
Hestia terbangun dari tidurnya merasakan sensasi basah air mata. Sejenak Hestia diam membiarkan Eros menghapus air matanya itu, tapi kembali jatuh padahal Hestia tidak sedang bersedih.
"Ada apa? Kamu mimpi buruk?"
Samar, Hestia mengangguk. "Yujerian sering menahan dirinya setiap kali dia ingin mengatakan sesuatu. Apa Ibu memberi kabar?"
Eros menyelimuti tangan Hestia dengan tangannya. "Mereka tidak mau pergi, jadi Ibu hanya menemani mereka di rumah. Mereka merindukanmu."
Ya. Hestia rasa ia telah melakukan banyak kesalahan besar yang mungkin berimbas pada mental anaknya.
Sekarang juga Hestia mau menemui mereka, tapi ia pun takut jika Yujerian dan Yuveria melihatnya dalam kondisi ini, kebencian mereka pada Eros akan semakin besar.
Ayah adalah sosok penting dalam hidup setiap anak. Ibu melahirkan, tapi Ayah itu seperti pelindung dan yang paling diharapkan.
Karena itu, Hestia tidak mau dada kedua anaknya menganga akibat kebencian pada ayah mereka.
"Eros."
"Hm?"
"Bisakah kamu bersabar sedikit lagi? Hanya sedikit lagi."
__ADS_1
Eros menggeleng. "Aku akan sabar selamanya."
Harusnya Hestia tidak perlu bertanya. "Mereka akan memusuhimu lagi." Tangan Hestia mengarah pada wajahnya. "Mereka akan mengatakan sesuatu seperti kussojiji atau hentaiyaro."
Eros malah tertawa. "Aku memahami rasanya. Kadang-kadang aku mau mengatakan itu pada Ayah."
"Itu karena mereka sangat berharap. Dan mungkin bingung." Hestia merasa harus menjelaskannya. "Kamu tahu, seperti ... seperti mereka berharap kamu ada, tapi ketika kamu ada, mereka marah karena sebelumnya kamu tidak ada, lalu mereka berdebar-debar karena sangat menyayangimu, tapi mereka merasa asing pada hal itu hingga mereka malah—"
"Hei, tenanglah. Aku mengerti. Jelaskan pelan-pelan."
Napas Hestia berembus cepat dan berat. Ia juga sejujurnya belum mengerti bagaimana cara menjelaskan itu.
Lagipula ia tak benar-benar yakin itukah yang keduanya rasakan atau berbeda. Namun, Hestia merasakan itu pada Darius.
"Ya. Aku mengerti." Eros mengangguk sabar. "Apa lagi? Katakan saja."
"Yujerian sering ketakutan. Sangat sering. Jauh lebih sering dari Yuve." Hestia membiarkan air matanya jatuh saat mengingat anak itu. "Dia memaksakan dirinya sendiri. Terus berpikir bahwa, jika bukan dia, maka tidak ada orang lain. Karena tidak ada kamu."
Eros mengerjap dengan mata merah. Mengangguk atas hal itu. "Menurutmu apa yang harus kulakukan?"
"Peluk dia. Buat dia percaya sekarang ada kamu. Tunjukan kalau kamu benar-benar akan bersamanya." Hestia ikut mengerjap dan air matanya terus lolos. "Dia sangat suka lautan. Sama sepertiku. Dia bisa diam berjam-jam memandangi lautan. Saat aku memandangi lautan, aku selalu memikirkan Papa. Kurasa dia juga sama."
__ADS_1
"Aku akan mengajaknya pergi ke laut bersama," jawab Eros parau. "Dia suka bermain catur bersama? Bagaimana dengan robot? Atau ke hutan?"
"Yuve yang menyukai hutan." Hestia tertawa kecil. "Yujerian tidak terlalu menikmati hutan, tapi dia akan pergi jika Yuve pergi. Robot, dia menyukainya. Terutama robot yang perlu dirakit sendiri. Dia selalu puas setelah menghabiskan waktu sehari semalam merakit robot. Ah, mimpinya kurasa ... dia bilang dia mau merakit robot raksasa sendirian."
Eros mengusap tangannya. "Akan kuminta Norman membuat robot raksasa untuk dirakit. Apa lagi?"
Ada banyak hal, sebenarnya, namun Hestia rasa cukup dulu sampai di sana. Mulai sekarang ada banyak waktu bagi Eros memahami anak-anaknya.
"Yuveria." Hestia tak melupakan anak gadisnya, jelas. "Dia anak yang sederhana. Banyak hal yang dia suka, tapi tidak terlalu harus diarahkan seperti Yujerian. Dia akan mengatakan dia ingin apa jika dia ingin. Yang terpenting, Yuve sangat suka dipuji. Sangat."
"Aku harus memujinya apa? Dia cantik, dia manis, dia pintar, dia satu-satunya malaikat?"
Hestia tertawa lagi. "Hontoni oyabakada ne kimi wa." [Kamu benar-benar budak cinta anakmu.]
Wajah Eros lembut menatapnya. "Kuartikan semuanya?"
"Hm. Juga suaranya. Yuve sangat membanggakan nyanyian. Minta dia sering bernyanyi, dia akan sangat-sangat-sangat senang."
Makanya diam-diam Yuveria sering menemui Teruhashi untuk menyanyi. Sayang sekali, menyembunyikan sesuatu dari seorang ibu itu tidak semudah yang anaknya pikirkan.
Hestia tahu. Ia membiarkan mereka yakin semua tersembunyi karena nampaknya mereka lebih suka itu.
__ADS_1
*