
Eros terus mendekat meski harus berdesak-desakan. Ketika kakinya sudah memijak tempat di mana ia bisa melihat, Eros terheyak.
Anak yang memanah drone-nya, anak yang menghancurkan drone-nya, mereka berdua duduk di atas bangku, berhadapan dengan pria berambut putih memainkan catur Jepang yang Eros saja kesulitan.
Anak perempuan itu sibuk memakan permen apel di tangannya, sementara yang laki-laki tampak santai menunggu pria tua berpikir.
Sesuatu di dalam dada Eros meletup. Ia bernapas berat dan nyaris terhuyung. Lawannya dalam permainan catur kemarin, itu bukan Hestia tapi anaknya sendiri?
"He's so talented, isn't he?" [Dia sangat berbakat, iya kan?]
Eros menoleh. Mendapati Norman berdiri santai di sana seolah-olah dia tak habis menghilang. "Mereka ... anakku?"
"What do you think?"
Mulut Eros kering. Tak tahu kenapa ia memutuskan berbalik, merasa perlu menjernihkan pikirannya sejenak.
...*...
"Ooo!"
Yujerian menoleh karena teriakan adiknya tiba-tiba. "Nani?" [Apa?]
Yuveria menunjuk ke sebuah arah sambil berteriak dengan bahasa Indonesia. "Pria yang kabur!"
Apa?
Sontak saja Yujerian melotot melihat pria itu melambaikan tangan dengan santainya. Jika bukan karena ia sedang bertanding, sudah ia ikat pria itu kuat-kuat.
Dasar bodoh. Kenapa malah muncul di depan Yuveria begitu saja?
__ADS_1
"Yuje-nii, cepat selesaikan dan susul aku!"
"Matte—" [Tunggu—]
Adiknya sudah melesat pergi, hingga Hinatsuru dan Gamabunta mengejarnya. Mereka berdua nampaknya juga kaget karena mereka yang menunjukkan rumah keduanya pada pria itu.
Sedikit tak fokus pada permainan, Yujerian berusaha bersabar. Ia tahu pria itu tidak akan melukai adiknya, tapi tetap saja ia cemas kalau terpisah terlalu jauh.
Sementara Yuveria berlari sangat kencang mengejar pria dewasa itu. Dia tampak bersenang-senang membuat Yuveria capek.
Karena kesal, Yuveria melempar permennya. Tepat sasaran ke kening pria itu.
"Kora! Kora! Hansoku daro!" teriak pria bajingan. [Hei, hei! Itu curang!]
"Urusaii!" [Berisik!]
"Korosu," gumamnya. [Bunuh.]
Norman rasanya mau menangis melihat betapa brutal anak bosnya ini. Dia lebih menakutkan daripada Sadako, kuntilanak Jepang.
"Yuui! Kenapa kamu menyakiti pria baik itu?!" Hinatsuru menjerit.
"Karena dia pria jahat!"
Yuveria mencengkram kerah Norman hingga dia tercekik. Wajahnya yang menakutkan mendekati pria itu sebagai ancaman.
"Hah? Siapa yang menyuruhmu, Paman? Apa Paman penculik mesum yang mengincarku? Haha-ue berkata mataku sangat cantik dan mahal seperti berlian. Apa Paman mau menjual mataku? Paman mau tahu rasanya mati tersedak air laut? Paman ingin kubuang ke laut?"
Anak ini anak siapa sebenarnya.
__ADS_1
"Ojou-chan, ichitsuite. Ojisan wa—" [Gadis kecil, tenanglah. Paman hanya—]
"Hah?"
Norman mengalihkan mata ngeri. Bola matanya yang besar itu sangat menakutkan saat melotot. Makin menakutkan karena dia bocah tapi bicara soal membuat orang mati tersedak.
"Baik, Paman orang jahat!" Dia memutuskan sepihak.
Lalu berdiri setelah mendorong Norman kembali berbaring.
"Gamabunta, duduki pria ini. Aku akan mencari tali untuk mengikatnya!"
"Oi!" [Baik.]
Hinatsuru memutuskan mengikuti Yuveria daripada berduaan dengan pria jahat.
Ketika gadis itu pergi, Norman duduk. Menepuk-nepuk kepala bocah gendut yang kini duduk di pangkuannya, tak sanggup menahan tekanan Norman.
"Mattaku, kawaikunai gaki domo ga." "[Astaga. Bocah-bocah yang tidak lucu sama sekali.]
Norman berdiri, mengajak Gamabunta ikut berdiri.
"Paman akan memberimu uang, jadi segera pergi dan berkata Paman lari, mengerti?"
Dia hormat. Menerima uang sogokan, lalu kabur.
Norman segera pergi, mencari di mana Eros menyendiri.
...*...
__ADS_1