
Yujerian menatap punggung pria yang menuruti kemauan Yuveria agar dia tidak beranjak. Dia duduk di teras pintu samping, memandangi salju turun dalam diam ketika Yujerian di dalam, mengusap-usap kepala Yuveria agar tidur lelap.
Pria itu sedikitpun tidak bicara. Sedikitpun tidak coba membuka pembicaraan.
Yang dia lakukan cuma diam, mengalihkan pandangan, padahal berkata mencari mereka.
Ada sesuatu dalam dada Yujerian yang berlubang karenanya. Dia menghilang sejak lama, lalu tiba-tiba muncul, tiba-tiba duduk di sana, tiba-tiba coba bergabung.
Ternyata dia sesuatu yang dirindukan dan disesalkan ketika muncul. Yujerian berharap dia menghilang sekarang. Dadanya terasa sakit melihat dia dari kejauhan.
"Nii."
Yuveria juga terlihat gelisah. Dia selalu berkata ingin naik ke punggung ayah seperti Hinatsuru melakukanya.
Meski belakangan yang dia katakan cuma benci ayah dan mau memukulnya, Yuveria pasti berharap bisa punya hubungan normal dengan ayah mereka.
"Apa adikmu sakit?" Norman bertanya, melihat Yuveria gelisah.
Adiknya langsung berbalik, menyembunyikan wajah di perut Yujerian. Dia kelepasan menangis lagi.
"Tidak." Yujerian menahan tangannya terkepal. "Dia memang begini."
Pria itu tidak berbalik juga. Buat apa dia datang kalau ujung-ujungnya bersikap begitu? Apa? Dia menunggu Yujerian dan Yuveria duluan menyapanya?
Melihat tatapan Yujerian yang tidak bisa menyembunyikan emosi itu, Norman menghela napas.
Tidak bisa ia menyalahkan Yujerian kalau marah, tapi juga tidak bisa menyalahkan Eros yang tidak terbiasa akan situasi.
Kalau Norman yang hidup bebas tiba-tiba tahu ia punya anak, mustahil dirinya bisa langsung bersikap seperti orang tua.
Ia tahu apa yang Eros pikirkan di sana. Dia sibuk bertanya-tanya siapa nama anaknya, belum ada satupun yang memberitahu.
Sebenarnya Norman tahu. Ia mendengar ketika Hestia memanggil mereka bukan dengan Yuuki atau Yuui. Tapi lebih baik dia bertanya sendiri.
__ADS_1
"Nah, Bos."
Eros menoleh dengan wajah datar tidak peduli. Makanya Yujerian salah paham. Padahal sebenarnya muka Yuveria dan Yujerian juga sama.
"Kurasa sebaiknya dekati mereka."
Eros melengos. "Mereka tidak mengenalku."
"Makanya ajak mereka berkenalan."
"Tidak seperti mereka mau."
"Lalu? Kamu ingin duduk di sini sepanjang waktu?"
"Aku menunggu Hestia."
"Menurutmu mereka akan membiarkan kamu dan Hestia bicara?"
Seketika, Eros mengenang sesuatu yang tidak sepatutnya dikenang. Benar juga, pikir Eros.
Eros segera menoleh. Tak sengaja menemukan Yujerian melihatnya, tapi anak itu memalingkan muka dingin setelah itu.
Padahal bukan Eros yang meninggalkan mereka. Meski ia tidak bisa berkata 'salahkan ibumu' karena Hestia juga punya alasan.
"Kalian—"
"Jangan bicara pada Yuje-nii!"
Si perempuan langsung marah. Dari suaranya, dia menangis. Membuat Eros makin tidak paham sebenarnya apa yang salah.
Eros melemaskan tubuhnya ketika menatap punggung anak kecil itu. Ingin rasanya ia memeluk mereka.
Entahlah. Mereka terlihat sangat kecil dan rapuh.
__ADS_1
"Maafkan saya." Eros tidak ingat kapan ia pernah minta maaf pada anak kecil. "Saya berbuat—"
"Urusai! Damare!" [Berisik! Tutup mulutmu!]
Yuveria duduk, menyambar gelas di meja dengan niat melemparnya sambil menangis.
"Urusai! Urusai! Urusai!!"
Yujerian menarik tangan adiknya sebelum dia benar-benar melempar itu. "Abaikan saja dia," bisiknya lembut. "Tenagamu akan habis meladeni orang seperti dia."
Tangisan Yuveria kembali terdengar. Dia tidak bisa membendung perasaannya. Kini punya ayah dan bertemu ayah, tapi tidak ada satupun yang bisa mereka lakukan selain saling memunggungi.
Rasanya bukan seperti ayah. Melainkan seperti orang asing datang mengganggu mereka. Jauh lebih parah dari pria-pria yang mau menggoda ibu mereka lalu mereka berdua tidak setuju.
Rasanya lebih menjijikan.
"Kalian bisa memukul saya jika marah."
Yujerian memejam, merasanya sakit di dadanya kambuh lagi akibat suara Eros.
Pergilah. Pergilah sejauh mungkin kalau dia cuma mau datang melukainya.
Suara langkah kaki terdengar jelas dari lantai kayu saat pria itu datang. Mereka mendongak, merasa ketakutan dia begitu besar, meski biasanya mereka punya cara melawan besar tubuh seseorang.
Yujerian memeluk erat adiknya yang menangis semakin histeris. Tapi pria itu tidak menyuruhnya diam, melainkan berjongkok.
"Maafkan saya." Wajahnya dirambati kedukaan saat menatap Yuveria. "Seharusnya saya mengetahui dari awal. Apa pun alasannya, saya memang berbuat salah. Maafkan saya."
"...."
...*...
...karena pernah ada yang nyinggung, penulis sertain penjelasan. kata SAYA di cerita ini bukan merujuk ke formalitas buat atasan atau bos atau orang asing, tapi untuk penyesuaian karakter. terutama Eros dan Darius yang lebih sering ngomong SAYA ke anaknya, itu karena manggil diri mereka sendiri PAPA atau AYAH terlalu manja buat karakter mereka yang dingin. yang karakternya kekanakan itu Yuveria....
__ADS_1
...sekian ✌...