
Melia menyaksikan semua itu dari kejauhan. Hanya terdiam saat Eros membungkus tubuh anaknya dengan pelukan erat, dan Yujerian menumpahkan segala ketakutannya lewat rintihan.
Syukurlah, adalah bisikan dari sebagian hatinya.
Menyebalkan, adalah bisik setengah lainnya.
"Hei."
Melia berpaling, mengangkat alis pada Rion. "Apa?"
Adik Eros yang juga bermata abu-abu itu tersenyum canggung. "Kamu rupanya menyayangi Yujerian juga."
Menyayangi? Untuk apa?
"Aku juga lelah melihat anak itu memusuhi Eros. Yah, aku tahu Eros memang menyebalkan dan kadang-kadang bisa sangat tidak berguna, tapi mereka membuat kesal karena sebenernya mereka saling berharap, kan? Hah, anak dan ayah sama saja."
Melia terdiam. Mengatup mulutnya, tapi tak tahan tidak bersuara.
Ia juga mau jujur.
"Aku cemburu padanya."
"Siapa?"
"Anak itu."
Rion terkejut mendengar seorang wanita dewasa berkata cemburu pada anak kecil yang bahwa belum mencapai usia sepuluh tahun. "Benarkah?"
"Dia punya ayah yang mau berlutut minta maaf, padahal jika dipikir lagi, Eros juga tidak berbuat salah."
"...."
"Jika Eros menolak mereka sejak awal, mengingat dia dan Hestia tidak pernah menikah, maka Eros tidak punya kewajiban, kan? Tapi Eros mencari dia. Justru yang Eros lakukan sudah terlalu baik."
Melia menatap dingin mereka.
"Melihat pemandangan sejenis ini membuatku ingin muntah. Bagiku semua tidak nyata. Aku jadi mau mengacaukannya."
Lalu wanita itu berbalik, memutuskan pergi.
__ADS_1
"Hatiku lebih gelap daripada hati anak itu, jadi tidak usah menggodaku. Keluarga bahagiamu bukan tipe mainan kesukaanku."
...*...
Eros baru benar-benar merasakan dadanya lepas.
Sungguh sulit dijabarkan. Ia merasa seperti terbebas dari ruangan pengap dan menyebalkan.
Dipeluk tubuh Yujerian dalam gendongannya, membawa anak itu pulang.
Dia kini benar-benar mendekap Eros, benar-benar membuka hatinya, benar-benar melepaskan segalanya dan membiarkan mereka saling terbuka.
Entah lukanya sudah membaik atau dia mengabaikan itu, tapi setidaknya Eros tahu. Kali ini, Yujerian tidak memaksakan diri. Tidak melakukan demi ibu atau demi Yuve.
Melainkan karena dia sendiri.
"Kita sudah sampai." Eros menepuk-nepuk punggungnya. "Bukankah itu temanmu? Shin dan Ken?"
Yujerian tidak sedang mau melepaskan. Hal itu membuat Eros paham, mengisyaratkan pada anak-anak itu untuk memaklumi dulu kondisi Yujerian.
Mereka menaikkan jempol mereka dan menyengir lebar.
"Ayo pergi temui Yuve."
Eros masuk ke dalam rumah, menemukan seluruh rombongan termasuk ibunya Melia duduk bersama wali Sahna dan Ibu.
Rion dan Astria mungkin pergi berjalan-jalan, sedangkan Hestia berada di kamar.
Melihat Eros masuk menggendong Yujerian, Hestia langsung tersenyum paham.
Yuveria bersembunyi takut-takut di lengan ibunya.
"Nii."
Suara itu membuat Yujerian berpaling. Dia menatap adiknya, lalu berpaling, memegang erat pakaian Eros.
Hestia mengusap kepala putrinya lembut. Anak ini merasa bersalah setelah mendengar Yujerian berkata dia egois.
Meskipun sikap Yujerian keterlaluan, memang tidak salah perkataannya bahwa Yuveria jarang memikirkan dia seperti Yujerian memikirkan Yuveria.
__ADS_1
Menyadari hal itu, Yuveria kini malu melihat kakaknya.
Namun menurut Hestia, Yujerian bukan marah pada adiknya. Dia mengeluh spontan saja.
"Ada sesuatu yang mau Yuve katakan, kan? Ayo."
Yuveria mencengkram tangan Hestia. Pipinya menggembung dan bibirnya bergetar. "Maaf sudah menjadi egois, Nii."
"...."
"Yuve tidak akan melakukannya lagi selamanya. Maafkan Yuve."
Tak mengejutkan jika hal selanjutnya adalah Yujerian melompat dari gendongan Eros, pergi memeluk adiknya.
"Wagamama de ii." Yujerian berbisik. "Tidak apa egois. Yuve memiliki aku, jadi egois pun tidak apa."
"Demo Yuje-nii wa—"
"Ii." Yujerian mungkin yang paling menyesali hal itu. "Tidak apa. Tidak apa melakukan hal untuk dirimu sendiri. Aku akan mengurusnya, jadi lakukan yang kamu mau."
Yuveria menangis.
"Gomen, Yuve," bisik Yujerian lagi. "Aku yang salah. Maaf. Mengatakan hal jahat, melukai Yuve. Aku yang bodoh. Yuve tidak bersalah.]
Hestia beranjak diam-diam, mengajak Eros keluar. Tapi sebelum itu, Hestia menarik Sahna dari tempat persembunyiannya, mendorong dia masuk.
"Pergilah." Hestia tersenyum lembut. "Sahna adalah pelengkap mereka."
Anak perempuan itu mengerjap, meski sejurus kemudian dia tersenyum tulus. Mungkin itu senyum tertulus yang pernah Hestia lihat darinya.
Terima kasih, itu yang dia katakan dengan bahasa isyarat. Bibi adalah ibu terbaik yang pernah aku lihat.
Hestia merasa ia ibu yang buruk, tapi senyumnya berkembang semakin manis menerima pujian itu.
Kini, ia rasa masalah terbesar hidupnya telah berakhir.
Lubang di hati kedua anaknya, tidak lagi menganga kosong.
...*...
__ADS_1