Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
107. Kesabaran Eros


__ADS_3

Eros menyuruh Darius untuk pulang menenangkan diri terlebih dahulu. Sementara itu, Eros tetap menunggu di depan ruangan khusus tempat Melia dan Tamara dirawat.


Ibu berada di sisi Eros, begitu pula Rion. Mereka bertiga hanya bisa menunggu, karena Melia melarang siapa pun masuk tidak peduli urusannya apa.


"Aku tidak mengerti," celetuk Rion tiba-tiba. "Kenapa Hestia membela ibu tirinya bukan Eros?"


"Memang anak ini mengerti apa?" balas Laura sinis. "Dia meminta wanita, tapi tahu perasaan wanita saja tidak."


"Ibu, perasaan wanita itu sangat memusingkan dan menyebalkan. Pada intinya kan Hestia terluka karena ibu tirinya. Yang wajar adalah dia memenjarakan ibu tirinya. Juga ayahnya, kalau perlu."


"Ah, benar juga." Laura mengangguk-angguk sinis. "Pada intinya kamu telah hidup bertahun-tahun karena Ibu dan sepeserpun belum membayar pada Ibu. Berapa hutangmu pada Ibu, hm? Saat hamil, Ibu kelelahan sembilan bulan, saat melahirkan, Ibu berjuang setengah mati dan jangan pernah lupakan dalam kurun waktu itu berapa banyak yang harus Ibu keluarkan."


"Ibu—"


"Lalu setelah itu kamu lahir, Ibu harus menyusui kamu meskipun Ibu mengantuk. Kamu menangis bahkan saat Ibu sedang mandi. Saat Ibu kesal, Ibu lelah, Ibu muak, Ibu bosan, Kamu hanya menangis memaksa Ibu peduli padamu. Berapa harga semua itu? Hah? Bayar pada Ibu."


Rion mingkem.


"Hestia membela Tamara karena dia tahu alasan Tamara melakukannya."


Laura meraih tangan Eros, menggenggamnya erat. Ekspresi pedih sang anak membuat Laura ikut merasa pedih.


"Tapi bukan berarti kamu adalah makhluk tidak berperasaan. Kenyataan kamu bersabar memahaminya, itu sudah membuktikan kamu mencoba memahami dengan caramu. Jangan sedih, Nak."

__ADS_1


"Jadi Darius tidak dipenjara?" celetuk Rion lagi. Sekaligus mengalihkan perhatian sebelum Laura melanjutkan sindiran soal lelahnya punya anak sementara Eros dan Rion hanya anak tak tahu diri.


"Baik Hestia dan Melia tidak mau melakukannya." Eros menjawab dengan nada rendah. "Mereka pernah hidup dalam kasih sayang Darius. Lagipula, jika Darius dipenjara, itu hanya akan berimbas pada adik-adik mereka."


Yang terpenting adalah efek jera. Darius, tanpa dipenjara nampaknya sudah menyadari betul kesalahannya.


Dia kehilangan Hestia, kehilangan Tamara dan Melia. Mungkin itu sudah cukup.


Jika setelah itu Darius memukul lagi, kemungkinan Melia sendiri yang akan membunuhnya.


"Ibu akan menyuruh Ayah berbicara pada Darius. Mulai sekarang fokuslah mengurus istri dan anakmu."


Istri dan anak yang rasanya sudah akan lepas dari tangan Eros.


Dingin sekali.


"Ibu akan bersabar karena dia sedang bersedih." Laura dongkol diberi sikap tak hormat begitu. Bagaimanapun Laura merasa harga dirinya tercoreng.


Tapi apa boleh buat.


"Ibu."


"Apa?"

__ADS_1


Eros tiba-tiba menoleh, mencium tangannya. "Doakan aku tidak kehilangan istri dan anakku."


Rion terpaku melihat kakaknya seperti akan menangis. Tak Rion sangka Eros sungguh-sungguh telah terjerat dalam hubungan emosional bersama Hestia.


Nampaknya kalau dia ditinggalkan, Eros akan menangis seperti bayi.


...*...


"Siswa kelas 1-A, Yujerian Prajapati, Yuveria Prajapati, diminta untuk berkumpul di lapangan. Sekali lagi, Siswa kelas 1-A, Yujerian Prajapati, Yuveria Prajapati, diminta untuk berkumpul di lapangan."


Yujerian dan Yuveria saling melempar pandangan. Tidak mengerti kenapa mereka tiba-tiba dipanggil dari interkom sekolah.


Tapi karena itu panggilan resmi dari pengeras suara, segera mereka beranjak. Tak lupa mengajak Sahna bersama mereka, karena kelas Sahna berada tepat di sebelah mereka.


"Yuje-nii, kaoiro warui. Tsukareta no?" [Kakak, wajahmu pucat. Kakak lelah?]


Yujerian hanya tidak tidur lagi semalam, kecuali beberapa jam awal. Sulit untuk memejam ketika pikirannya hanya dipenuhi oleh Hestia dan Eros.


Kini bukan sehari dua hari. Berhari-hari mereka harus sabar tidak bertemu Hestia cuma gara-gara mereka pindah ke negara ini. Yujerian semakin membencinya.


Sangat membencinya.


...*...

__ADS_1


__ADS_2