi seakan Darius itu menakutkan. Dan dari sikap Tamara juga, jelas Darius memang tidak seharusnya bersikap begitu.


Tapi mata Darius, rasa tanggung jawab dan perasaan untuk anaknya, Eros sebagai sesama pria mengenali itu.


Dia bersungguh-sungguh.


...*...


Bulan demi bulan berganti.


Satu bulan lagi, kedua anaknya akan resmi bersekolah di Asgard milik Narendra. Setengah bulan lagi, adalah pernikahannya dengan Eros akan dilangsungkan.


Hestia duduk di ruang kerjanya, menatap kekosongan di sana dalam hening.


Kenapa, yah? Kenapa rasanya masih ada yang harus terjadi? Kenapa rasanya masih ada yang kurang dan Hestia muak menunggu itu datang?

__ADS_1


Bukankah sekarang ia sudah harus bahagia? Semua baik-baik saja sekarang. Bahkan Melia juga sudah tidak melakukan apa-apa dan Tamara diam saja.


Kenapa rasanya masih ada yang kurang?


"Aku merasa aku hanya lari." Hestia menutup wajahnya dan memghela napas frustrasi. "Tapi lari dari apa?"


Tidak. Mungkin sebaiknya tidak ia pikirkan karena akan membebani.


Hestia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan itu sejenak, karena tidak ada gunanya bekerja saat otaknya tak produktif.


Dibawa mobilnya melaju menuju kediaman Wija, berpikir untuk mencari ketenangan di sana.


"Apa usiamu sudah terlalu tua untuk senang jadi calon pengantin?" sindir pria itu, pada wajah masam Hestia sebagai calon pengantin.


"Mungkin saja." Hestia hanya minum tanpa mengindahkan nada sindiran Wija.


"Hei, Nona yang sebentar lagi jadi Nyonya." Wija menumpukan sikunya di atas piano saat menunduk pada Hestia. "Kenapa kamu tidak minta saja pada Darius?"


"Hah?"


"Minta saja pada dia. Minta dia berkata 'maaf sudah menyakitimu' atau apa pun yang ingin kamu dengar."


"Aku tidak mengerti apa yang kamu—"


"Jelas kamu mengerti. Untuk apa berbohong? Kamu mau memaafkan Darius, tapi kamu ingin dia 'mengakui dia berbuat salah'. Kamu mau menerima dia berubah dan melupakan semuanya, tapi sebelum itu 'minta maaf dan ingat dulu semuanya'."

__ADS_1


*


__ADS_2