
Hestia memalingkan wajah, berusaha tidak meringis sakit.
Dadanya ngilu. Ia lelah. Tapi ia harus berpura-pura. Karena itulah yang selalu ia lakukan dan itu yang ia pelajari sejak masih sangat belia.
"Aku bukan anak kecil. Kalau dia berubah, maka itu yang terbaik."
"Justru karena kamu bukan anak kecil, dengar? Kamu bisa memahami apa yang kamu mau dan berhenti berbelit-belit. Katakan saja kamu—"
"Lalu!" Tanpa sadar, Hestia meninggikan suaranya. "Lalu setelah itu dia akan bersujud minta maaf padaku dan Melia? Setelah itu dia memeluk kami dan berkata maafkan Papa karena waktu itu Papa khilaf? Begitu maksudmu?!"
Hestia tak sengaja melempar gelas di tangannya sebagai pelampiasan. Ia pun tak tahu harus apa. Ia juga sesak dengan semua perasaan ini.
"Berhenti bicara seolah semua hal mudah. Adikku tidak terluka jika itu mudah. Pelan-pelan semua baik-baik saja. Aku orang dewasa. Aku tidak butuh maaf untuk memaafkan."
Tapi setelah itu Hestia malah meremas keningnya dan menangis tanpa suara.
Bagaimana caranya menghilangkan luka di hatinya? Bagaimana caranya ia benar-benar menerima kalimat 'sudah kumaafkan jadi ayo lupakan'?
Itu sakit. Itu luar biasa sakit dan membekas.
Sampai-sampai rasanya Hestia berharap dicincang saja karena mungkin akan jauh lebih melegakan daripada harus hidup utuh tapi terus tersiksa oleh perasaannya.
Memang. Memang ia menginginkan maaf. Memang ia berharap Darius minta maaf. Tapi jika ia berkata 'Pa, minta maaflah atas kejadian di masa lalu' apa Darius akan menangis?
Tidak! Darius akan mengerutkan keningnya lalu semua yang telah membaik justru semakin memburuk.
__ADS_1
"Kamu tahu?" Wija pergi memungut gelas yang isinya tumpah ke rerumputan itu. "Kamu tidak akan pernah waras sampai kamu menyembuhkan diri."
"...."
"Hestia, terluka karena jatuh dari sepeda bisa sembuh bahkan tanpa diobati. Tapi sakit paru-paru atau kanker tidak bisa sembuh tanpa campur tangan dokter. Kamu memikirkannya? Lukamu bukan jenis yang 'biarkan waktu menyembuhkan'. Itu butuh obat. Maaf dari mulut Darius obatnya."
...*...
Yujerian tidak pernah absen memeriksa tas milik ibunya. Jadi ketika ia melihat bertumpuk-tumpuk obat tidur bahkan kini obat penenang, Yujerian menahan napasnya agar tidak memburu marah.
"Nii."
Tatapan Yujerian bergeser pada Mandala. "Apa setidak ingin itu Haha-ue menikah? Kenapa sekarang Haha-ue bahkan meminum obat semacam ini?"
"Lalu?"
"Apa Anda siap mendengarnya?"
"Kami hidup bersama Haha-ue sejak kami lahir!" Yuveria menarik-narik tangan Mandala. "Tolong ceritakan pada kami."
"Mandala, katakan saja terus terang."
Mandala menghela napas, pada akhirnya berjongkok. "Ada dua pilihan bagi mereka yang mengalami kekerasan dalam hidup mereka."
Keduanya tertegun. Satu kalimat itu cukup untuk mengatakan bahwa Hestia mengalami kekerasan hingga trauma.
__ADS_1
"Pilihan pertama adalah terluka, pilihan kedua adalah berpura-pura tidak terluka." Mandala mengambil botol obat dari tangan mereka, melihat-lihat tulisannya. "Anda pernah bertanya, apa Tuan Eros bisa menyembuhkan Nona Hestia? Jawabannya adalah tidak."
"Kenapa?"
"Karena Nona Hestia tidak menginginkan itu." Mandala mengembalikan botol obat ke tangan Yujerian. "Nona Hestia mengharapkan orang yang menyakitinya tahu dia terluka."
"Siapa yang menyakiti Haha-ue?" lirih Yuveria.
"Apa adiknya? Bibi cantik waktu itu?" tanya Yujerian.
"Ayahnya, kakek Anda berdua."
Yujerian tersentak. Kalau begitu kenapa Hestia masih terus kembali ke sana dan terus terluka selama berbulan-bulan? Bukankah sudah jelas kalau dia tambah terluka maka yang dia cari tidak ada?
"Saya tidak memiliki ayah ataupun ibu jadi saya tidak akan mengatakan secara pribadi." Mandala kembali berdiri. "Tapi jika harus saya katakan, terkadang, seseorang melakukan sesuatu dengan 'niat' tidak buruk tapi berakhir buruk dan dia tidak sadar."
"Nii."
Yujerian menatap gamang botol obat di tangannya dan Yuveria. Ia sudah lelah melihat ibunya terus berpura-pura bahagia, berpura-pura tenang menikmati hidupnya lalu di tengah malam bangun untuk terluka diam-diam.
"Apa Mandala akan membunuh ayahnya Haha-ue jika kami meminta?"
"Apa saya pernah menarik perkataan saya, Tuan Muda?"
*
__ADS_1